“Human action can be modified to some extent, but human nature cannot be changed” ― Abraham Lincoln

Jakarta, Jurnalpublik.com – Banyak yang mengatakan gojek merubah cara manusia menggunakan transportasi, cara manusia berinteraksi dengan lalu lintas bahkan merubah cara hidup manusia itu sendiri, dan kemudian membuat usang cara-cara ama di industri lamanya, disruption, begitu orang bertutur. Dan google yang merubah cara manusia berinteraksi dengan informasi. Disrupsi, bukan barang baru sebenarnya, ada banyak hal yang telah mengalami disrupsi dari sejak awal manusia diciptakan, berkali-kali fenomena disrupsi terjadi, semisal cara bertahan hidup ummat manusia dimana bercocok tanam mendisrupsi cara hidup berburu dan meramu, atau cara berkomunikasi dengan media sosial yang mendisrupsi tulis menulis melalui surat atau telegram. Secara kasar dan sederhana disrupsi banyak diterjemahkan orang sebagai sebuah perubahan, tidak salah namun tidak betul-betul menggambarkan disrupsi itu sendiri, tapi ini yang populer.

Disrupsi, kata ini kembali mengemuka di era digital ini, tepatnya di tahun 2015 ketika tren digital masuk lebih jauh ke banyak segmen kehidupan, yang mayoritasnya diprakarsai oleh millenial. pada awalnya digitalisasi hanya tebatas pada digitalisasi informasi, bentuk dan distribusinya, namun kini hampir semua hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia mengalami digitalisasi, transportasi, finansial, hiburan, kesehatan, pendidikan dan hampir semua hal bahkan politik. Banyak yg telah berubah akibat disrupsi ini. Kata ini sendiri sebenarnya mulai dikenalkan oleh Clayton Crishtensen pada tahun 1995 melalui artikel “Disruptive Technology : Catching The Wave” pada jurnal Harvard Bussiness Review. Disrupsi terlihat sebagai sebuah fenomena yang begitu menggemparkan, menciptakan banyak hal baru dan menjungkir balikkan hal lainnya. Efeknya memang luar biasa, namun sebenarnya bersumber pada sesuatu yang sejak lama telah ada, karena gelombang disrupsi itu sendiri adalah gelombang yang ada sejak manusia ada.

Banyak diskusi dan sumber intelektual yang membahas disrupsi, namun dari sekian banyak itu, hanya beberapa saja yang coba menggali lebih dalam sumber dari gelombang disrupsi itu sendiri, dari mana inspirasinya? apa yang mendrive terjadinya gelombang disrupsi pada sebuah industri?

Jika kita coba kaji apa yang dipaparkan Clayton terkait Disruptive, terminologi ini mendasarkan banyak hal pada konsumen dalam prosesnya menciptakan pasar baru, dan pada dasarnya adalah proses untuk menjawab hasrat pasar itu sendiri, hasrat yang belum mampu dipenuhi oleh industri saat itu dengan terobosan dan pengetahuan yang ada. Sebagai contoh, keberadaan Wikipedia yang merupakan disrupsi dari ensiklopedia fisik, tidak lain Wikipedia hadir untuk menjawab hasrat pasar tentang sebuah ensiklopedia yang mudah di akses, mudah digunakan, terjangkau secara biaya (kalau bisa gratis) dan pasar dapat berinteraksi dengan si ensklopedia, hasrat-hasrat yang tidak mampu dipenuhi oleh ensiklopedia konvensional. hasrat pasar ini adalah hasrat kolektif manusia terhadap sesuatu, dalam kasus wikipiedia, hasrat kolektif manusia terhadap ensiklopedia.

Penulis lebih prefer menggunakan kata hasrat pasar ketimbang permintaan pasar, karena hasrat menggambarkan sesuatu yang begitu menggebu, bukan sekedar ingin, namun begitu ingin. Oleh karenanya, ketika hasrat ini kemudian terpenuhi oleh sebuah model bisnis baru, akan terlihat massivenya gelombang migrasi pasar dari model bisnis lama ke model bisnis baru, karena memang ini adalah sesuatu yang sangat diinginkan, sampai-sampai membuat model bisnis lama tak lagi diminati. Manusia mana yang tak sangat ingin mendapatkan ensiklopedia yang sangat lengkap, selalu di update, pengunaan dan aksesnya begitu mudah dan ternyata gratis?

Hasrat manusia adalah sesuatu yang tak berubah oleh waktu, manusia dari zaman awal hadirnya hingga manusia zaman now punya hasrat yang sama dan tak berubah tentang berbagai hal, hasrat tentang kemudahan, hasrat untuk mendapatkan keuntungan yang lebih banyak, hasrat tentang keamanan dan kenyamanan dan hasrat-hasrat lainnya yang akan selalu sama, yang oleh Abraham Lincoln disebut ‘human nature’, dan dalam terminologi islam lebih dekat dengan kata ‘fitrah manusia’

Hadiyan Faris Azhar
Ketua Umum Komunitas Mobility

Tinggalkan Komentar