Jakarta, Jurnalpublik.com – Jika musik, video dan film seperti telah melalui masa sulit proses disrupsinya, lain cerita dengan industri buku, industri yang menggabungkan sisi pragmatisme bisnis dengan idealisme sebuah bangsa, khususnya industri buku di Indonesia. Industri buku seperti belum mampu move on terhadap bentuknya saat ini.

jika di industri musik kita mengenal berbagai model bisnis yang tertuang dalam aplikasi seperti joox, Spotify, dan itunes sebagai sang senior, sedangkan di industri video ada youtube dan film ada Netflix, dan masih banyak nama lainnya, you name it. Di Industri buku memang kita mengenal kindle dan beberapa platform lainnya yang menawarkan bentuk lain dari sebuah buku, namun model bisnisnya tidak terlalu jauh berbeda dengan model bisnis yang telah ada selama ini, tidak se variatif apa yang terjadi di industry konten lainnya. selain itu platform2 digital industri buku masih belum mampu mendominasi pasar industri buku, buku konvensional dengan model bisnis tradisionalnya masih menjadi penguasa pasar industri buku. berbeda cerita dengan industri konten kreatif lainnya, yang mana model baru menjadi penguasa pasar.

di Indonesia sendiri, market digital book masih berada di angka 2.5%, tertinggi ada di amerika yakni 35%, bahkan pada tahun 2015 penjualan eboook di UK menunjukkan tren penurunan yang terus berlanjut ke tahun 2016, dimana generasi muda ternyata lebih memilih untuk kembali ke ‘printed book’. Secara pribadi, penulis pun sepakat bahwa digital book selamanya akan sulit menggantikan printed book, ada banyak hal yang tidak mampu digantikan oleh digital book, karena buku bukan sekedar kertas dengan sekumpulan informasi, buku buat saya pribadi adalah gaya hidup, mengoleksinya menjadi seni tersendiri, membuka tiap lembar dan merasakan tekstur kertas tiap lembarnya, menghirup aroma khasnya yang terasa berbeda2 menjadi kenikmatan tersendiri, pun membawa buku kemanapun bahkan tanpa membacanya menjadi keasyikan tersendiri, seolah kita ingin memberitahu dunia tentang diri kita melalui judul buku yang kita bawa, yg dengan sengaja dan sadar bagian depan buku dihadapkan berlawanan dengan tubuh kita, dan digenggam hanya bagian tengah saja agar tidak menutupi judul buku, atau dengan sadar kita taruh buku diatas meja yg paling mudah di lihat oleh orang lain yg melewati kita, berharap orang yang melihat membaca judul buku tersebut.

Kemudian kita serasa berharap, semoga suram ini hanya terjadi pada digital book yang memang belum mampu menggantikan posisi ‘printed book’, tapi fakta nasib ‘printed book’ ternyata tidak lebih baik, khususnya di Indonesia, fakta-fakta global sudah tak mengenakkan, semakin terasa lebih pahit ketika ditambah dengan fakta industri buku Indonesia. Mari kita mulai dari minat baca anak bangsa Indonesia yang tidak lebih baik dari dalam setahun menyelesaikan satu judul buku saja, data yang diambil oleh UNESCO di tahun 2011, bandingkan dengan anak-anak eropa yang mampu menyelesaikan 25 buku dan anak jepang 15 buku, tahun dimana industri buku sedang ada di masa kejayaannya, tidak perlu kita mencari tahu di tahun setelahnya dimana industri buku terasa mendung menjelang badai. Tak heran jika kemudian pada tahun 2016 Littered Nation In the World mengumumkan bahwa mint abaca Indonesia berada pada peringkat 60 dari total 61 negara yang diteliti. Mari kita tidak melanjutkan dengan fakta lain, demi kepentingan ketenangan jiwa para pembaca.

