Ayah dan putri - putrinya

“Ayah ngga ngerti yang Aku mau sih, Ayah ngga ngerti perasaanku sih…”
-My Girl-

Jakarta, Jurnalpublik.com – Mendidik generasi Z dari generasi tarbiyah ini membutuhkan “mindset” yang “quantum” (melompat). Melompat fikiran, zaman dan budaya. Bagi seorang Ayah yang memasuki dunia tarbiyah akhir 80-an atau awal 90-an dan istiqomah sampai sekarang maka yang Kita hadapi adalah anak-anak generasi y atau z yang beda fikiran, beda zaman dan beda budaya.

Memang mereka dilahirkan dari Ayah tarbiyah, tetapi mereka menemukan beragam fikiran, zaman dan budaya yang jauh dari fikiran, zaman dan budaya dimana Ayah mereka lahir dan berinteraksi dengan tarbiyah.

Kita sebagai Ayah memang tidak pernah menyiapkan diri yang cukup dalam memasuki tugas dan peran sebagai Ayah. Kalau untuk menjadi dokter dibutuhkan kuliah 5-6 tahun, menjadi psikolog dibutuhkan kuliah 6-7 tahun tetapi menjadi Ayah tidak ada kampus dan mata kuliahnya, padahal menjadi Ayah adalah tugas seumur hidup. Ketika kita ke rumah sakit, kita masih bisa memilih dokter yang akan kita pilih karena kemampuannya, ilmunya atau pengalamannya, tetapi anak-anak Kita tidak pernah bisa memilih kepada siapa mereka dilahirkan, siapa Ayah mereka. Anak-anak Kita menerima taqdir mereka dilahirkan oleh Kita, seandainya sebelum dilahirkan mereka boleh memilih untuk dilahirkan oleh siapa mungkin saja mereka akan menolak Kita menjadi Ayah mereka karena minimnya kemampuan, ilmu dan pengalaman Kita mendidik mereka.

Kita sebagai Ayah mereka adalah “given” dari Allah SWT, mereka adalah amanah dari Allah SWT kepada Kita. Tugas Kita adalah mengoptimalkan semua apa yang Kita punya untuk menuntaskan amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita untuk mengantarkan anak-anak Kita bahagia dunia-akhirat.

Membentuk Mindset adalah langkah awal seorang Ayah dalam mendidik generasi Z Tarbiyah. Mindset adalah pikiran mendasar dalam Ayah mendidik anak, dia adalah akumulasi dari pengetahuan dan pengalaman Kita selama hidup. Dia bisa menyatu dengan alam bawah sadar kita dan sangat mungkin terefleksi secara sadar dalam sikap dan perilaku Kita sebagai Ayah.

Mindset ini penting, karena menjadi dasar sikap dan perilaku Kita kepada orang termasuk kepada anak Kita. Mindset yang mendasar yang harus menjadi mindset Kita dalam mendidik generasi Z Tarbiyah adalah memahami cara berfikir anak, cara merasa anak dan cara anak bersikap dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Anak sebagai “pusat” interaksi.

Sikap dan perilaku anak lahir dari interaksi mereka dengan diri dan lingkungannya. Bagi Kita Ayah yang lahir bukan di era gadget, bukan di era teknologi dan internet jauh berbeda dengan anak-anak Kita yang lahir di era gadget, teknologi dan internet. Zaman dan budaya yang melingkupi anak-anak Kita jauh bereda dengan zaman dan budaya yang melingkupi Kita lahir. Dalam memahami anak-anak Kita terutama generasi Z Tarbiyah tidak bisa dengan ukuran Kita di masa lalu. Menilai sikap dan perilaku anak-anak Kita tidak bisa menggunakan kacamata masa lalu atau masa kanak-kanak Kita, beda zaman dan beda budaya.

Mindset Kita yang harus berubah, merubah mindset tidak merubah dasar-dasar nilai yang Kita anut, tetapi merubah cara kita menyampaikan nilai-nilai yang Kita anut kepada anak-anak Kita dengan cara-cara yang mereka pahami, dengan cara-cara yang mereka inginkan, bukan dengan cara-cara yang Kita pahami dan inginkan.

Pusat perhatiannya adalah mereka bukan “Kita”. “Ayah ngga ngerti yang Aku mau sih, Ayah ngga ngerti perasaanku sih…” itu adalah kata-kata yang sering keluar dari anak-anak generasi Z Tarbiyah kepada ayahnya. Mereka ingin dimengerti, dengan cara mereka dan keinginan mereka. Memang secara ekstrim bukan mereka yang pegang kendali dalam proses interaksi orangtua dan anak, tetapi lebih pada memahami pendekatan-pendekatan apa dan cara-cara apa yang mereka inginkan sehingga Kita sebagai orang tua bisa masuk ke pintu hati mereka.

Kadangkala anak-anak generasi Z tarbiyah ini bukan menolak “content” atau “value” dari orangtua mereka, tetapi merekan kadangkala hanya menolak “cara” orangtua mereka men-“delivery” nilai-nilai kepada mereka.

Kita sebagai Ayah harus senantiasa “open-mind” terhadap nilai-nilai dan budaya anak selagi nilai-nilai dan budaya itu tidak melanggar syariat Allah SWT. Pendekatan fiqih syariah Kita harus lebih luas dengan berbagai macam perspektif, sehingga dalam perspektif anak nilai-nilai Islam tetap “kekinian” dan bisa seiring dengan zaman mereka.

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar