Karl Marx mencetuskan masyarakat tanpa kelas pada tahun 1948. Ia berhadapan dengan ketimpangan sosial ekonomi akibat dari perubahan cara produksi, mengalami secara langsung fase paling tidak manusiawi dari revolusi industri, kesengsaraan manusia, distribusi kekayaan yang tidak merata, kondisi hidup yang menyedihkan dan ekploitasi buruh sehingga ia terus menggaungkan masyarakat tanpa kelas.

Konflik yang utama dalam kelas adalah antara kapitalis dan proletar. Proletar masyarakat kelas dua yang miskin. Dan kapitalis-kapitalis yang sibuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Hari ini, setelah puluhan tahun Karl Marx menggaungkan masyarakat tanpa kelas, nyatanya tidak banyak yang berubah. Kita masih dalam kungkungan kolektifitas yang menajamkan jarak antara si kaya dengan masyarakat miskin, kita malah menciptakan kapitalis-kapitalis baru. Kita masih memandang bahwa kaum proletar adalah keniscayaan hidup, kita masih berfikir bahwa mereka masyarakat miskin itu memang dilahirkan untuk ‘diperbudak’.

Harusnya kita ikut serta mengentaskan kelas dalam masyarakat, menjunjung keadilan bagi semua kelompok masyarakat, juga turut memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Harusnya negara menanggung hidup masyarakat miskin hingga kaum proletar tak lagi ‘diperbudak’ para kapitalis.

Harusnya kita bisa memacu produktivitas masyarakat usia produktif di kampung-kampung, mendidik anak-anak kita menjadi pribadi yang tangguh dan mendukung kemajuan bangsa, hingga terwujud masyarakat tanpa kelas.

Tinggalkan Komentar