Jakarta, Jurnalpublik.com – Beberapa tahun terakhir, kalangan muda sangat erat dikaitkan dengan kontestasi politik Indonesia, baik sebagai etalase kampanye maupun calon pemilih yang harus diyakinkan. Hal tersebut tidak lepas dari kondisi demografi penduduk Indonesia, yang mencatatkan angka generasi millenial berusia 20-35 tahun mencapai 24%, atau setara dengan 63,4 juta dari 179,1 juta yang merupakan usia produktif pada 2018. Ihwal yang disebut sebagai bonus demografi tersebut kemudian memiliki korelasi erat dengan proses politik di Indonesia, di mana survei LIPI menyebutkan bahwa 40% suara dalam Pemilu 2019 lalu didominasi generasi millenial.

Kalangan muda juga mulai merangsek ke posisi-posisi strategis yang turut menentukan arah kebijakan bangsa, baik dalam wadah partai politik hingga menjadi penyambung lidah masyarakat di parlemen. Pemilu legislatif 2019 mencatatkan 52 calon berusia di bawah 30 tahun melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR. Di eksekutif, wacana penunjukan menteri berusia muda juga terus didengungkan hingga terpilih Nadiem Makarim, yang pada 2019 lalu masih berusia 35 tahun, menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Hari-hari ini fenomena anak muda di perebutan tampuk kekuasaan kian menggeliat. Sebut saja soal rencana pencalonan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilwalkot Kota Solo akhir tahun ini yang kemudian menjadi diskursus. Perdebatan tersebut tak lain adalah kriteria anak muda yang seperti apa yang dapat eksis di iklim politik Indonesia yang begitu dinamis. Karena apabila ditelaah lebih lanjut, anak muda yang punya nama di pentas politik bangsa ini, telah lebih dahulu menyandang nama keluarga dan kerabatnya. 52 anggota yang lolos ke Senayan misalnya, tak lain adalah putra, putri atau kerabat dari politisi hingga kepala daerah yang telah eksis dan malang-melintang. Gibran tidak perlu dikonfirmasi lagi. Suka atau tidak, Putra Presiden Joko Widodo ini tentu belum dapat lepas dari bayang-bayang hingga privilege Ayahnya yang merupakan pimpinan tertinggi republik.

Gasspoll Institute didukung oleh Jurnal Publik dalam melaksanakan diskusi kali ini yang ingin melihat lebih jauh perihal bagaimana anak muda tampil di pentas politik.

Diskusi ini dilaksanakan oleh Gasspoll Institute menggunakan media zoom dengan ID 950 719 3148 dengan password: GassPoll pada hari Rabu, 29 Juli 2020, pukul 19.30 – 21.00 WIB. Dengan pemateri:

1. Luthfi Hamzah Husin, S.IP, M.A (Dosen Ilmu Politik Universitas Padjajaran).

2. Hudzaifah Muhibbullah (Ketua DPN Bidang Generasi Muda Partai Gelora Indonesia).

3. Agung Purwa Widian (Pemenang Lomba Narasi “Kaum Muda Dalam Arah Baru Indonesia”).

4. Hj. Zita Anjani, S.Sos., M.Sc. (Wakil Ketua DPRD DKI 2019-2024, Politisi Muda PAN).

Memang, kita tidak dapat memilih lahir atau besar dari keluarga mana, namun faktanya mereka yang telah eksis, tersokong oleh nama besar keluarganya. Partai politik sebagai sarana pendidikan dan kaderisasi politik kemudian menjadi sorotan karena melanggengkan praktik “politik biologis” tersebut, dan belum memberikan tempat untuk tumbuh kembang kaderisasi “politik ideologis”.

Lantas bagaimana nasib anak muda yang punya potensi namun tidak lahir dari keluarga ternama? Apakah mereka tetap akan tumbuh secara gradual, atau tidak lama kemudian menjadi mangsa mereka-mereka yang mendapat rekomendasi atas nama dinasti?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.