Ayah dan putri - putrinya

Jakarta, Jurnalpublik.com – Selama ini apakah Kita sebagai Ayah memahami apa yang diinginkan anak-anak Kita. Kesibukan Ayah adalah mencari nafkah, tetapi banyak peran-peran Ayah daripada hanya sekedar mencari nafkah.

Sebagai seorang Ayah Saya menyesal anak perempuan Saya belajar naik sepeda bukan dari Ayah-nya tetapi dari sepupu laki-lakinya. Belajar naik sepeda bagi anak adalah pengalaman yang berkesan dan tersimpan dalam ingatan dalam jangka waktu yang panjang. Kalau Saya tanyakan bagaimana pengalaman Anda belajar sepeda, bisa dipastikan Anda akan bercerita dengan lancar dan detailnya ketika pertama kali Anda belajar naik sepeda.

Banyak hal-hal yang sederhana yang diinginkan oleh anak terhadap Ayahnya, tapi kadangkala Kita sebagai Ayah tidak mampu memenuhinya. Mengajarkan mengendarai sepeda itu hanya salah satu. Masih banyak lagi keinginan-keinginan sederhana anak terhadap Ayahnya, misal : memancing ditemani Ayah, meminta Ayah menonton penampilannya di sekolah, bermain catur atau halma bersama Ayah, menonton film kesukaan bersama Ayah, belanja buku bersama Ayah, makan jajanan pinggir jalan bersama Ayah, atau masih banyak lagi keinginan-keinginan sederhana anak terhadap Ayahnya.

Sudahkah Kita sebagai Ayah menyediakan waktu-waktu utamanya untuk anak-anak Kita? Keinginan sederhana anak itu tidak bisa dinilai dengan uang atau harta. Dia adalah kepingan-kepingan puzzle kepribadian anak yang sedang disusun agar menjadi gambaran kepribadian yang utuh, ada figure Ayah yang membantu meletakkan puzzle-puzzle itu pada posisi yang benar, dan itu tidak bisa ditebus dengan apapun.
Memang tidak semua keinginan anak kita turuti, tetapi kemampuan Kita memahami dan berempati dengan apa sesungguhnya yang diinginkan anak itu adalah suatu kehebatan dan prestasi bagi seorang Ayah.

Kadangkala yang anak-anak inginkan tidak bisa dinilai dengan materi atau kadangkala tidak terungkap dengan kata-kata, tetapi kepekaan seorang Ayah dapat menangkapnya dari gesture tubuhnya, dari raut dan mimik wajahnya juga dari balik kata-katanya. Makna dibalik kata-kata adalah emosi yang tersembunyi dari anak tentang keinginan-keinginannya.

Ayah yang tidak mampu menangkap emosi jiwa anak adalah Ayah yang perlu terus mengasah kepekaan jiwanya. Rasulullah SAW pandai menangkap ini dari istrinya : Rasulullah SAW memahami kalau Aisyah sedang ridho dengan dirinya maka dia akan memanggil Rasulullah SAW dengan kata Yaa Rasulullah, tetapi ketika Aisyah sedang marah atau ada sesuatu yang kurang berkenan di diri Rasulullah SAW maka Aisyah memanggil Rasulullah SAW dengan panggilan Yaa Muhammad. Panggilan Yaa Rasulullah dan Yaa Muhammad adalah panggilan dengan obyek yang sama, yang membedakan adalah emosi dibalik panggilan itu.

Itu pula yang perlu seorang Ayah lakukan terhadap anaknya. Memahami emosi jiwa dibalik kata-katanya, itu bukan pekerjaan mudah tetapi itu juga bukan pekerjaan yang mustahil untuk dikerjakan, asal Ayah mau belajar dan terus bertumbuh bersama anak yang Kita cintai.

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar