Senyum Anis Matta dalam agenda nonton bareng Film Wage

Jakarta, Jurnalpublik.com – Opshid Media bersama politisi senior Anis Matta menggelar kegiatan nonton bareng Film Wage di Teater XX1 Plaza Senayan Jakarta , Kamis (16/11). Sebanyak 100 penonton hadir bersama kegiatan nobar yang juga dihadiri oleh para pemain film tersebut. Dalam kesempatan ini, Pemred Jurnal Publik (Zahra) melakukan wawancara khusus dengan Anis Matta terkait Film yang membuka wawasan kita tentang sejarah Bangsa Indonesia sebagai berikut :

Jurnal Publik : Salam, Pak Anis, minta waktunya sebentar untuk wawancara terkait Film Wage.

Anis Matta : Silahkan

Jurnal Publik : Setelah menonton, bagaimana tanggapan bapak mengenai Film Wage ?

Anis Matta : Saya kagum dengan film ini , terutama dengan kemampuan mengeksplrosasi proses kreativitas wage dalam menciptakan lagu itu. karena ini adalah momentum paling penting dalam sejarah Indonesia yang saya sebut sebagai momentum puncak dari gelombang pertama Indonesia, yaitu proses menjadi sejarah Indonesia. Sumpah Pemuda ini adalah puncak dari proses menjadi Indonesia yang berarti kita lahir sebagai bangsa terlebih dahulu sebelum menjadi negara merdeka dan yang diproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945. Dan ini berarti bahwa Indonesia sosial blending yang lama. Artinya proses peleburan sosial yang lama, hasil dari sekian ratus etnis, dan saya kira yang paling sulit dalam meleburkan sistem politik lama kerajaan kecil menjadi satu bangunan baru. Yang lebih rumit lagi adalah memilih satu bahasa.

Jurnal Publik : Betul pak, mengenai bahasa nasional, mengapa bisa sampai lebih sulit daripada lainnya ?

Anis Matta : Bahasa Indonesia dipilih itu, karena inilah bahasa sederhana diantara bahasa daerah yang ada, sehingga paling mudah dipelajari semua rakyat Indonesia yang sedang berikrar menjadi bangsa baru dengan identitas baru. Itu artinya bahwa, dengan memilih bahasa Indonesia, kan kita menjadi satu bangsa tetapi dengan dua bahasa masing – masing, yaitu bahasa daerah dan bahasa nasional, kenapa bukan bahasa jawa, bahasa bugis, bahasa sunda dan seterusnya, ya mungkin jumlah penduduknya lebih banyak, karena bahasa Indonesia punya kekhasan yang paling sederhana dan paling mudah dipelajari.

Jurnal Publik : Pertanyaan selanjutnya ini tidak bermaksud membicarakan agama lain, namun selama ini kita diberikan informasi bahwa Wage adalah seorang nasrani, tapi di film ini Wage adalah seorang muslim. Kenapa bisa terjadi seperti itu, pak ?

Anis Matta : Saya kira begini, karena proses penulisan sejarah kita ini belum dilakukan secara sistematis dengan sponsor kuat dari pemerintah, hampir semua sejarah kita kan sumbernya masih lebih banyak dari sejarahwan asing, belum ditulis oleh sejarahwan kita sendiri. Dan belum ada satu usaha yang bersungguh sungguh, untuk menulis ulang seluruh sejarah kita sebagai sebuah bangsa, saya kira ini tantangan terbesar untuk kita nanti kedepan, kalau kita ingin memperkuat identitas kita sebagai bangsa, kita perlu melakukan usaha yang lebih besar untuk menulis ulang seluruh sejarah kita sebagai bangsa.

Jurnal Publik : Satu lagi pak, kondisi zaman pra kemerdekaan menghasilkan orang – orang seperti wage, jika konteksnya hari ini, apa yang bisa dihasilkan ?

Anis Matta : setiap zamannya itu ada pahlawannya sendiri sendiri, tapi seseorang kan baru kita ingat sebagai pahlawan setelah dia pergi, setelah dia meninggal, baru kita bisa mengukur sebesar apa kontribusinya untuk kehidupan kolektif kita sebagai bangsa, kita mengenang wage ini sekarang lebih baik setelah dia pergi, karena sekarang kita mengerti bagaimana lagunya itu mewakili proses kita menjadi bangsa Indonesia itu.

Jurnal Publik : Terimakasih Pak Anis.

 

Tinggalkan Komentar