Jakarta, Jurnalpublik.com – Menjadi menarik untuk membaca lebih jauh gelombang disrupsi yang terjadi pada sebuah industri yang menurut saya cukup unik, muncul banyak pertanyaan yang menggelitik tentang disrupsi pada industri ini, industri yang bukan melulu tentang berapa banyak uang yang berputar disana, industri yang jauh dari itu punya peran vital dalam membentuk jati diri bangsa, membangun kapasitas kolektif manusia sebuah bangsa, industri buku. industri yang masuk dalam kategori industri kreatif, lebih spesifiknya industri konten kreatif, bersama dengan musik, video dan film. Namun punya nasib yang bak langit dan bumi dengan industri konten lainnya. Disrupsi yang kemudian efeknya bukan hanya pada aspek finansial, namun juga akan mempengaruhi kapasitas manusia di sebuah bangsa.

Musik, video dan film sudah melalui gelombang disrupsinya di era digital ini, entah apakah gelombang disrupsi berikutnya akan datang lagi dalam waktu dekat atau masih butuh waktu yang lama, yang jelas gelombang besar disrupsi telah dilalui oleh ketiga industri ini dengan baik, banyak perubahan signifikan dalam ketiga industri ini, baik dari sisi market maupun dari proses bisnis dalam industri. Disrupsi ini kemudian mempengaruhi tingkat pertumbuhan industri yang melesat sampai dua digit, distribusi konten menjadi begitu instan tanpa ada jarak antara produsen dengan end user, kualitas konten pun mengalami berbagai improvisasi baik dari sisi kualitas maupun volume.

Walaupun sempat berdarah-darah diawal, terutama sejak tingkat pengguna internet tumbuh begitu pesat di awal tahun 2000an, keberadaan internet kemudian malah menjadi seperti polusi yang mencekik nafas industri musik dan film saaat itu, utamanya karena proses distribusi konten yang begitu mudah dengan internet tanpa ada proteksi baik dari sisi regulasi maupun kemampuan produsen itu sendiri dalam memproteksinya, keberadaan teknologi internet memfasilitasi hasrat manusia untuk mendapatkan musik secara mudah melalui pembajakan, pembajakan menjadi nama disrupsi saat itu di industry musik dan film, dan ini sangat menggila, masa yang cukup lama, namun sekarang sudah jadi lagu lama, tahun 2016 industri musik kemudian berhasil melalui proses disrupsi yang benar, pelaku industri kembali menggeliat, berbagai model bisnis yang ada mampu memfasilitasi hasrat manusia untuk mendengar musik dengan mudah tanpa perlu mengorbankan kepentingan industri musik terhadap financial benefit untuk menopang pertumbuhan industri dan memenuhi kebutuhan perut para pelaku industrinya.

Hadiyan Faris Azhar
Ketua Umum Komunitas Mobility 

Tinggalkan Komentar