Hand tearing red paper revealing white background.

Jakarta, Jurnalpublik.com – Fenomena disrupsi yang terjadi saat ini sama seperti contoh sebelumnya yang saya paparkan, tentang cara hidup bercocok tanam yang mendisrupsi cara hidup berburu dan meramu, prilaku baru, namun bukan berasal dari sesuatu yang baru, sumber perubahannya adalah hasrat manusia itu sendiri. Manusia berhasrat ingin mendapatkan kemudahan dalam mendapatkan sumber makanannya, ingin mendapatkan keuntungan yang lebih dari satu unit tindakan yang diambilnya.

Kemudian timbul pertanyaan, kenapa kemudian sesuatu yang berasal dari hal yang sama menghasilkan dua prilaku yang berbeda? ketersediaan pengetahuan baru dan karakter generasi yag berbeda antar generasi baru dengan generasi lama adalah jawabannya. Pengetahuan baru, memungkinkan tercapainya terobosan-terobosan baru melalui teknologi baru dalam merealisasikan hasrat manusia, sebagaimana keberadaan teknologi tentang bercocok tanam yang kemudian membawa gelombang disrupsi pada pada cara berburu dan meramu. Generasi baru pun, membawa karakter yang berbeda, karakter yang kemudian dibentuk oleh pengalaman kolektif unik yang dialami oleh generasi tersebut dalam masa hidupnya yang tak akan sama dengan generasi sebelumnya.

Begitupun dengan gelombang disrupsi yang terjadi saat ini, para pelaku disrupsi (disrutors) mayoritas adalah generasi milenial yang lahir di antara tahun 1980 sampai 2000an, generasi native digital, generasi yang lahir, tumbuh dan menjadi dewasa dalam dunia digital, mereka adalah pribuminya dunia digital, tingkat keakraban mereka dengan dunia digital tanpa sekat, hal ini kemudian mempengaruhi bagaimana generasi ini merespon kehadiran pengetahuan baru dan hasrat-hasrat manusia yang tetap sama sejak lama, dengan respon yang benar-benar baru, yang membuat cara respon lama menjadi obsolete dan akhirnya ditinggalkan

penulis pribadi menyimpulkan secara sederhana fenomena disrupsi sebagai perubahan respon manusia terhadap hasratnya, caranya merespon yang berubah, hasratnya tetap sama. ini adalah proses normal dimana ummat manusia memperbaiki responnya dalam berinteraksi dengan segala sesuatu, dan disrupsi adalah keniscayaan, hanya saja di era digital, pengetahuan manusia mengalami lompatan pengetahuan yang signifikan dengan berbagai penemuan baru, sehingga terjadi pula signifikansi lompatan perbaikan pada respon manusia berinteraksi dengan berbagai hal,

hal yang sama juga terjadi pada industri lainnya, tidak hanya pada contoh-contoh yang penulis sebutkan melalui dua nama besar diatas, google dan gojek. Berbagai industri mengalami gelombang disrupsinya, bukan sekedar karena sentuhan digital, namun karena berbagai pengetahuan baru yang manusia temukan, yang kemudian memfasilitasi berbagai industri menemukan cara yang lebih baik dalam merespon hasrat manusia pada industri tersebut, begitupula pada industri konten kreatif, khususnya buku.

Hadiyan Faris Azhar 
Ketua Umum Komunitas Mobility

Tinggalkan Komentar