Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Di zaman now, Indonesia banyak tertinggal untuk pengembangan ekonomi syariah jika perbandingannya dengan negara-negara lain. Dalam paparannya di acara milad yang ke-10 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Barokah Dana Sejahtera (14/10), Muhammad Bekti Hendrianto memaparkan beberapa data perkembangan ekonomi syariah di dunia.

“Dalam industri Halal Food kita masih tertinggal dengan Malaysia. Di industri keuangan Islam, Indonesia berada di urutan ke sembilan dan Uni Emirat Arab berada di urutan pertama. Industri Halal Travel lagi-lagi kita kalah oleh Malaysia. Di industri fashion muslim, media dan tempat wisata halal, serta obat-obatan dan kosmetik halal masih didominasi oleh Uni Emirat Arab”, papar Bekti yang juga peneliti di Pusat Pengkajian dan Ekonomi Islam (P3EI) UII.

“Dengan potensi jumlah mayoritas pemeluk agama Islam, mestinya Industri ekonomi syariah di Indonesia bisa mengungguli dunia-dunia lain. Namun kenyataannya masih jauh dari harapan. Untuk industri makanan halal saja, UKM masih sulit mendapatkan sertifikat halal dari badan yang berwenang. Jika digabungkan, keselurahan aset bank syariah di seluruh Indonesia saja, prosentasenya masih sangat kecil sekali jika dibandingkan dengan bank konvensional. Jumlahnya kurang lebih sekitar tujuh persen saja. Semoga ke depan Pemerintah dan pelaku ekonomi syariah lebih serius lagi dan bersinergi menggarap industri ekonomi syariah”, ungkap Bekti yang juga seorang Dosen di Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta.

Pembicara yang lain, Ustadz Sunardi Syahuri mengatakan, “Bisnis ekonomi syariah juga harus dikelola secara profesional, dengan perhitungan yang cermat. Jangan sampai dikelola dengan perhitungan yang salah. Selain barokah yang ingin didapat, kita juga harus ikhtiar dengan cara yang benar.”

Ustadz Sunardi Syahuri yang juga pemegang saham sekaligus Dewan Pengawas Syariah BPRS Barokah Dana Sejahtera (BDS) juga berharap banknya ke depan bisa berkembang semakin pesat di Yogyakarta.

Edi Sunarto, Direktur Utama BPRS BDS dalam sambutannya di acara tersebut menyampaikan data perkembangan keuangan kantornya. “Sekarang jumlah total asset BPRS BDS mencapai 91 miliar per Oktober 2017, dengan non performing finance sebesar 5.6% dan jumlah dana pihak ketiga sebesar 80 miliar. Mayoritas yang didanai di BPRS BDS juga adalah kelompok UKM ritel. Di tahun 2018, BPRS BDS akan meresmikan kantor cabang di Kulon Progo dan merolakasi kantor kas di Kalasan ke tempat yang lebih besar. Ia juga menargetkan di tahun 2018 asset BPRS BDS sebesar 110 miliar”, ungkapnya. Edi juga berharap nasabah BPRS Barokah Dana Sejahtera bisa mencapai kesuksesan bersama banknya, seperti slogan atau tagline BPRS BDS selama ini. []

 

Tinggalkan Komentar