Mempercepat Pertumbuhan Pengusaha Baru

Jakarta, Jurnalpublik.com – MOMOK menakutkan pasca mahasiswa adalah mencari penghasilan sendiri. Banyak yang bingung ketika toga wisuda sudah disematkan di kepalanya. Ada kekhawatiran, banyak mahasiswa pasca lulus tidak bisa bersaing di dunia sesungguhnya. Maklum, selama mahasiswa kita harus jujur untuk uang bulanan masih disubsidi oleh orangtua. Apalagi jika tuntutan melamar pujaan hati sudah terbayang-bayang di depan mata. Solusi instan adalah mencari pekerjaan atau bekerja kepada orang lain.

Beberapa tahun belakangan, populasi penduduk dengan usia produktif lebih banyak daripada jumlah lapangan kerja yang tersedia. Hal ini memicu khususnya para pemuda untuk menciptakan peluangnya sendiri dengan membuka usaha sendiri. Betapa asyiknya bukan, justru pemuda yang baru saja lulus dari kampus justru menciptakan peluang pekerjaan untuk banyak orang.

Untuk membangun Negara kita agar lebih maju, dibutuhkan banyak pengusaha-pengusaha baru. Wirausaha merupakan salah komponen penting dalam pembangunan negara. Dalam banyak kejadian krisis ekonomi, justru UMKM (pengusaha-pengusaha kecil) yang bisa survive di tengah badai (krisis) ekonomi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan, pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 jumlah UMKM tidak berkurang, justru meningkat terus, bahkan mampu menyerap 85 juta hingga 107 juta tenaga kerja sampai tahun 2012.

UMKM mempunyai peran penting dan strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, UMKM juga berperan dalam mendistribusikan hasil-hasil pembangunan. Selama ini UMKM telah memberikan kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PBD) sebesar 57-60% dan tingkat penyerapan tenaga kerja sekitar 97% dari seluruh tenaga kerja nasional.

Mengapa Wirausaha?

Syarat untuk menjadi sebuah negara maju adalah memiliki pengusaha minimal dua persen dari total populasi. Berdasarkan data BPS 2016, dengan jumlah penduduk 252 juta, jumlah wirausaha non pertanian yang menetap mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen. Dengan demikian tingkat kewirausahaan Indonesia telah melampaui 2 persen dari populasi penduduk, sebagai syarat minimal suatu masyarakat akan sejahtera. Ratio sebesar 3,1 persen itu masih lebih rendah dibandingkan dengan Negara lain seperti Malaysia (5 persen), China (10 persen), Singapura (7 persen), Jepang (11 persen), dan Amerika Serikat (12 persen).

Mengapa wirausaha penting? Pengusaha memiliki kecenderungan untuk terus berinovasi dan memunculkan teknologi baru untuk memenangkan persaingan pasar dan meningkatkan daya saing bangsa. Selain itu, wirausaha juga menciptakan banyak lapangan kerja baru sehingga angka pengangguran dapat ditekan. Berkembangnya pengusaha baru Indonesia akan memperkuat kebutuhan domestik, sehingga dalam jangka panjang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri.

Tidak banyak yang tahu bahwa wirausaha merupakan salah satu sektor bisnis yang penting, bersama dengan korporasi, koperasi, financing dan perbankan. Saat ini yang digerakkan untuk menjadi wirausaha adalah yang usianya masih cukup muda, dengan alasan anak muda memiliki banyak inovasi dan tidak takut untuk mencoba hal-hal yang baru.

Belajar dari Estonia

Di Estonia, negara yang dekat dengan Finladia ini semua lulusan sarjana di-challange untuk bikin start-up dan didanai oleh Pemerintah atau setidaknya difasilitasi untuk ditemukan dengan investor. Estonia adalah salah satu negeri yang sukses memajukan perekonomian negaranya berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Saat masih bergulat di industri perbankan, dulu saya memiliki sebuah ide, bagaimana caranya pengusaha-pengusaha baru bisa didanai oleh Perbankan? Tanpa jaminan dan dengan syarat yang memudahkan. Di Indonesia sebenarnya ada terobosan Kredit Usaha Rakyat (KUR), di mana konsepnya nasabah yang tidak memiliki jaminan bisa mengajukan pembiayaan (kredit) dengan bunga (bagi hasil) rendah. Tapi konsep hanya sekedar konsep. Dalam praktiknya, bank penyalur dana KUR tetap mensyaratkan jaminan untuk nasabah-nasabah barunya.

Di dalam banyak perbankan baik yang besar ataupun mikro, mempunyai SOP setiap pembiayaan harus memiliki jaminan. Selain itu SOP pembiayaan (kredit) bank yang ada sekarang mengharuskan usaha berjalan minimal dua tahun. Dengan kondisi seperti ini, saya yakin 100% kalau jumlah pengusaha-pengusaha Indonesia begitu-begitu aja alias tidak bertambah.

Kata seorang teman yang bergelut dengan ekonomi digital, sekarang di Indonesia sudah mulai ada financial technology (fintech) yang mencoba mengambil lahan yang tidak didanai oleh Pemerintah (start-up, pertanian, industri kreatif, dll.). Semoga saja kemunculan fintech ini berjalan baik dan sukses. Dengan begini kita memiliki harapan, percepatan (pertumbuhan) jumlah pengusaha di Indonesia.[]

Tinggalkan Komentar