Jakarta, Jurnalpublik.com – Saya ingin menggaris bawahi satu hal yang penting, kelahiran KAMMI adalah memulai satu transisi rezim dari rezim otoriter menjadi rezim demokrasi dan fase pertama sudah sukses , tidak ada lagi otoritarianisme , kita harus menghayati kejahatan otoritarianisme ini. secara baik, sehingga kita tidak boleh mengatakan rezim otoriter itu lebih baik.

Otoritarianisme itu tidak boleh diampuni, tidak saja karena kejahatannya kepada manusia, tetapi juga karena dia merampas hak hak Tuhan didalamnya, karena negara yang dipimpin oleh kaum otoriter, kadang – kadang ingin lebih berwibawa dari wibawa Tuhan , dan karena itulah kita melawan, itu satu, yang kedua tugas KAMMI selanjutnya adalah, setelah kita membaca transisi dan hidup dalam transisi hampir 20 tahun, kita harus punya kesimpulan tentang postur dari kelembagaan negara yang final, dan jangan ikut – ikutan memperpanjang masa transisi, sebab itu nanti menjadi beban bagi negara, kenapa saya berkhotbah untuk mendukung kelembagaan inti negara, karena menurut saya kelembagaan transisi itu justru memperpanjang dari masa dan ongkos dari transisi sejaah itu sendiri, atau negara itu sendiri.

Tadi disebut dengan densus, saya tidak peduli dengan densusnya . Tapi kepolisiannya, kejaksaannya, pengadilannya, itu harus difinalkan sebagai lembaga negara yang inti dan tidak boleh lagi penegakan hukum diselenggaakan secara adhoc, dia harus diselenggarakan secara permanen, sebab hukum itu harus punya landasan filsafat yang harus jelas , selain setiap lembaga negara harus bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan yaitu di pasal 27 UUD 1945, dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tanpa ada kecualinya , karena itu dalam kebersamaan statusnya didepan hukum  harus diselenggarakan oleh lembaga negara yang permanen, sifatnya itu Lex Stricta, harus jelas, Lex Scripta, harus tertulis, Lex Certa, harus ketat, tidak boleh ada multiinterprestasi terhadap hukum.

Saya sering mengatakan berkali – kali betapa Allah itu mencintai manusia sampai Allah menuliskan firman yang ditulis dalam kitab sehingga bisa diwariskan, dari masa ke masa, secara lebih permanen, kenapa ? karena harus ada yang pasti, jika membuat mengambang pikiran manusia tanpa batas – batas, manusia bisa menciptakan kerusakan di muka bumi ini, sehingga kemudian kita semua menuju kehancuran, seperti yang terjadi di banyak tempat, batas – batas menjadi hilang, manusia kawin dengan sesama jenisnya, manusia ingin mencoba menciptakan manusia, manusia merusak segala macam aspek dari kehidupannya, inilah yang harus dijaga oleh agama.

Nah karena itulah saya kira, sekali lagi, mari kita mengkaji, mengakhiri transisi itu seperti apa, sehingga besok ketika kita hadir dalam 20 tahun reformasi, tuntutan kita adalah mengakhiri transisi, dan untuk itu harus presiden yang memimpinnya , bukan orang lain, orang lain itu adalah anggota orkestra, dirijennya itu namanya presiden, jangan presiden ini turun menjadi pemain orkestra, sementara dia adalah dirijen, dia ga boleh jadi gitaris, dia ga boleh menjadi pianis, tapi dia dirijen. apalagi menjadi vloger – vloger seperti itu.

Fahri Hamzah

Tinggalkan Komentar