Ayah dan putri - putrinya

“Ayah dengerin Aku dulu, jangan marah atau ceramah duluan!!!”
–My Girl-

Jakarta, Jurnalpublik.com – Pernyataan diatas adalah pernyataan yang sering di dengar oleh seorang Ayah ketika sedang berkonflik dengan anak. Mungkin itu hikmah ada kata bijak ; “Allah SWT memberikan manusia dua telinga dan satu mulut, agar Manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Kata hikmah ini juga yang perlu di terapkan oleh para Ayah kepada anak-anak mereka.

Mendengar adalah pekerjaan mudah, tetapi mendengar dengan segala emosi dan merespon segala yang didengar dengan proporsional itu adalah pekerjaan yang butuh kebesaran jiwa dan kesabaran lebih.

Pada dasarnya anak ingin di dengar ucapannya beserta emosinya. Ada emosi dan perasaan dibalik kata-kata anak, dan kadangkala itu yang tidak sampai dan bisa kita dengar dengan segala emosi yang kita punya.

Mendengar aktif pembicaraan anak minimal membutuhkan dua hal : pertama adalah kesiapan waktu dengan menanggalkan semua atribut (hp, laptop dll) dan juga semua pekerjaan/aktivitas yang bisa menginterupsi pembicaraan (buku, sncak atau minuman). Kedua adalah kesiapan emosi dalam mendengar semua pembicaraan anak dan mencoba menyelami emosi atau perasaan dibalik pembicaraan anak.

Mendengarkan anak adalah mendengarkan sepenuh hati, jangan merespon pembicaraan anak secara spontan apalagi menginterupsi pembicaraan. Mendengar adalah mendengar, menampilkan bahasa tubuh atau kata-kata yang merefleksikan Ayah sedang mendengar. Misal mencondongkan telinga atau badan ke arah anak, merespon dengan antusias, misal : oh begitu nak, beneran itu nak, segitunya ya, luar biasa, Masya Allah, iya..iya…atau kata-kata lain yang sifatnya menginformasikan bahwa Ayah sedang mendengar aktif dan antusias apa yang anak bicarakan. Dengan cara itu secara psikologis anak akan merasakan bahwa semua yang dia bicarakan adalah “penting” dan “menarik” buat Ayah mereka.

Ketika ada pernyataan anak yang membuat marah atau kecewa maka jangan direspon pada saat itu, tahan emosi sejenak, pahami dengan baik situasinya, ada saatnya mendengar dan ada juga saatnya merespon, jangan di campur, karena secara psikologis anak yang sedang bercerita/berbicara maka situasi psikologisnya adalah ingin menyampaikan pesan dan ingin di dengar.

Setelah anak selesai menyampaikan pembicaraan, maka jangan coba merespon dulu, coba dalami dan cari keyword-nya, keyword itu adalah kunci masuk ke dalam emosi jiwanya. Dalam mendalami anak, jangan sekali-kali menggunakan kalimat Tanya ; “mengapa”, karena pertanyaan “mengapa” adalah pertanyaan yang jawabannya sangat luas dan kadangkala anak tidak bisa menjawabnya, gunakan kata Tanya atau kata-kata yang sifatnya mendalami. Misalnya : “tadi kamu bilang kamu kecewa, kecewa dengan siapa kalau ayah boleh tahu” , “tadi kalau Ayah tidak salah dengar kamu sedang suka sama seseorang kalau boleh tahu siapa? Kok bisa suka memang ganteng? Sholeh? , atau pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menegaskan persepsi Ayah agar Ayah tidak salah menilai apa yang dikatakan anak.

Mendengarkan anak adalah pekerjaan yang indah bagi seorang Ayah, kadangkala tanpa terasa air mata menetes, tidak terasa anak yang kita besarkan menanjak dewasa, tumbuh kepribadian dan kecerdasannya serta dinamis emosinya. Bagi anak perempuan, peran Ayah penting, kalau ibu memberikan rasa nyaman bagi anak perempuan maka posisi Ayah adalah memberikan rasa aman. Kalau Ibu berfungsi menjelaskan, maka Ayah berfungsi menenangkan.

Di masa pubertas maka seorang Ayah juga berperan penting, Ayah yang akan menjelaskan tentang masa-masa pubertas bagi anak laki-laki, Ibu yang memberikan kenyamanan dan harga diri. Untuk anak perempuan, Ibu yang akan menjelaskan masa-masa pubertas, Ayah yang memberikan pemahaman tentang harga diri.

Mendengarkan anak adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh Ayah, mungkin tidak semua orang pandai berbicara, tetapi semua orang bisa pandai mendengar selama dia memiliki kemampuan fisik mendengar (tidak tuli). Belajar dan terus belajar mendengarkan anak adalah ikhtiar terus menerus, bahkan sampai mereka berkeluarga maka keterampilan mendengarkan anak tetap dibutuhkan.

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar