Menjelang siang hari itu saya menyusuri jalan keluar komplek untuk naik angkutan menuju stasiun. Sebelum keluar komplek saya bertemu dengan para pegawai dinas kali. Mereka berada didalam kali dan bermain air macam anak kecil. Saya berfikir, tak patut sekali aparat pemerintah ini, sudah digaji rakyat malah bermain disaat bekerja. Ketika saya kembali sore harinya saya melihat kali bersih, tidak seperti pagi tadi. Lalu saya berfikir lebih lagi, pagi tadi saya melihat hanya sekilas dan saya merasa punya hak untuk menghukum pegawai dinas kali itu tidak baik. Padahal mereka mungkin hanya bermain 5 menit dan bekerja membersihkan kali 5 jam. Saya melihat hanya sekilas dan sambil lalu, tak berhak saya menilainya.

Seperti juga yang terjadi dengan Setya Novanto, ketua DPR RI. Saya tidak berada di pihaknya. Tapi yang pasti saya juga tidak berada di pihak menghujatnya. Karena saya tidak punya banyak kapasitas untuk menilainya. Kita hanya melihat sambil lalu. Bahkan seseorang yang menulis statusnya pun tidak bisa kita nilai sepenuhnya. Apalagi untuk yang tidak memperoleh pernyataan langsung.

Terkait KPK, kita sangat tahu bahwa lembaga anti rasuah ini memang tebang pilih, sampai hari ini kasus besar tak pernah terungkap padahal itu bisa membantu negara yang telah dirugikan. Sedang kasus yang bisa diramaikan di media sosial yang cuma puluhan juta diviralkan sampai keluarga korban malu mengakuinya sebagai keluarga.

Saya teringat seorang petinggi PKS mengatakan bahwa tidak masalah ditangkap meskipun tidak salah, tapi dipermalukan di media diarak beramai-ramai membuatnya menangis memikirkan perasaan anaknya yang masih bersekolah.

Dunia sungguh semakin kejam, siapa saja bisa mencaci orang, terlepas benar atau salah, bukan urusan. Kita sudah semakin jauh dari agama. Tapi selalu berlindung mengaku melindungi agama. Tak takutkah bila Tuhan marah dan malah menimpakan musibah yang kita ejekkan kepada kita. Semoga tidak.

Tinggalkan Komentar