Jakarta, Jurnalpublik.com – Dan hari ini adalah hari yang mungkin kita banggakan. Kita bersorak dengan kemenangan karena pelantikan sudah digaungkan. Tapi apa lacur, kita hanyalah sebagai penggembira, saat pemilihan, pun saat pelantikan. Karena kemenangan ini bukan kemenangan kita, ini adalah kemenangan umat. Sedang kita, kita? Apakah kita masih memikirkan umat?

Jika zaman yang ditakutkan Rosul adalah kita seperti buih dilautan nyatanya menjadi buihpun tidak, karena kita tidak banyak, jumlah kita tetaplah sedikit, lalu kita menjadi apa? Berjumlah banyakpun tidak bermanfaat bagi umat pun tidak lagi.

Kita tenggelam dalam kubangan dunia namun menggaku masih bernapas dengan baik. Kita terjebak ditemali yang cemarut tapi masih mengaku semuanya dalam kendali.

Kita tak lebih dan tak kurang hanyalah siput yang mengaku sudah berlari jauh padahal masih ditempat. Kita tak lebih dan tak kurang hanyalah katak dalam tempurung, tak berani menghadapi hujan, apalagi panas, tapi jumawa bukan main.

Kita sibuk mengisi perut, mengipasi saudara, menyalahkan keadaan. Terlebih menyumpahi musuh yang tak seberapa, padahal musuh sebenarnya mengangkangi kita. Kita alpa membaca kawan, buta menilai lawan. Kita dalam kegelapan.

Lenny Hamdi, SE
PN KAKAMMI

Tinggalkan Komentar