Jakarta, Jurnalpublik.com – Sayyyid Quthb lahir tgl 9 Oktober 1906 dan meninggal pada usia 60 tahun di tiang gantungan atas perintah penguasa pada waktu itu, yaitu Gammal Abdul Nasher.

Sayyid Quthb mendapatkan awal pendidikan Islam dari keluarganya sedangkan pendidikan formal ia mengambil ilmu sastra.

Yang menjadikan Sayyid Quthb melek politik adalah karena ia sejak kecil terbiasa bersinggungan dengan politik karena ayahnya al Haj Quthb bin Ibrahim adalah seorang petani yg juga komisaris partai nasionalis di desanya dan rumahnya menjadi markas kegiatan politik.

Sayyid Quthb memang sejak kecil bersinggungan dengan politik dan revolusi tapi ia baru benar-benar berubah menjadi reformer Islam pada usianya yang ke 40 tahun. Perjalanan hidupnya yg panjang di dunia sastra dan politik membuatnya tersadar untuk menyerukan kebangkitan Islam. Ia pendiri aliran baru dalam penafsiran, yaitu aliran tafsir haraki.

Sayyid Quthb adalah penulis yang produktif sejak kecil, begitupun ketika ia menjadi pemikir Islam.

Hal yang menarik adalah sikap objektif Sayyid Quthb, salah satunya adalah ucapannya tentang fanatisme. Sayyid Quthb berkata, “Dakwah Ikhwanul Muslimin dakwah yang bersih dari fanatisme. Justru, para penentangnya orang-orang fanatik atau orang-orang bodoh yang tidak tahu apa yang mereka katakan”.

Tinggalkan Komentar