Jakarta, Jurnalpublik.com – Indonesia darurat demokrasi, transisi demokrasi yg dititipkan kepada para pemimpin nyatanya menemui tanda-tanda kegagalan.

Transisi demokrasi yg harusnya tumbuh dan berkembang menuju negara demokratis ternyata justru transisi jalan di tempat bahkan cenderung kembali ke otoritarian.

Utang negara yg semakin menumpuk, daya beli masyarakat yg semakin menurun, pertumbuhan ekonomi yg semakin tidak jelas, rezim anti kritik dan cenderung represif, pengekangan kebebasan pendapat dan berserikat, serta tanda-tanda lain yg mencerminkan otoritarian akan kembali.

Peta jalan NKRI tampaknya akan kembali suram setelah pengesahan Perppu Ormas di DPR RI. Bahkan sebelum Perppu Ormas di sahkan ada tragedi demokrasi dimana para mahasiswa menjadi korban represi rezim otoritarian yg anti kritik. Kebebasan berserikat dan berkumpul di bungkam dg tafsir sepihak rezim di Perppu Ormas.

Korupsi menjadi alat tawar rezim terhadap lawan-lawan politik, dgn menggunakan institusi pemberantasan korupsi sbg alat tekan kepada para oposan dan kritikus yg dibekali alat intip super canggih bak malaikat pencatat amal.

Kemerdekaan akhirnya adalah sebuah kata yg semakin hari sulit di eja di negeri ini. Rakyat kembali dibohongi oleh janji-janji politik penguasa, di silaukan oleh perangkat-perangkat pencitraan berkelas sehingga setiap hari rakyat disuguhi tayangan kemakmuran dan kesejahteraan imajinasi penguasa.

Kemerdekaan dan kebebasan adalah kata-kata yang kembali sulit di eja dinegeri ini, setelah semua perangkat negara mengintip setiap orang, setiap perkumpulan bahkan setiap partai politik, sedikit bersuara sumbang terhadap rezim langsung sikat…Bisa dgn ancaman tayangan alat intip, OTT, forensik pajak dan alat kriminalisasi lainnya.

Mengaku demokratis tapi represif
Mengaku Pancasilais tapi setuju PKI
Mengaku NKRI tapi antek asing-aseng
Mengaku membangun tapi menggusur
Mengaku sejahtera tapi hutang banyak
Mengaku Indonesia Hebat tapi sekarat
Mengaku merah putih tapi kibarkan bendera putih.

Haruskan kita diam???
Haruskan kita merasa bahwa negeri ini baik-baik saja? Kemudian kita ramai-ramai dukung rezim satu periode lagi hanya karena singgasana tetap empuk dan dapur tetap ngebul…

TIDAK!!!
Saatnya anak-anak muda membangun narasi sendiri, membangun instrumen sendiri untuk menyelamatkan demokrasi dan NKRI.

Saatnya orang-orang dibangunkan
Saatnya orang-orang disadarkan

Kita mulai dari titik nol diujung Indonesia
Membangun narasi anak muda menyelamatkan Demokrasi
Pawai Kebangsaan adalah pawai membangunkan dan menyadarkan orang-orang bahwa ada yg harus dilakukan untuk menyelamatkan Indonesia dr otoritarian….

Merdeka Bro!!!

Irfan Enjo

Tinggalkan Komentar