Dari sisi manapun, pragmatisme bisnis maupun idealisme kebangsaan, fakta-fakta diatas adalah bukan sesuatu yang menyenangkan dan harus segera ditemukan jawabannya. Bagaimana kemudian menyelami hasrat manusia Indonesia terhadap buku, atau jangan-jangan ternyata memang manusia Indonesia terlahir berbeda tanpa hasrat terhadap buku, semoga saja tidak. atau mungkin buku itu sendiri hanya tools terhadap hasrat lain manusia, hasrat terhadap pengetahuan, sehingga saat ini buku menjadi tidak relevan karena manusia telah menemukan cara merespon hasrat mereka tidak melalui buku lagi. Penulis sendiri masih belum tahu secara pasti tentang ini, namun secara pribadi, hasrat penulis terhadap buku seperti punya bagiannya tersendiri, karena buku tidak hanya memenuhi hasrat saya terhadap pengetahuan, banyak hasrat yang melalui buku dapat terpenuhi seperti hasrat terhadap imajinasi, fantasi, ketegangan, petualangan, romantisme dan bahkan hasrat akan ketenangan. Kombinasi hasrat yang kemudian menjadikan buku sebagai hasrat tersendiri.

Memang kemudian hal ini perlu divalidasi lebih jauh lagi, karena market buku bukan penulis sendiri. Apakah kemudian memang buku hanya dianggap sebatas media distribusi konten, sebagaimana compact disk dalam industri film dan musik, yang kemudian menjadi tidak relevan lagi di industriya, dimana manusia sudah menemukan cara dan media lain untuk memenuhi itu.

Dari berbagai fakta diatas, seperti ada mendung diseluruh penjuru industri buku, tak secerah musim panas yang cerah yang sedang dialami industri konten lainnya. lantas kemana arah industri buku sebenarnya akan bergerak? Seperti apa nasib buku kelak? Apakah buku akan tetap kita sebut sebagai jendela dunia nantinya? Bagaimana disrupsi di industri buku? akankah terjadi? karena sampai detik ini belum terasa ada sebuah inovasi yang benar-benar dapat dikatakan sebagai sebuah disrupsi di industri buku. Dan ketika terjadi disrupsi, apakah disrupsi yang kemudian membawa oengaruh baik pada industri buku dan para pelakunya? atau malah sebaliknya, sebagaimana kelamnya pembajakan yang mendisrupsi industri music dan film saat itu.

Saya sendiri belum menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas, namun penulis senang akan ketidak tahuan ini, ketidak tahuan yang kemudian membawa penulis pada rasa ingin tahu (curiosity), yang kata Walt Disney, rasa ingin tahu ini yang mengantarkan manusia pada penemuan cara-cara baru dalam kehidupan. Dari titik inilah kemudian kita harus mulai lebih sering lagi untuk melakukan serangkaian uji coba model bisnis untuk memenuhi rasa ingin tahu ini, uji coba yang kemudian akan mevalidasi banyak hal, memvalidasi respon mana yang paling tepat untuk mengelaborasi hasrat manusia terhadap buku dengan ketersediaan teknologi saaat ini, menemukan cara merespon terbaik untuk ummat manusia terhadap hasrat-hasrat yang ada pada sebuah buku. Tidak ada yang tahu, apakah buku akan tetap bernama buku dua atau dua puluh tahun akan datang, tapi apapun itu, buku telah memainkan peran pentingnya sejak pertama kali ditemukan, memainkan peran vital dalam mendorong berbagai pencapaian besar dalam peradaban manusia dan menyelesaikan berbagai masalah kemanusiaan.

Secara pribadi, entah ini sebatas ego dan romatisme saja atau objektivitas penulis dalam menilai sesuatu, entahlah, penulis pun sulit memisahkannya, penulis berharap buku akan tetap memiliki tempat dalam peradaban manusia selamanya, entah bagaimana caranya, namun ini saat yg tepat untuk menemukan caranya.

“A computer does not smell. if a book is new, it smells great. If a book is old, it smells even better. And it stays with you forever. But the computer doesn’t do that for you. I’m sorry.”Ray Bradbury

Hadiyan Faris Azhar
Ketua Umum Komunitas Mobility

Tinggalkan Komentar