Jakarta, Jurnalpublik.com – Sebelum Muhammadiyah masuk ke Kotagedhe, sudah ada jamaah pengajian setempat yang bercorak menggali nilai Islam sesuai Quran dan Sunnah. Tentu saja dengan metode penggalian nash dan pengamalan masih bersahaja. Namanya: Ichwanul Muslimin Setelah Muhammadiyah berdiri dan berkembang di Yogyakarta, IM Kotagedhe ini melebur ke organisasi bentukan Kiai Achmad Dahlan tersebut. Di buku “Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin” karya Mitsou Nakamura, tertulis keterangan ini.

Ichwan Kotagedhe sudah ada kurun dekade pertama abad 20. Jadi jangan tanya kaitannya dengan organisasi yang diasaskan oleh putra Abdurraham as-Sa’ati, Hasan al-Banna, bertahun kemudian pada Maret 1928.

Yang jelas, seorang pelajar Indonesia di Baghdad, meski hanya beberapa semester saja tanpa menamatkan kuliahnya, sekembali ke tanah air begitu percaya diri membentuk cabang Ikhwanul Muslimin di negerinya. Tentu saja ini klaim gagah-gagahan tipikal anak muda yang menemukan pencerahan bernama kekaguman militansi. Anak muda itu bernama Abdurrahman Wahid.

Data sedikit berbeda saya dapatkan dari sebuah buku pergerakan karya Irfan S Awwas, ” Trilogi Kepemimpinan Negara Islam Indonesia”. Sumber yang dipakai dari orang dekat Gus Dur, yakni Mahfud M.D. Kata Mafhud, Gus Dur pernah memimpin IM cabang Jombang sebelum ia berangkat ke Mesir.

Tentu saja soal pemimpin cabang itu sekadar bentuk klaim kekaguman Gus Dur pada Ikhwan, sebagaimana diakui Mafhud.

Hanyasanya, soal Abdurrahman Wahid dan IM, Greg Barton dalam “Biografi Gus Dur” halaman 57 menyebutkan bahwa nama ini memang akrab dengan karya Hasan al-Banna, Said Ramadhan, dan Sayyid Quthb. Akan tetapi, adik dari sang bundanya, Aziz Bisri, yang mendorong pendirian cabang Ikhwan. Senyatanya, semasa menempuh pendidikan di Al-Azhar, Gus Dur tidak melakukan hal ini.

Fakta lain, masih dari buku Barton, Gus Dur juga turut melakukan aksi doa bersama para mahasiswa di depan penjara saat Sayyid Quthb digantung rezim Nasser.

Nama lain yang sering dikaitkan dengan Ikhwan adalah Muhammad Amien Rais. Disertasinya “The Moslem Brotherhood in Egypt: It’s Rise, Demise, and Resurgence” menjadi tonggak penahbisan sebagai akademisi pertama Indonesia yang membincang Ikhwan. Amien, bisa dikatakan, juru bicara fasih untuk bertanya soal Ikhwan. Seperti apa turbulensi dan mihnah gerakan ini kala berhadapan dengan kekuasaan tiran, ia mampu memaparkan dengan gamblang. Itu sebabnya, namanya dipergunakan kalangan “cabang” otentik Ikhwan tatkala dipercaya memberikan pengantar buku karya Utsman Abdul Mu’iz Ruslan.

Tentu saja, bicara pemikiran Ikhwan, tak lengkap tanpa menyebut nama Mohammaad Natsir dengan Dewan Da’wah Islam Indonesia-nya. DDII-lah yang secara ekstensif mengenalkan gagasan tokoh penting Ikhwan di tanah air lewat program penerbitan buku. Menariknya, ada nama Arab Saudi tercatat sebagai sponsornya!

Yusuf Maulana

Tinggalkan Komentar