Gaza/Doha, Jurnalpublik.com – Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah (Hamas) yang diartikan dengan Gerakan Perlawanan Islam telah mengumumkan pemisahan dirinya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin. Selain itu, Hamas juga telah menghentikan seruan serangan terhadap Israel namun tetap mendukung kemerdekaan Palestina. Tapi jika upaya kemerdekaan Palestina tetap dihalangi, Hamas tak segan akan menurunkan kembali kekuatan militernya. Keputusan ini diumumkan oleh Pemimpin Hamas Khaled Meshaal dalam sebuah dokumen kebijakan yang dipresentasikan di Doha (1/5). Seperti yang diungkapkan oleh situs berita Reuters, Khaled Meshaal mengatakan langkah ini bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan negara – negara Teluk Arab dan Mesir yang memandang Ikhwanul Muslimin sebagai teroris.

“Hamas tetap mendukung pembebasan seluruh Palestina namun siap untuk mendukung negara pada perbatasan 1967 tanpa mengakui Israel atau melepaskan hak apapun,” kata Khaled Meshaal.

Meshaal mengatakan bahwa pertarungan Hamas tidak melawan Yahudi sebagai agama tapi melawan apa yang dia sebut “Agresor Zionis”.

Israel menanggapi pengumuman tersebut dengan menuduh Hamas mencoba “membodohi dunia”, sementara saingan politik utama partai tersebut, faksi Fatah Presiden Mahmoud Abbas, juga bereaksi dingin terhadap perubahan kebijakan tersebut.

Dalam kesempatan terpisah, Agung Noorwijoyo dari Universitas Gazi di Ankara mengatakan alasan Hamas keluar dari Ikhwanul Muslimin sangat dipengahuri posisi ikhwan juga di Mesir. Bagaimanapun posisi Mesir vital bagi keberadaan Hamas di Gaza. Bentuk positif dari transformasi charter Hamas ini juga yg terlihat dalam proses rekonsiliasi internal palestina antara Fatah dan Hamas dengan bantuan mediasi Mesir.

“Hamas secara pragmatis melihat bahwa dinamika Ikhwanul Muslimin dan As Sisi di Mesir jangan berikan dampak luas terhadap proses pembebasan Palestina.” Pungkas Agung.

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar