Jakarta, Jurnalpublik.com – “Penyadapan itu pekerjaan Tuhan. Kenapa ada sekelompok manusia yang menggunakan Hak Tuhan untuk kepentingan mereka sendiri di dunia?. Bagaimanapun, manusia memiliki kebebasan untuk melakukan apapun, tapi nanti di akhirat, ada skema pertanggung jawabannya” Tegas Fahri Hamzah dalam pidato kebangsaannya di agenda dialog kebangsaan di Bengkulu (27/9)

Ini pemikiran Mu’tazilah, pikir penulis dengan spontan setelah mendengar penegasan politisi senior tersebut. Mu’tazilah, dalam konsep pemikiran rasionalnya, menyebutkan bahwa ada yang dinamakan Al ‘Adl, yaitu terdapat keadilan Allah untuk manusia. Jika manusia berbuat baik, maka surga balasannya, sesederhana jika manusia terus menerus berbuat buruk, kemungkinan dia masuk neraka dulu. Dan inilah sebuah jalan spiritual yang ditempuh oleh Fahri Hamzah. Sebuah Thoriqoh.

Thoriqoh artinya jalan, Menurut ‘Abdurrazzaq Al-Kasyani, thoriqoh adalah jalan khusus yang ditempuh oleh para salik dalam perjalanan mereka menuju Allah, yaitu dengan melewati jenjang-jenjang tertentu dan meningkat dari satu maqam ke maqam yang lain. Asas menuju Allah inilah yang disebut Asy Syahid Ramadhan Al Buthi sebagai asas pokok dari sebuah thoriqoh, dalam dialognya bersama pewarta pada masa hidupnya, terdapat dua sayap dalam konsep menuju Allah, yaitu Al Qur’an dan Assunah.

Asy Syahid Ramadhan Al Buthi menyebutkan bahwa beliau banyak membaca biografi tokoh sufi seperti Syekh Abdul Qodir Al Jilani , Syekh Ruslan Ad Dimasqhi , Syekh Ahmad Rifai, menurut beliau , para tokoh tersebut memiliki kualitas nubuwah atau kenabian, yang membedakan tidak ada proses turunnya wahyu. Nubuwah tanpa turunnya wahyu. Kualitas kenabian tersebut terdapat pada akhlaknya, tarbiyah batinnya dimana sifat – sifat mereka mewakili Rasulullah SAW. Meskipun, Asy Syahid yang mengakui ketinggian para tokoh sufi tersebut sampai akhir hayatnya tidak mengambil tradisi Thoriqoh dalam Sunni itu. Beliau mengambil cara Ta’lim Muta’alim, yaitu belajar dan mengajar untuk menyampaikannya kepada Allah, demikian thoriqoh seorang syahid yang dibunuh dalam konflik Syiria itu.

Inilah yang menggelitik rasa ingin tahu penulis pada Fahri Hamzah, seseorang yang dalam beberapa kesempatan selalu berkata, kita ini akan bertanggung jawab dengan cara yang paling privat kepada Allah, siapa pula manusia yang bisa menolong manusia yang lain ?. Disamping dalam perjalanannya, Fahri Hamzah tidak pernah meninggalkan variabel Tuhan di tiap aksiologi keilmuannya. Dalam tweet, ceramah, orasi, pertemuan, rapat, bahkan mungkin ketika dia baru sampai tahap berfikir.

Lantas bagaimana cara privat dengan konsep mu’tazilah rasionalnya itu terhubung dengan thoriqoh yang menyampaikan kepada Allah ? . Maka thoriqoh, bukan hanya terkotak pada sebuah zikir kaum Asyadzili, Qodiriyah Naqsabandiyah, Tijaniyah mapun thoriqoh dalam tradisi sunni lainnya. Tapi Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, juga merupakan thoriqoh. Berjuang memenangkan kebenaran, adalah thoriqoh. Berpeluh menyatukan elemen bangsa, juga merupakan thoriqoh. Ini yang dilakukan Fahri Hamzah.

Syekh Abdul Muni’em dari Maroko dalam kesempatannya bertabaruk di Zawiyah Arraudhah Jakarta menyebutkan thoriqoh dalam definisi sempurnanya  adalah, menegakan aturan Tuhan di muka bumi. Dan inilah misi mutiara seorang Fahri Hamzah.  Dan misi emas kita, para pejuang kebenaran di Bumi Indonesia. Tiada yang lain.

 

Tinggalkan Komentar