Keluarga Alumni Kammi, Fahri Hamzah dan PKS

Jakarta, Jurnalpublik.com – 12 November 2016, Keluarga Alumni Kammi lahir sebagai organisasi. Fahri Hamzah secara aklamasi terpilih sebagai Presiden Keluarga Alumni Kammi.

Lahirnya Keluarga Alumni Kammi (KA KAMMI) adalah refleksi panjang dan pergulatan pemikiran para aktivisnya dari waktu ke waktu.

Dengan berbagai latar belakang pendidikan, profesi dan juga afiliasi politik, pergulatan pemikiran tentang wadah alumni Kammi ramai di grup-grup WA alumni.

Pemecatan Fahri Hamzah oleh PKS akhirnya juga masuk menjadi instrumen pergulatan pemikiran, maklum lumayan banyak alumni Kammi yang berafiliasi ke PKS termasuk Fahri Hamzah Ketua KAMMI pertama.

Setidaknya pemecatan Fahri Hamzah oleh Pimpinan PKS yang kemudian berlanjut ke pengadilan membawa ketajaman dan diskusi yang lumayan memanas tentang keberadaan wadah alumni KAMMI.

Secara pemikiran ada 3 arus pemikiran di alumni KAMMI saat itu :

Pertama; alumni yang pks lover, mereka loyal terhadap PKS dan setuju bahwa Fahri Hamzah bukan bagian dari PKS

Kedua; alumni loyalis Fahri Hamzah, yg menganggap pemecatan Fahri Hamzah adalah kesalahan PKS dan akhirnya Fahri Hamzah dimenangkan oleh pengadilan

Ketiga; netral dan obyektif bahwa wadah alumni tidak terkait dengan kasus PKS dan Fahri Hamzah

Arus pemikiran pertama akhirnya membentuk wadah alumni sendiri di Bandung atau yang dikenal dengan Kongres Bandung. Sedangkan arus pemikiran kedua buat Kongres di Jakarta yang akhirnya terpilih secara aklamasi Fahri Hamzah sebagai Presiden Alumni KAMMI.

Kongres Jakarta terlebih dahulu dilaksanakan dan langsung di buka oleh Wapres Jusuf Kalla dan berbentuk kepemimpinan tunggal, sedangkan Kongres Bandung dilaksanakan setelah Kongres Jakarta dan berbentuk Presidium.

Arus pemikiran ketiga terbagi ada yang ikut kongres di Jakarta dan ada juga yg ikut di Bandung, bahkan ada yang ikut keduanya.

Fahri Hamzah tidak bisa dipisahkan dari nama KAMMI, oleh sebab itu Kongres Jakarta mendaulat Fahri Hamzah sebagai Presiden KA KAMMI. Ini bagian dari konsistensi Fahri Hamzah untuk mengawal agenda-agenda reformasi. 1998 Fahri Hamzah mengawal agenda reformasi di wadah ekstra-parlementer, pasca reformasi Fahri Hamzah mengawal agenda reformasi lewat parlemen. Konsisten mengawal agenda reformasi.

Ada dua wadah Keluarga Alumni Kammi bukanlah perpecahan, tapi lebih pada fastabiqul khoirot dalam kebaikan dan taqwa. Masing-masing punya pilihan jalan politik dan kontribusinya masing-masing. Bahkan apabila ada wadah-wadah lain lahir dengan atas nama alumni Kammi boleh-boleh saja asal dengan motif kebaikan dan saling bersinergi bukan saling menegasikan. Dalam suasana demokrasi dan kebebasan ini, tiap organisasi saling berkompetisi nyata untuk membuktikan eksistensi dan kontribusinya, gaya-gaya “klaim” kebenaran atau amal nyata sudah bukan zaman now lagi, karena publik sekarang terbuka untuk menilai dan tidak bisa dibohongi lagi.

Namun campur tangan PKS terhadap sepak terjang Alumni Kammi begitu terasa. Kongres Alumni Kammi di Jakarta di persepsi oleh Pimpinan PKS adalah bentuk pembangkangan terhadap perintah Pimpinan PKS untuk menjauhi Fahri Hamzah dari kader-kader PKS.

Maka sayup-sayup terdengar tekanan kepada kader-kader PKS untuk tidak boleh menghadiri Kongres Keluarga Alumni KAMMI di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Kader-kader PKS yang juga kader atau alumni KAMMI diperintah oleh para Murobbinya untuk tidak hadir di Kongres Jakarta. Namun peserta Kongres ternyata bertambah banyak, semakin di larang maka semakin antusias akan hadir, tercatat yg hadir 2500 orang bahkan sampai harus menyediakan layar di luar ballroom.

Lahirnya Keluarga Alumni Kammi sebenarnya adalah refleksi dari keinginan alumni Kammi memiliki entitas sendiri tidak dibayang-bayang oleh PKS.

Walaupun alumni banyak kader PKS tetapi bukan serta merta aktualisasi politiknya kemudian diikat dan dibatasi oleh PKS, apalagi dalam persoalan DPP PKS vs Fahri Hamzah ternyata DPP PKS kalah telak bahkan sampai kena denda 30 miliar. Dalam aspek ini saja, PKS banding dan tetap bersikeras bahwa keputusannya benar walaupun secara sementara dibatalkan oleh pengadilan.

Alumni Kammi adalah orang-orang yg hidup di zaman now, mereka adalah orang-orang yang punya sejarah masa lalu tetapi juga membaca masa depan. Zaman yg mereka hadapi adalah zaman millenial yg harus mereka adaptasi sebagai tempat mereka hidup dan berkontribusi.

Demokrasi yang mereka hadapi adalah demokrasi millennial, demokrasi yang mereka perjuangkan berdarah-darah yang kemudian menemukan harapannya di zaman now. Tetapi di belakang mereka ada orang-orang tua yg membelenggu dengan segala aturan yang tidak demokratis.

Sejak kapan mendampingi Fahri Hamzah menjadi klausul pelanggaran disiplin dan resiko dipecat? Sejak kapan mendirikan organisasi alumni KAMMI sebagai pelanggaran disiplin organisasi di PKS? Sejak kapan menjadi pengurus keluarga alumni KAMMI merupakan pelanggaran AD/ART partai???

Kedatangan Fahri Hamzah ke daerah-daerah adalah kedatangan seorang pejabat negara, karena Fahri Hamzah masih menjabat Wakil Ketua DPR RI. Fahri Hamzah juga masih ikut taklim rutin kader pekanan sebagai syarat menjadi kader PKS. Fahri Hamzah juga masih membayar infaq wajib kader sebagai kewajiban menjadi kader PKS. Setelah pemecatan Fahri Hamzah dibatalkan pengadilan maka sampai hari ini tidak ada selembar surat pun yg menyatakan Fahri Hamzah bukan kader PKS.

Fahri Hamzah tidak bisa dilepaskan dari KAMMI  dan PKS karena dia adalah bagian dari pendirinya. Memaksa atau melakukan upaya-upaya memisahkan Fahri Hamzah dari KAMMI dan PKS sama saja memisahkan orang dari sejarah masa lalunya.

Keluarga Alumni Kammi yang Presiden-nya Fahri Hamzah adalah bangunan organisasi sendiri dengan narasi dan caranya sendiri. Keluarga Alumni KAMMI bukanlah embrio partai baru, dia mencoba menjadi entitas baru dengan cara berpolitik baru, dengan daya dukung sendiri yg mencoba berkontribusi pada bangsa.

Icon-nya adalah Fahri Hamzah, yang kita nobatkan menjadi pengawal demokrasi Indonesia. Fahri Hamzah adalah icon baru dalam perpolitikan nasional, yang mengawal demokrasi dengan suara lantang, yang melawan sifat otoritarian dalam suasana demokrasi. Di belakang Fahri Hamzah sedang mengatur barisan panjang anak-anak muda millenial yang siap ikut gerbong kereta demokrasi.

Generasi baru demokrasi Indonesia sedang dibangun dan ditata barisannya, benih-benih otoriter tidak boleh hidup dalam bangunan demokrasi Indonesia. Para demonstran 1998 sedang gelisah dan pasang kuda-kuda untuk kembali ke jalanan, ketika melihat teman seperjuangan yang sedang mengkhianati perjuangan. Generasi millenial di hipnotis dengan zaman digital, tetapi mereka adalah orang-orang merdeka yang bisa disadarkan bahwa otoritarian tidak boleh lagi hidup, kebebasan yang mereka nikmati bisa hilang ketika mereka diam dengan upaya membangun kembali otoritarian.

Gerbong pengawal demokrasi sedang di tata barisannya, masih banyak barisan kosong yang harus diisi…anak-anak muda bangkitlah dan masuklah barisan ini…

Merdeka Bro!

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar