Ilustrasi Horizon Samudera / Freepik

Jakarta, Jurnalpublik.com – Mengalir saja saja, macam air yg tenang hingga nanti berjumpa laut nan luas. Terkadang kalimat tersebut terlintas dalam lintasan pikiran, setelah kita sedikit penat dengan dinamika kehidupan yang Allah berikan.

Mungkin memang nikmat bersantai dengan tenang, menerima yang segala sekitar berikan, tanpa perlu menentukan sikap diri bahkan melawan. Persis seperti air, jika miring ke kanan, maka ia akan mengalir ke kanan, begitu pula sebaliknya tak akan bertahan.

Tapi apakah seperti itu hidup harus dijalani? Bukankah lebihnya manusia adalah akal, sehingga bersikap menjadi kemampuan pembeda, ketimbang hewan yang hanya mampu ikuti naluri semata, jika lapar mencari makan, jika kenyang kemudian diam menunggu hingga lapar kembali datang.

Kita dicipta jadi manusia, bukan hewan, bukan pula benda mati seperti air, batuan apalagi kotoran. Hidup ini ujian, tentu dalam ujian ada soal yang butuh kita beri jawaban, bukan mendiamkan sambil berharap keajaiban.

Jika salah kita belajar, jika benar kita juga belajar, jika tak menjawab tak perlu masuk ruang ujian sedari awal, ya! kita masuk ruang ujian untuk menjawab soal, bukan tidur tiduran.

begitupula kehidupan, ini ujian, dan nilai kita bukan dari seberapa sulit pertanyaan, tapi dari apa jawab yang kita berikan, maka berhentilah menggerutui persoalan dan mulailah belajar mencari jawaban.

Tapi bukankah air dapat menjadi begitu perkasa, bak tsunami dan banjir bandang? Tentu, tapi apakah air penyebabnya? Tentu tidak, air hanya menerima segala stimulan yang lingkungannya berikan, banjir bandang sebab daerah resapan yang menghilang, tsunami karena gerakan tektonik lempeng bumi. Persis seperti dua orang yang bertikai sebab gerakan tektonik lempeng baper yang kemudian bergesekan.

Tak salah Rasulullah katakan bahwa orang yang kuat itu yang bisa tahan amarah, karena itu ujiannya manusia, ujian untuk tak jadi seperti air, ujian untuk tak sekedar mengalir mengikuti apa kata emosi dan apa mau sekitar, ujian untuk punya sikap dan respon sendiri terhadap situasi.

Bersikap itu sejak awal, setelahnya baru tawakkal. Mari jadi pribadi yg punya sikap. Surga neraka itu soal sikap.

Hadiyan Faris Azhar
PN KA KAMMI

Tinggalkan Komentar