Dahulu, Negeri 1000 Kubah/Rokan Hilir dibentuk dari tiga kenegerian, yaitu negeri Kubu, Bangko dan Tanah Putih. Negeri-negeri tersebut dipimpin oleh seorang Kepala Negeri yang bertanggung jawab kepada Sultan Siak Sri Indrapura. Izinkan tulisan ini diawali dengan beberapa potong kalimat kontemplasi terhadap Negeri 1000 Kubah, Kabupaten Rokan Hilir.

Tanah ini didirikan oleh para datuk tempo dulu, jauh sebelum Indonesia lahir sebagai sebuah bangsa dan negara.

Saat duduk di bangku SD, beberapa kali aku mendengar ungkapan itu dalam buku-buku cerita rakyat melayu. Selain kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ada kesetiaan yang jauh lebih mengakar di dalam masyarakat tanah adat ini yaitu menjunjung tinggi keberadatan dan budi pekerti serta sopan santun yang dipegang sebagian anak negeri. Tanah Negeri 1000 Kubah terhubung ke tuannya bukan hanya secara material, tetapi lebih intim dari hal itu.

Tanah negeri ini punya bagian yang sangat religius bagi penduduknya. Sebab di tanahlah sumber penduduk dapat hidup. Tanah memberikan air, makanan serta tempat penduduk menghidupi diri. Dimensi sakral relasi antara tanah dan penduduk menjadi hal yang perlu dipegang kembali oleh penduduk Negeri 1000 Kubah hari ini. Waktu berjalan, tahun berganti, bumi 1000 Kubah pun berpenghuni berbagai negeri, tidak terkecuali bagi bangsa China, Arab dan lain sebagainya.

Kini tak ada lagi yang ingat, ada hak negeri menikmati janji. Ada hak negeri menerima upeti pembangunan. Ada hak negeri bukan untuk sebatas dinikmati tanahnya, tetapi menjadi tetap lestari dan penduduknya tak sakit hati. Sudah hampir 100 tahun, tanah ini hanya diambil sari tanpa mendapatkan madu yang berarti bagi tuan negeri.

Di sepertiga malam sayup-sayup terdengar tanah ini menangisi diri, tak memiliki arti lagi untuk tuan negeri. Kurang lebih ungkapan di atas akan mewakili perasaan dan kegelisahan negeri beradat, Negeri 1000 Kubah. Sekarang, kami menyebutnya dengan nama Rokan Hilir.

Rokan Hilir adalah tanah air yang sangat kaya. Kalau pernyataan lawas yang sering terdengar “Di bawahnya minyak, di atasnya minyak”. Belum lagi jika dihitung potensi lainnya. Seperti potensi perdagangannya, pertambangannya, pertaniannya, perternakannya, dan lain sebagainya. Akan tetapi kekayaan yang melimpah ruah tersebut masih berbanding terbalik dengan realitas pembangunannya.

Bahkan, sering kali anak negeri hanya menjadi penonton ditambah tak tahu menahu mengapa dan bagaimana ketertinggalan pembangunan/ketimpangan pembangunan begitu terasa di tanah negeri 1000 kubah, Kabupaten Rokan Hilir. Dan dapatkah anak negeri menjadi “Main Actors/Aktor Utama” dari berbagai tantangan dan peluang di Negeri 1000 Kubah ini?

Barangkali berangkat dari hal tersebut, sebagai bagian dari tanah Negeri 1000 Kubah ini, saya pribadi mengusulkan kepada tokoh-tokoh masyarakat, para datuk, para penghulu, para pemuda negeri, kaum intelektual, dan lain lainnya, yaitu sebagai berikut:

1. Harus ada ide besar perbaikan Negeri 1000 Kubah, Kabupaten Rokan Hilir.

2. Harus ada inisiator yang melakukan pengawalan ide untuk perbaikan Negeri 1000 Kubah, Kabupaten Rokan Hilir.

3. Harus ada langkah yang sistematis, terus menerus, serta kolaboratif antara sesama anak negeri dalam menetapkan dan menentukan arah baru kemajuan Negeri 1000 Kubah, Kabupaten Rokan Hilir.

4. Ini adalah panggung para senior dan kerabat yang sekarang sedang melakukan upaya infiltrasi dalam Pilkada 2020, bawalah Ide-ide segar perbaikan, tidak hanya terjebak pada hal yang temporer seperti pertarungan Pilkada dan dinamika di dalamnya.

5. Ide tentang kemajuan Negeri 1000 Kubah, Kabupaten Rokan Hilir harus melampaui semua kepentingan yang ada.

6. Sehingga, pilkada 2020 juga dapat dipandang sebagai upaya lompatan baru bagi anak negeri untuk dapat berjaya dan menjadi tuan yg merdeka di tanahnya sendiri.

Demikian sebatas tulisan, demi Negeri 1000 Kubah. Semoga menjadi bagian kecil dari kontribusi yang lebih besar. Saya akhiri dengan sebuah pantun elok nan lembut.

Pergi belanja ke pasar pagi tak lupa untuk membeli sirih
Berjuanglah tuan demi negeri mandat tuan akan kami tagih

Oleh : Hilkadona Syahendra,SH (Profesional, Public Policy Activist)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.