Jakarta, Jurnalpublik.com – Lisnawati (45) meradang, Ibu dengan 2 anak itu berteriak histeris menolak rumah dengan warung kopi serta bensinnya dipindahkan dari rawajati ke rusun marunda. Ya, Dia bersama dengan para perempuan lainnya berada di garis depan penolakan penggusuran tempat tinggal.

Lain hal dengan dengan Mardiah (50) , dia menghadang mobil watercanon polisi, sendirian. Dibelakangnya berdiri ratusan ibu ibu yang menghalangi aparat membongkar paksa pasar raya padang. sambil terus berdzikir menyebut nama Allah, dia menangis. Tak rela pasarnya yang sehari hari menjadi tempat mencari nafkah, dipindahkan dengan paksa oleh pemerintah, ketempat dimana untuk kesanapun tak kuat ongkos pedagang, apalagi membeli kiosnya.

Di Tangerang, sekelompok ibu mendatangi kantor pemerintahan, mereka beserta anak anak terganggu kesehatan mata dan pernafasannya sebab udara tercemar oleh pabrik yang entah kenapa diloloskan uji KLH untuk berdiri di lingkungan tersebut. Mata mereka terus menerus berair, hidung selalu memproduksi cairan kotor. sakit. Saat itu, bukan kaum bapak yang bersuara, tapi ibu. para perempuan.

Mereka perempuan yang berada ditempat dengan budaya patriaki begitu kental. Lisnawati misalnya, seorang ibu yang seperti layaknya perempuan di Indonesia, berada dirumah untuk mengurusi apa yang dinamakan urusan domestik rumah tangga. sehari hari di Rawajati, tak pergi jauh jauh seperti kebanyakan perempuan sosialita yang memamerkan indahnya norwegia di Instagram, lengkap dengan wajah putih berkacamata hitam alias selfie. Ya, Lisnawati Ibu Rumah Tangga.

Patriaki, yang mengharuskan perempuan menjadi the second player atau golongan kelas dua. Mengharuskan dirinya mengemban tanggung jawab penuh terhadap urusan domestik sendirian, dengan penyeimbang kaum laki laki bertebaran di luar rumah untuk mencari penghidupan. Tapi patriaki tidak menolong mereka saat siang hari mereka tergusur dari “domestik”nya.

Dan menurut penulis, mungkin saja budaya patriakilah yang menyebabkan hampir tak ada nama perempuan dalam daftar nama pahlawan Indonesia. Padahal sejarah nusantara kuno sempat mencatat nama – nama Pahlawan Indonesia yang ternyata merupakan perempuan, terdapat  kepala negara, Panglima angkatan bersenjata dan ada yang merupakan seorang menteri keuangan . Mereka adalah Ratu Sima dari Kalingga, Syri Layanattunggawijaya yang memrintah Kerajaan Medang, Cri Sanggamawijayatunggawarman Ratu Sriwiaya, Putri Nurul A’la perdana menteri dari Perlak Aceh, Laksamana Maharani dari Kerajaan Seudu, Syah Alam Barinsyah yang merupakan perempuan islam pertama sebagai ratu, Dyah Gayatri yang bertahta di Kerajaan Majapahit, Dyah Suhita juga merupakan Ratu Majapahit, Sultanah Nahrasiyah Ratu Samudera Pasai, Ratu Anchesiny dari Aceh Darussalam, Ratu Putri Hijau dai Deli, Sri Pui Alam Permaisuri Sultan Tajul’ Alam Safiatuddin Syah yang memerintah Kerajaan Islam Aceh Darussalam yang setelahnya diikuti berturu – turut Sultana Nurul Alam Nakiyatuddin Syah, Sultanah Inayat Zakiyyatuddin Syah dan Sultanah Kamalat Syah , serta wanita yang tercatat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata pertama di dunia, Laksamana Keumalahayati. Sejarah mencatat Laksamana Keumalahayati berhasil menewaskan pemimpin amada kerajaan Belanda Cornelis de Houtman dan berhasil menawan adiknya, Fredeick de Houtman. Sejarah Indonesia juga mencatat, Laksamana Keumalahayati menjadi pahlawan nasional sesuai Kepres No 115/TK/Tahun 2017

Namun siapa yang mau jadi pahlawan ? apalagi pahlawan perempuan, jawaban mayoritas mungkin tidak ingin. Betapa konsekuensi dari kepahlawanan adalah tugas berat unuk mempejuangkan hingga mempertahankan. Meski demikian, Pahlawan tercipta oleh gelombang sejarah dengan skema alaminya sendiri. Penyair WS Rendra mengatakan, Perjuangan adalah pelaksanaan kata – kata, hal itulah yang menyebabkan seorang Tjut Nyak Dien tercatat sebagai pahlawan, dia bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya akibat kerakusan dan kekejaman kolonial Belanda.

Tiada kepahlawanan tanpa wajah perempuan. Di masa lalu, para pahlawan perempuan berjuang melawan penjajah kolonial, maka hari ini kita memaknai kepahlawanan perempuan dalam konteks bidang masing – masing. Perempuan ada di parlemen, di sektor kesehatan masyarakat, pendidikan, mengurus ekonomi makro mikro, dan sebagainya. Menjadi pahlawan berarti memiliki suatu kegelisahan sehingga hal tersebut membuat seseorang bergerak . Maka berjuanglah apa yang kita yakini dan citakan, sampai akhir, sampai tercapai , tanpa harus terhenti hanya karena sebuah remehan patriaki.  Dan bejanjilah unuk menang.

Tinggalkan Komentar