Jakarta, Jurnalpublik.com – Habis subuh, saya kabarkan ke istri, bahwa tikus besar itu sudah mati. Istri terlihat senang. Dia memang bukan penganut sufi, yang jangankan tikus mati, apalagi di bunuh, tikus berisik saja mengganggu tidur, dia langsung introspeksi diri tentang dosa yang sudah dilakukannya siang tadi.

Kadang, asal semua masalah, memang diri sendiri, bukan pihak lain. Kalaupun dari pihak lain, anggaplah itu ujian. Maka, perlu bersabar dan syukur, sekaligus. Karena itu akan menaikkan kelas diri sendiri. Tapi, apa bisa semua begitu? Masih mending, daripada menyalahkan pihak lain.

Istri saya memang bukan sufi. Dia istri biasa seperti istri-istri lainnya. Malah dia bertanya bagaimana saya menghabisi tikus besar itu. Saya bilang: “Saya menutup pintu dapur, lalu terlibat pertarungan satu lawan satu.” Memang tidak mudah. Tapi saya berhasil keluar sebagai pemenang.

Tangkai sapu berlumur daŕah. Keringat keluar dari pori-pori saya, terutama kening, leher, dan tangan. Nafas saya ngos-ngosan, dada turun naik, dan mulut sedikit terbuka seperti keletihan.

Wajah istri saya tampak berbinar-binar mendengarkan cerita saya. Dia seolah-olah masuk dalam cerita itu. Dia tahu betul bagaimana sulitnya medan dapur kami. Pertarungan itu pasti seru. Beberapa lubang kecil bisa dijadikan tempat melarikan diri. Saya menceritakannya dengan detail.

Dia menyimak dan antusias. Terus-terus, apalagi-apalagi. Seberapa besar sebetulnya tikus besar itu? Seberapa panjang pula, dari ekor hingga kepala? Bagaimana caranya, saya menghabisi, mengambil, lalu membuangnya? Bulunya lebat atau telah rontok? Kepalanya botak, “jawab saya!

Biasanya, kalau istri saya bangun, bakal tambah sengit. Dia akan ikut mengepung, sambil memegang tangkai sapu. Saat tikus besar itu lari ke arahnya, dia akan langsung memekik histeris dan melompat sebisanya, tangkai sapu di tangan sembarang pukul saja lagi. Kadang, diiringi pula dengan gigilan hiii, menandakan dia geli. Tapi, biasanya tikus besar itu lolos dari kepungan kami.

Geli, jijik, mungkin juga takut. Apalagi, tiba-tiba melintas di hadapan. Jantung bisa copot. Terkejut alang kepalang. Kaki melompat, mulut menceracau tak karuan. Apakah tikus besar, bisa menggigit manusia? Bisa. Jika sedang terancam. Dan itu bisa berbahaya. Bisa infeksi dan tetanus.

Memang, tikus besar di rumah kami jahat. Tak sekadar berisik, memakan sisa makanan di wastafel, juga memakan makanan yang masih utuh, ditaruh di tempat aman, buat anak-anak esok hari saat berangkat ke sekolah. Mending makanannya habis, kadang dijongkel sedikit-sedikit saja.

Bila termakan, sisa makanan tikus itu, juga bisa berbahaya. Bisa diare, mual, dan muntah-muntah. Tak hanya makanan, tikus juga doyan kabel-kabel, pipa-pipa plastik. Tentu bukan untuk dimakan. Hanya mengikis gigi geliginya, yang terus tumbuh. Itu salah satu ciri binatang pengerat.

Jangankan bersemangat menyambut pagi hari. Biasanya, istri saya berdesis kesal, tulang-tulang terasa copot, karena ulah tikus besar itu. Dapur berantakan, meja makan centang-perenang. Tak jarang, gelas dan piring retak, pecah berderai, jatuh ke lantai. Masak, dia masih menganggap ini sebagai dosa diri sendiri? Tikus besar botak itu telah terlanjur dijadikannya musuh bebuyutan.

Perlu diingat, tikus besar tidak mudah masuk ke dalam perangkap. Perangkap yang dibuat untuk dirinya kerap berhasil tercium dan dilewati. Umpan yang diberikan habis dimakan, tapi dia lolos dari perangkap itu. Tudung nasi, malah terbuat dari rotan, bisa ditembusnya. Apalagi hanya lemari dari kayu, triplek dan sejenisnya. Kurang dari semalam, sudah selesai semua ditembusnya.

Hanya tikus kecil yang mudah masuk ke dalam perangkap. Kadang tidak hanya satu. Bisa tiga sekaligus. Dia belum pengalaman. Hidungnya, belum tajam. Belum bisa membedakan, mana umpan dan mana makanan yang sebenarnya. Ada rasa kasihan, tapi mau apa lagi. Tikus besar itu, tak hanya mengganggu, tapi merusak. Jika yang kecil terkena, itu resiko diterapkannya hukuman.

Maka, takutlah akan hukuman yang tak hanya mengenai tikus besar yang jahat, tapi juga mengenai tikus-tikus kecil yang tak bersalah. Bagaimana tikus-tikus di rumah, organisasi, parpol, dan instansi Anda? Adakah tikus besar yang jahat? Segera habisi sebelum Anda digigit yang bisa mengakibatkan infeksi, tetanus dan penyakit lainnya. Tikus besar yang kepalanya botak, itu jahat. (kakammi.or.id)

Erizal
Kolumnis

Tinggalkan Komentar