Jakarta, Jurnalpublik.com – Keraguan publik berikutnya adalah apakah Partai Gelora Indonesia akan sama dengan partai lamanya Anis Matta atau berbeda? Jika berbeda dimanakah perbedaannya?

Ini adalah tantangan sekaligus peluang untuk menunjukkan “differensiasi” dari partai lama. Tetapi “differensiasi” ini bukan dengan pendekatan “asal beda”, dalam hal ini tidak bisa kita mengambil persepsi dengan ekstrem, karena pada akhirnya berbeda atau tidak itu tergantung persepsi dan penilaian publik. Dalam aspek ini Partai Gelora Indonesia dalam perjalanannya fokus pada beberapa hal yang mungkin saja hal ini yang membuat berbeda, bisa juga tidak, lagi-lagi tergantung persepsi publik.

Pertama, Partai Gelora Indonesia mengawali langkahnya dengan KETERBUKAAN. Tidak ada yang ditutup-tutupi dalam proses perjalanannya. Bahkan setiap tahapan selalu dibuka ke publik. Nilai-nilai dasar pendiriannya dibuka ke publik dan siap direspon publik. Era demokrasi adalah era keterbukaan, dimana semuanya bisa di audit publik, apalagi dalam era sosial-media, setiap peristiwa apapun mudah menjadi konsumsi publik. Fahri Hamzah sebagai Wakil Ketua DPN Partai Gelora Indonesia berfungsi pula sebagai juru bicara, dan siap bertarung ide, gagasan dan berdialektika tentang semua bab tentang negara dan demokrasi. Dan di tiap wilayah dan daerah semua pimpinan partai adalah juru bicara yang terbuka untuk berdiskusi dan berdialektika dengan publik.

Kedua, Partai Gelora Indonesia mengedepankan cara kerja KOLABORASI. Superman is dead, superhero is dead. Ke depan adalah saatnya membangun kekuatan kolaborasi, bukan kekuatan kelompok atau golongan. Demokrasi ke depan tidak ada lagi partai politik superhero atau partai politik sapu jagad yang merasa bisa memperbaiki bangsa ini sendirian, membangun bangsa sebesar Indonesia tidak bisa sendirian. Oleh sebab itu, sejak awal platform partai adalah kolaborasi, membangun kekuatan tim besar sebagai bangsa untuk masa depan Indonesia. Anis Matta menyebutnya dengan Creative Collaboration.

Ketiga, Partai Gelora Indonesia sejak awal selalu membangun kinerja agar selalu RELEVAN dengan semua situasi dan kondisi serta persoalan bangsa. Karena filosofi dasar pendirian partai adalah solusi terhadap persoalan bangsa. Kinerja dibangun agar selalu relevan dengan zaman, relevan dengan setiap generasi, dan juga relevan dengan semua kepentingan nasional.

Keempat, Partai Gelora Indonesia selalu menjaga prinsip KESEIMBANGAN.
a. Menjaga keseimbangan antara gerakan pemikiran, sosial dan politik. Semua dilakukan sesuai dengan porsi yang dibutuhkan dan relevan.
b. Menjaga keseimbangan antara religiusitas dan nasionalisme. Sejak awal Partai Gelora Indonesia tidak mau terjebak pada dikhotomi partai Islam atau partai agama dan partai nasionalis. Karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang nasionalis sekaligus religius. Pada aspek inilah partai fokus, membangun negara dengan dengan nilai-nilai religiusitas bangsa.
c. Menjaga keseimbangan antara partai kader dan partai massa. Kader tetap menjadi basis partai untuk bekerja, tetapi kader berfungsi sebagai inisiator dan kolaborator. Pekerjaan partai selalu melibatkan massa dan publik dengan cara-cara creative collaboration.
d. Menjaga keseimbangan antara kepentingan rakyat, dunia usaha dan penguasa. Rakyat, dunia usaha dan penguasa bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Penguasa memiliki kewenangan regulasi/kebijakan, dunia usaha adalah lingkungan dimana ekonomi berputar untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Jadi ini adalah satu kesatuan dalam mewujudkan Indonesia yang sejahtera.
e. Menjaga keseimbangan antara tradisi pengembangan ilmu pengetahuan dengan kontribusi terhadap solusi persoalan bangsa. Partai meyakini bahwa ilmu pengetahuan adalah alat baca dan kesuksesan masa depan, tetapi ilmu pengetahuan yang secara praktis menjadi solusi setiap persoalan manusia dan bangsa, bukan hanya sekedar kepentingan ilmiah atau akademis.

Kelima, Partai Gelora Indonesia berorientasi KESEJAHTERAAN. Karena partai meyakini bahwa output negara adalah sesuai dengan yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945; “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Semua itu terangkum dalam kata kesejahteraan. Output negara pada akhirnya adalah kesejahteraan, dalam terminologi umum atau dalam terminologi agama. Oleh sebab itu partai tidak ragu mengatakan bahwa partai didirikan untuk berkuasa, tetapi kekuasaan yang ingin menyejahterakan rakyat.

Lima point ini kira-kira interpretasi saya pribadi _(unofficial)_ tentang point-point kenapa Partai Gelora Indonesia memiliki differensiasi. Sekali lagi differensiasi ini adalah hak publik untuk menilai, dan point-point ini akan terus diuji di lapangan, diaudit publik serta mungkin saja “klaim” semata. Tapi secara jelas ini adalah sebuah “ijtihad”, sebuah gagasan dan komitmen, semuanya waktu yang akan menjawab.

Oleh: irfanenjo
3 Mei 2020

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.