Merdeka adalah perjuangan yang belum usai bagi negeri ini. Masih panjang jalan kita untuk meraih makna sejatinya, merdeka dari penghambaan pada sesama makhluk menuju peribadahan pada Al Khaliq, dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia akhirat, dan dari kezhaliman berbagai tata nilai dan adyan menuju Indonesia berperadaban mulia.

Tapi tidaklah patut mengatakan hari ini kita belum merdeka sama sekali, adalah kekurangsyukuran kita semua pada mereka yang telah berkorban menyumbangsihkan harta hingga nyawa untuk berjuang dan memekikan kata itu hingga 75 (tujuhpuluh lima) tahun lalu.

Dimulai sejak gejolak yang diawali gerakan ekonomi pada tahun 1905 dengan Sarekat Dagang Islam (SDI) H. Samanhudi diteruskan dengan Proklamasi Zelfbestuur (kemerdekaan anak negeri) pada Kongres tahun 1916 di Bandung oleh H.Oemar Said Tjomroaminoto, H. Agoes Salim melalui Sarekat Islam (Sekarang Red: Syarikat Islam Indonesia) yang malahirkan tokoh-tokoh sekaliber Maridjan Kartosuwiryo, Musso, Soekarno yang pada saat itu tepatnya 17-08-1945 bersama M. Hatta memproklamirkan kemerdekaan republik ini, kemudian dilanjutkan Buya M. Natsir dari Partai ‘Majelis Syuraa Muslimin Indonesia’ (Masyumi) mengajukan mosi integral di hadapan Parlemen RIS pada 3 April 1950 yang melebur negara-negara federal bawahan Republik Indonesia Serikat kembali ke bentuk negara kesatuan.

Kita harus terus berjuang agar NKRI kita terus naik kuantitas maupun kualitasnya sebagai negara yang hendak melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

NKRI bukan hanya harga mati. Dengan kuantitas besarnya, dengan kualitas tingginya, untuk menginspirasi dunia. Nikmat kemerdekaan harus kita syukuri. Optimisme kepala negara juga harus direnungkan. Kesulitan rakyat juga harus terselesaikan. Kemiskinan dan kebodohan juga harus dihilangkan imbuhnya.

Boleh kita berteriak merdeka. Namun urusan rumah tidak beres-beres. Itu artinya belum merdeka. Belum sejahtera. Belum menikmati kemerdekaan dan kesejahteraan sejati. Boleh kita lantang mengatakan merdeka atau mati. Namun jika masih punya banyak utang, sama saja bohong.

Merdeka itu bebas. Bebas dari kolonialisme. Bebas dari kemiskinan. Bebas dari kebodohan. Dan bebas melakukan apapun yang disertai tanggung jawab. saya mengimbau di Hari Kemerdekaan Indonesia ke 75 tahun ini, marilah kita jadi manusia merdeka. Manusia Indonesia merdeka lahir dan batin.

Kemerdekaan sejati yang kita impikan  akan hadir. Jika para pengelola negara ini, ada dijalan yang benar, tak membudayakan kemunafikan, tak korupsi berjamaah, tak mementingkan diri, keluarga, dan partainya. Selama para penyelenggara negara tak mau berubah, maka kemerdekaan sejati itu hanya ilusi dan isapan jempol belaka.

Dirgahayu tanah tumpah darah negeriku tercinta, takkan kulelah untuk terus mencintai dan mendoakanmu.

Atas berkat rahmat Allah SWT, Merdeka! Mari kita membebaskan manusia menuju kepada kehambaan kepada Allah.

Dengan  siap berjuang untuk NKRI menuju kemerdekaan sejati, Indonesia maju yang berperadaban mulia. #Indonesiamaju #Menujuperadabanmulia #Syarikatislamindonesia

#Pemudamusliminindonesia

 

Penulis: Evick Budianto
Sekjen Pemuda Muslimin Indonesia (2014-2019)

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.