Jakarta, Jurnalpublik.com – Hari ini berbagai media massa, baik cetak maupun online dihebohkan dgn viral ditutupnya Hotel dan Griya Pijat Alexis yg terletak dibagian utara kota Jakarta. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Alexis merupakan salah satu pusat hiburan malam di Jakarta yg menerapkan konsep “one stop entertainment”. Setiap orang yang mampir kesana, akan disuguhkan dengan berbagai macam hiburan malam yang tentunya tidak akan membuat para konsumennya cepat merasa bosan dan ingin cepat beranjak pergi.

Penulis tidak akan membahas terlalu dalam mengenai viral penutupan Hotel dan Griya Pijat Alexis, karena kurang adil rasanya membahas suatu objek yang sama sekali belum pernah penulis kunjungi apalagi hanya mendengar dan membaca dari media. Ada satu hal yang menarik bagi penulis soal pernyataan para pengamat di televisi baru-baru ini yang muncul berbarengan dengan viral penutupan Hotel dan Griya Pijat Alexis, yaitu prostitusi terselubung.

Prostitusi adalah profesi yang paling tua yg pernah ada dimuka bumi ini. Tak heran dari zamannya Suku Quraiys (baca : zaman jahiliyah) hingga zamannya Amin Rais (baca : zaman beradab), berbagai macam modus prostitusi muncul dgn fenomena-fenomena yang unik. Menarik memang jika kita membahas tentang prostitusi, kenapa? karena objek utama dari prostitusi adalah perempuan dari usia 17 – 40 tahun (baca : usia subur).

penulis jadi teringat tulisan dari ekonom muda Amerika (Steven D Levitt) yang berkolaborasi dengan jurnalis sekaligus penulis terkenal di Amerika (Stephen J Dubner) dalam bukunya Super Freakonomics (2010), menceritakan mengenai kisah LaSheena seorang perempuan muda di Chicago yang terjebak dalam dunia prostitusi. LaSheena menceritakan bahwa dia mempunyai empat cara untuk mendapatkan uang dalam mempertahankan hidupnya yaitu (1) Boosting (mencuri di toko dan kemudian menjual kembali barang curian tersebut), (2) Roosting (membantu mengawasi situasi setempat bagi geng yang sedang menjajakan obat terlarang), (3) Cutting (memangkas rambut) dan (4) Prostitution (Prostitusi). Kemudian ketika ditanya kepada LaSheena dari keempat pekerjaan tadi mana yang paling buruk? Melacur (sahut LaSheena), karena mental saya tersiksa. Namun ketika ditanya kembali, bagaimana jika upah dari melacur dua kali lebih besar? Apakah kamu akan mengulanginya? Tentu saja (sahut LaSheena).

Sepanjang sejarah, secara umum lebih mudah menjadi laki-laki dibanding menjadi perempuan. Generalisasi ini mungkin agak berlebihan karena faktanya bahwa kaum perempuan selalu memiliki nasib yang lebih buruk dari pada kaum laki-laki. Bahkan meskipun sebagian besar laki-laki memiliki pekerjaan-pekerjaan besar seperti berperang, berburu dan bahkan melakukan pekerjaan kasar yang sangat menguras tenaga, namun perempuan memiliki usia harapan hidup yang lebih pendek. Pada abad ke 13 di Eropa satu juta perempuan mengalami nasib yang mengenaskan (janda dan miskin), mereka dihukum gantung karena dituduh melakukan santet, dianggap bersalah atas cuaca buruk akibat kegagalan panen dan juga dituduh sebagai pelacur.

Bahkan diabad ke 21 perempuan muda di Kamerun harus menjalani penyetrikaan payudara dengan menggunakan kulit kelapa yang dibakar agar mereka tidak membangkitkan birahi. Di China perempuan dipotong kakinya dan bahkan bayi perempuan sering dibuang oleh orang tuanya, dibiarkan buta huruf dan akhirnya bunuh diri. Bahkan kaum perempuan di India terus menghadapi diskriminasi hampir disegala bidang. Akan tetapi di negara-negara modern kehidupan kaum perempuan telah menjadi lebih maju dan berpendidikan tinggi setara dengan laki-laki.

Kendatipun demikian, ada satu pasar tenaga kerja yang didominasi oleh perempuan yaitu Prostitusi. Model bisnis prostitusi cukup simpel sekali dan sangat membawa peruntungan yang besar bagi para pemain dalam bisnis ini. Bahkan para pebisnis prostitusi merupakan wajib pajak yg membayarkan pajak terbesar di negaranya. Di negara modern seperti Amerika prostitusi dianggap melanggar hukum. Bahkan kita mengenal istilah “perbudakan putih” yang menyeret ribuan perempuan kedalam penjara karena terlibat prostitusi. Riset Departemen Kehakiman Amerika pada tahun 1910-an mengatakan bahwa 1 diantara setiap 50 perempuan di Amerika pernah terlibat sebagai pekerja prostitusi.

Sangat mengerikan, apakah fenomena prostitusi pada abad 19 di Amerika akan kita tarik menjadi sejarah kekinian di negara ini? Dengan membiarkan berjamurnya tempat-tempat prostitusi terselubung dengan dalil pariwisata untuk menarik para pelancong berkunjung sehingga dapat menambah PAD suatu daerah? Akankah kita membiarkan anak cucu kita hidup dilingkaran prostitusi? Kadang memang hukum yang dibuat oleh para legislator tidak dapat mengalahkan kuasa dari hukum ekonomi (supply-demand). Tidak ada kata terlambat, saya kira viral penutupan Hotel dan Griya Pijat Alexis ini alangkah baiknya kita jadikan sebagai momentum Revolusi Putih, guna mengentaskan perbudakan putih sehingga membuat harga diri dan kehormatan para perempuan di negara ini menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Ahmad Fadhli
Pengamat Freakonomics dan Peneliti Kajian Ekonomi Sumberdaya

Tinggalkan Komentar