Foto: Setya Novanto

Jakarta, Jurnalpublik.com – Posisi Ketua DPR RI yang saat ini disandang oleh Setya Novanto sedang terancam. Setya Novanto sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan e-KTP. Bahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyatakan bahwa Setya Novanto ditahan.

Memang di DPR RI berlaku bahwa seorang anggota DPR RI ataupun pimpinan DPR RI akan dinonaktifkan bila sudah menjadi terdakwa dan akan diberhentikan keanggotaannya sebagai anggota DPR RI bila sudah divonis bersalah oleh pengadilan.

Politisi Partai Golkar yang saat ini duduk sebagai anggota DPR RI cukup banyak dan layak menggantikan Setya Novanto. Sebut saja Aziz Syamsuddin, Agus Gumiwang Kartasasmita, Kahar Muzakir, Bambang Soesatyo, Zainuddin Amali. Perebutan Ketua DPR RI merupakan pertarungan yang bakal terjadi di internal Partai Golkar, dan itu sangat tergantung kepada hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub).

Untuk Aziz Syamsuddin, kemungkinan untuk mengganti Setya Novanto memiliki peluang besar. Aziz merupakan politisi Partai Golkar yang sudah malang melintang dengan pengalamannya dan sudah beberapa periode menjadi anggota DPR RI. Aziz merupakan orang dekat dari mantan Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie atau Ical.

Meskipun menjadi anggota DPR RI untuk beberapa periode, Aziz tidak begitu diterima oleh fraksi-fraksi dan lebih cenderung single fighter. Untuk menjadi pimpinan DPR RI, harus lebih luwes dan diterima semua fraksi yang ada di DPR RI. Komunikasi politik Aziz dengan partai politik bisa dibilang kurang intensif sehingga hubungan dengan partai politik yang ada kurang hangat.

Kelebihan lain dari Aziz adalah kalem dan tak banyak bicara. Tapi kelebihan itu tak menunjang untuk menjadi Ketua DPR RI karena Ketua DPR RI adalah spokesmen atau juru bicara DPR RI.

Sementara Agus Gumiwang Kartasasmita, yang saat ini menjadi sekretaris Fraksi Partai Golkar, tak jauh berbeda dengan Aziz. Agus yang merupakan anak dari politisi senior Golkar, Ginanjar Kartasasmita tak begitu banyak kiprahnya di DPR RI. Bahkan, waktu Ical menjadi Ketua Umum Golkar, ia pernah dipecat bersama Nusron Wahid. Agus Gumiwang dikenal sebagai orang dekat Agung Laksono bersama Zainuddin Amali.

Bambang Soesatyo atau lebih dikenal dengan Bamsoet memiliki peluang yang sama menggantikan Setya Novanto. Bamsoet sudah dua periode menjadi anggota DPR RI. Di internal Golkar, Bamsoet terbilang tidak ada musuh atau tidak masuk ke salah satu faksi di Golkar, lebih netral. Dengan posisi tersebut, ia lebih leluasa untuk bergerak.

Bamsoet terkenal dengan blak-blakannya, terbuka dan selalu mengkritik sesuatu yang salah, baik terhadap partai Golkar maupun kepada pemerintah. Tapi partai Golkar maupun pemerintah tidak pernah memberikan sanksi apapun.

Meskipun pernah berseberangan dengan Setya Novanto pada Munaslub Partai Golkar beberapa waktu lalu di Bali, namun Setya Novanto tidak mencampakkan Bamsoet seperti yang dilakukan terhadap Ahmadi Noor Supit, Ade Komaruddin. Bahkan Setya Novanto mempercayakan pimpinan Komisi III DPR RI kepada Bamsoet.

Yang lebih penting lagi untuk menjadi Ketua DPR RI, adalah terjadinya hubungan yang harmonis dengan pemerintah dan partai politik. Hubungan yang baik antara DPR dan pemerintah serta partai politik bisa memberikan dampak positif bagi DPR RI secara kelembagaan, pemerintah dan partai politik. Tentunya dampak positif bagi masyarakat Indonesia.

Zul Sikumbang

Tinggalkan Komentar