Jakarta, Jurnalpublik.com – Separuh mengenali musuh dakwah di Nusantara adalah membaca biografi dan analisis seputar Leonardus Benny Moerdani. Karya Salim Said (2013), “Dari Gestapu ke Reformasi” satu contoh yang kudu dikhatamkan. Aktual bagi awam terlebih ada beberapa yang serasa menonjok kala dikaitkan dengan kekuasaan yang memerintah hari ini. Kedekatan Salim dengan petinggi militer sudah terbangun lama. Itu sebabnya ia bisa masuk ke ring satu Benny dan anak didiknya.

Mengenali lawan adalah membaca cara berpikir dan bertindaknya. Di buku Salim Said ini, disebut jelas sang anak emas Benny: LBP, nama yang hari ini pasang badan dalam soal reklamasi di daerah Ibu Kota. Mengapa LBP bertindak begini dan begitu, sebenarnya bisa ditarik dari cara sang guru berpolah. Tidak begitu moncer dalam karier tempur, LBP justru kian (me)matang(kan) ilmu intelijen sang guru sejak menjadi duta besar di Singapura. Dan hari ini hanya pembuktian kemampuannya.

Lihat bagaimana ia sentimentil pada Prabowo Subianto (dan yang serupa atau mengagumi anak Pak Soemitro Djojohadikusumo ini). Bagaimana LBP tak berbelas kasih pada kalangan mayoritas. Di sisi lain bagaimana ia menjalin kedekatan dengan pengurus elit dan sosok karismatik di struktur Nahdliyin; atau terkesan “membiarkan” kalangan Islam pencibir Islamis politik. Atau bagaimana ia mengendalikan kekuatan negara bernama Polri (tidak Angkatan Darat karena banyak “dipegang” kalangan mayoritas Islam santri elitnya) lewat sosok eks Kadensus 88, GM, yang tak menutup diri sebagai islamofobia namun kini jadi penasihat Presiden.

Kita akan dari pola. Dan pola dari sang guru akan direplikasi, direpitisi, bahkan dimodifikasi ataupun direvisi. Tapi kalaulah Muslimin tahu asas dan fondasi minda Benny, apa yang diperbuat LBP bisa ditangkal; bisa dilawan kendati bekingan dia kelas kakap. Toh berbeda dengan sang guru yang nyaris berani pasang badan sendiri demi idealismenya, LBP cenderung kurang militan (ingat: kasus memalukan ia kala hendak diterjunkan di Timor Timur). Tapi jangan salah dengan sikap “penakut” dia. Justru secara psikis, inilah dia nekat “membombardir”. Itu sebabnya logika hukum dan banyak hal dijungkirbalikkan. Irasionalitas demi memegang kekuasaan tampaknya cocok pada LBP. Klenik di era Ali Moertopo sang guru dari gurunya, berganti dengan klenik dusta dan hoaks para sipil bayaran.

Sekali lagi: ini pola. Nah, kiranya para aktivis Islam tidak jatuh pada lubang perangkap. Biarlah orang-orang di elit ormas terbesar dan sekumpulan dai pendakwah sunnah masih menikmati posisinya dalam pusara minda Benny. Atas nama dakwah dan Islam penuh rahmat cina tanah air, dakuan mereka. Padahal, mereka satu saat akan menyesali menjadi bagian dari jejaring pembenci Islam, tanpa sadar, di bawah Opung Luhut.

Yusuf Maulana
Pensyarah KA KAMMI 

Tinggalkan Komentar