Jakarta, Jurnalpublik.com – Kita kagum dengan Turki dengan berbagai kemajuannya, padahal Indonesia lebih dari Turki jika dilihat dalam konteks potensi. Indonesia lebih besar dari Turki. Kalau bicara SDA Indonesia jauh lebih besar dari Turki. Kalau dimisalkan, Bila Indonesia 5 keuntungan, Turki hanya 1 keuntungan, 1 itu hanya mewarisi kebesaran Turki Usmani. Namun memang 1 keunggulan ini menjadi pembeda di bangding Indonesia. Semangat orang pemenang berbeda dengan orang-orang yang sudah pernah terjajah. Ada mental Gab.

Albaqarah 143, di jelaskan bahwa Islam adalah umat pertengahan, bicara pertengahan kita ingat garis tengah yang membelah dunia, yaitu garis khatulistiwa. Ada namanya konsep bangsa unggulan, disetiap peradaban ada ciri-ciri negara unggulan. Indonesia memiliki ciri negara unggul dalam. Konteks geografi, Indonesia negara Muslim terbesar yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Indonesia berada pada pusat titik dunia dalam konteks geografi. 3 ayat annaba ayat 9-11, jika kita tadaburi, ayat ini lebih relevan dan lebih cocok di tetapkan di Indonesia. Di Turki, pada musim tertentu malam begitu pendek, dan siang terlalu panjang. Di Indonesia malam dan siang di bagi sempurna. Logikanya untuk efektifitas kehidupan indonesia paling ideal. Sehingga seharusnya kehidupan menjadi produktif karena suasana mendukung.

Turki termasuk negara kuat dibidang militer ke 4 di dunia, namun memiliki kelamahan mendasar yaitu sumberdaya alam, Turki memiliki ketergantungan migas. Turki 90% tergantung pasokan migas dari negara Rusia. Sedangkan Indonesia, sangat kaya dengan raw material, semua kekayaan alam ada di indonesia. Namun yang menjadi persoalan mayoritas di kuasai asing.

Posisi geografis Indonesia yang setrategis sebagaimana dengan Turki. Turki punya selat posporus, Indonesian punya Selat Malaka, dimana 25% perdagangan dunia mengandalkan selat Malaka. Negara jepang, Korea Selatan dan Arab harus melewati Malaka. Apabila seandainya Malaka satu minggu saja ditutup maka akan berpengaruh besar. Oleh karena itu negara-negara besar ingin menarik indonesia dalam konteks bebasnya selat malaka. Namun saat ini yg menerima manfaat adalah Singapura. Karena pelabuhan ada di Singapura.

Indonesia juga punya unggulan utama pada Jumlah penduduk yang besar. Penjajah kolonial kebanyakan adalah negara-negara berpenduduk kecil. Indonesia adalah negara yg di jajah oleh negara yang di jajah negara lain. Negara Indonesia kenapa dijajah begitu lama, tidak lepas dari akibat adanya para pendukung penjajahan yang merupakan orang indonesia sediri, penghianatan. Mental seperti itu sepertinya juga masih ada. Dalam dunia baru Negara besar adalah negara yang jumlah penduduk banyak. Cina pemimpin dunia, faktor utama adalah penduduk. Jumlah penduduk itu didukung dengan besarnya kelas menengah. Turki jumlah penduduk 80 juta, 2/3 nya kelas menengah. Cina saat ini kelas menengah sudah mulai lebih besar dari AS. Kelas menengah adalah penduduk yang well educated dan memiliki independensi ekonomi.

Kita ingat Indonesia akan ada Bonus demografi, 2020-2030 angkatan kerja 70%, 2011 kelas menengah 130 juta. Meningkat 141 juta 2030. Namun kelas mengah indonesia bukan kelas menegah sempurna masih ada persoalan pendidikan dan financial independen. Banyak kelas mengengah indonesia yg masih tergantung orang lain, dan pendidikan hasil dari sistem pendidilan yang tidak matang. Selama ini memang Tidak ada upaya sistemik membangun kelas menengah.

Potensi lain yang tidak dimiliki negara muslim lainnya adalah Indonesia menjadi negara muslim terbesar yang menerapkan demokrasi. Kebebasan dalam mengeluarkan pendapat ada disini. Orang yang tidak bisa berekspresi maka dia tidak akan bisa menghasilkan sesuatu. Indonesia bisa bebas berkespresi dan melakukan banyak inovasi. Namun indonesia memiliki persoalan kesadaran literasi.

Dengan semua potensi ini, sebenarnya Indonesia itu memiliki syarat sebagai bangsa pemimpin. Faktor2 kepemimpinan peradaban ada di Indonesia. Kita punya gen pemimpin dimana kerajaan-kerajaan Indonesia menjadi penguasa di Asia. Seperti turki yang memiliki gen kepemimpinan Turki Usmani.

Langkah dalam membangun kebangkitan umat di Indonesia harus sudah dimulai. Yang pertama membangun kelas menengah yang religius. 2/3 kelas menengah Turki, adalah kelas menengah religius, total hampir 80%. Berbeda jauh dengan indonesia, kalangan kelas menengah muslim belum dominan. Namun adanya fenomena aksi 212 beberapa waktu lalu menunjukan kelas itu sudah mulai gejala bangkit. Gejala ini perlu di berdayakan. Dengan kuatnya kelas menengah religius akan menjadi kekuatan penting untuk mendukung politik Islam.

Kedua adalah, Membangun infrastruktur dakwah yang kokoh. Salah satun yang belum dilakukan adalah memperkuat media. Selama ini dakwah belum memiliki media yang kuat. Media Islam di Turki mencapai 70% saat ini. Mendominasi di banding media sekuler yang tidak pro dengan pemerintah Turki.

Yang ketiga, perlu ada rencana membangun kemandirian ekonomi umat. Urutan orang kaya di Turki 70% orang muslim. Di indonesia masih rendah. 4 orang kaya sama dengan 100 juta yang miskin di Indonesia.

Yang terakhir adalah Meningkatkan kecerdasan literasi. Umat Muslim harus cerdas dalam berliterasi sehingga memiliki pengetahuan yang luas. Dengan melihat alur informasi yang cepat, kecerdasan literasi sangat penting agar dapat memilah-milah informsi secara tepat.

Setelah Turki mampu menjadi negeri muslim yang kuat, Islam akan semakin menjadi kekuatan besar di Dunia apabila Indonesia menyusul sebagai kekuatan baru negeri Muslim.

Resume tausiah Ust Ahmad Dzakirin
Ditulis oleh : Ashabul Kahfi (dengan kata dan kalimat yang telah disusun ulang tanpa menghilangkan makna)

Tinggalkan Komentar