Keindahan Nusa Tenggara Barat

NTB, Jurnalpublik.com – Dikelilingi rimbunan pohon dan bentangan kampus UTS yang menghijau. Tunas-tunas muda PUI berkumpul, bercengrama penuh riang gembira. Tak ada kekakuan. Yang ada hanyalah optimisme menatap masa depan Indonesia dari bagian Indonesia timur. Menyiapkan diri sebagai tulang punggung umat yang kokoh sebagaimana gunung Olat Maras yang artinya bukit kebahagiaan yang menjadi dinding samping kampus. Laksana gelombang lautan Sumbawa yang landai, menyimpan sejuta pesonanya. Mereka dari Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, NTT dan NTB. Logat bahasa dan keunikan masing-masing menjadi identitas keragaman mereka.

Bukan perkara mudah mencari mahasiswa militan di jaman now. Mahasiswa yang memiliki cara berpikir jauh ke depan untuk bangsa dan ummatnya. Merasa bertanggung jawab atas masa depan serta kemajuan negaranya. Mereka benar-benar tengah menggandrungi kehidupan sebagai aktivis mahasiswa PUI di tengah sebagian mahasiswa pada umumnya terjerat kapitalisme, konsumerisme dan hedonisme. Terpapar kuatnya desakan mencari kehidupan yang instan tanpa proses dan mengambil jalur serba cepat. Jika dilihat seksama, duyunan yang menghadiri deklarasi HIMA PUI NTB adalah serpihan masa depan yang sedang dirajut.

HIMA PUI NTB ADALAH OASE MASA DEPAN INDONESIA

Hari ini (12/11) saya melihat banyak mahasiswa yang super mewah. Mewah dalam artian di tengah serba keterbatasan menjadi pelopor sekaligus penginspirasi saya (Kana Kurniawan) bersama Maman Abdurrahman (Ketua II PP Pemuda PUI). Ini adalah lawatan yang paling mengasyikan. Saya bisa belajar dari ananda Dede Yusuf (Jawa Barat), Rida Ramdania (Jawa Barat), Budi Hendrawan (Sumbawa, NTB), Mega Jayadi (Lombok, NTB), dan Hasan Abdurrahman (Jawa Barat) yang merdu tilawahnya. Begitupun antusiasme para peserta lain yang rela meninggalkan aktivitasnya demi mengikuti acara Training Intisab HIMA PUI sekaligus pelantikkan.

Tepatnya di samping masjid al-Kahfi kampus, gedung “Pertamina” menjadi saksi perjalanan HIMA PUI. Gedung baru dengan halaman hijau dan saung kecil akan menyimpan memori kuat atas kelangsungan insan-insan cemerlang dari belahan Indonesia. Kelak (insya Allah) akan ikut meringankan beban akhirat. Ia melihat betul orang-orang di dalam gedung itu menanamkan pesona ke-Islaman serta penghayatan terhadap “Intisab PUI”; melekatkan diri dalam “Ishlah al-Tsamaniyah”. Kredo PUI dan delapan perbaikan yang harus menjadi karakter maupun pola kerja yang saling berkesinambungan.

Memang mereka adalah mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang tersebar di tujuh (7) fakultas. Ragam disiplin keilmuan yang kelak akan membawa mereka kepada masa depan. Mulai dari profesi guru, akuntan, pengusaha, psokolog, teknokrat atau apa pun. Setidaknya didikan alam serta para dosen muda yang cemerlang dalam akademiknya akan membawa perubahan yang sangat signifikan. Wajar, kampus baru itu sudah sering disinggahi oleh para menteri, direktur BUMN dan pejabat-pejabat penting negara ini. Dari orang-orang yang datang, ilmu dan warisan khazanah kesuksesan senantiasa membayangi bagaimana “aku bisa melewatinya, apa tahapan aku harus menjadi teladan dalam segala disiplin ilmu.”

Demikian, dari berbagai inspirasi mereka mulai jalankan. Mereka berhimpun melalui “kelompok kecil” dari 1376 mahasiswa UTS. Berdiskusi, membedah probematika kebangsaan serta keilmuan yang menjadi landasan pengabdian kelak. Dan tidak mengherankan, oase yang dibangun Dr. Zulkiflimansyah ini adalah pembuktian UTS harus menjadi lokomotif perubahan di bagian Indonesia timur. Tidak cukup kampus saja, demi kemajuan lembaga keislaman, ia dirikan pondok pesantren dan SMK al-Kahfi. Bila kita memandang dari gunung Olat Maras, akan nampak kampus yang megah di antara gunung-gunung, sungai kecil di dalam kampus dan pohon-pohon yang rimbun.

Bicara NTB, bayangan kita akan terfokus pada sederat nama-nama besar, diantaranya Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang dianugerahi oleh presiden Jokowi sebagai pahlawan nasional, pendiri Nahdlatul Wathan (NH) organisasi masyarakat Islam berbasis di NTB; Din Syamsudin (Muhammadiyah); Fahri Hamzah (Wakil DPR RI); Dr. Zulkiflimansyah (DPR RI); Ahmad Thib Raya (Akademisi UIN Jakarta); Hamdan Zoelva (Mantan Ketua MK RI, Ketua Umum Syarikat Islam); dan masih banyak lagi. Mereka selalu menjadi bahan rujukan dalam bidang sosial, politik, hukum, keagamaan dan kenegaraan.

Kehadiran HIMA PUI dari tanah kelahiran tokoh-tokoh besar seperti itu akan memiliki referensi besar menjadi orang besar. Orang yang mampu mengkapitalisasi diri dan adaptif terhadap segala proyeksi kemajuan zaman di segala sektor. Ia melakukan lompatan jauh ke depan daripada mundur dari serba keterbatasan; ia lebih suka menerjang badai di samudera daripada berdiam diri di tepian pantai. Karakter orang NTB bisa dilihat dari kegigihan mereka terhadap apa yang menjadi keyakinannya. Tanpa menyerah sekalipun harus meninggalkan sejuta pesona di setiap sudut daerahnya.

HIMA PUI NTB harus belajar membangun cakrawala berpikir yang cangggih, tidak konvensional. Membawa arus baru dalam kehidupan kampus. Panji-panji Intisab PUI dan Ishlah Tsamaniyah menjadi nafas baru pergerakan mahasiswa. Tidak sungkan membaca para petualang dari aktivis organisasi kemahasiswaan lain yang terus mewarnai dinamika kehidupan bangsa. Serta menjadikan organisasi sebagai sarana eksperimen diri bersama anggotanya: berjejaring, meningkatkan kapasitas dan menghimpun kekuatan demi kejayaan ummat dan bangsa.

Selamat bekerja, selamat menikmati perjalanan sebagai aktivis pergerakan !!!

Kana Kurniawan
(Pjs. Ketua Umum PB HIMA PUI & Sekretaris Jenderal Pemuda PUI)

 

Tinggalkan Komentar