Jakarta, Jurnalpublik.com – Anda mengisi #WFH dengan kegiatan apa?.

Salah satu yang saya rutin lakukan selama 2 bulan ini, berbicara dan saling bertukar kabar dengan beberapa orang. Terutama dengan beberapa kawan di berbagai negara. Yang tak banyak juga jumlahnya kawan saya itu.

Isi pembicaraannya seputar sana sini update situasi. Tentang perkembangan melawan pandemi. Juga saling mengirimkan harapan dan doa-doa. Itu saja sudah menyenangkan sekali di situasi begini.

Salah satu yang rutin saya hubungi dan dia juga rutin menghubungi, seorang kawan saya yang tinggal di Malaysia. 3 atau 4 hari sekali kami berbincang.

Dia sebenarnya bukan dari Malaysia. Bukan orang Melayu. Dia diaspora. Lahir hingga remaja di Hebron di Tepi Barat, lalu hijrah ke Malaysia.

Dia hijrah sejak awal 2003 bersamaan momentum meletusnya perang Iraq. Saat itu usianya baru 17 tahun. Awalnya, kedatangannya ke Malaysia sebenarnya untuk studi. Tapi kemudian keterusan menetap di negeri Jiran. Kini, dia membangun keluarga di Kuala Lumpur. Istrinya orang Melayu.

Kenapa keterusan?. Tahun 2003 dan sesudahnya itu, situasi Palestina dan kawasan Timur Tengah memang tak kunjung membaik. Situasi politik di Palestina yang begitu mencekam dan tekanan dari pihak keamanan di Tepi Barat yang begitu keras menjadi alasan banyak orang mencari tanah baru.

Bagi kawan saya, alih-alih pulang, posisinya di Malaysia justru dia gunakan untuk membangun jaringan organisasi kemanusiaan, dan menolong banyak pengungsi dari negaranya yang datang. Lebih bermanfaat.

Kawan saya ini, Muslim Imran namanya. Profesinya peneliti dan penulis. Dia kandidat doktor di University of Malaya. Dia juga pengamat politik. Terutama tentang politik internasional di Middle East. Banyak sekali video wawancaranya dengan televisi nasional Malaysia dan luar Malaysia. Dari Al-Jazeera hingga televisi Eropa.

Sehari-hari, dia disibukkan oleh organisasinya. Dia adalah Ketua Organisasi Kebudayaan Palestina di Malaysia. Organisasi yang mengorganisir orang Palestina di Malaysia. Dia kelola kegiatan sosial budaya hingga distribusi bantuan kemanusiaan. Semua dia organisir. Dibantu wakilnya yang bernama Waleed.

Tapi tanggung jawab dia ini sebenarnya besar sekali. Lebih besar dari organisasi yang dia ampu. Lebih besar dari urusan kita. Tak cuma warga Palestina di Malaysia yang dia harus perhatikan. Dia juga membantu banyak hal terkait kebutuhan warga Palestina di 12 negara sekitar Asia.

Dia keliling dan rutin berkunjung terus di 12 negara tersebut. Terakhir, 4 Maret saat saya di KL, kami mesti saling atur jadwal bagaimana bisa jumpa dan membicarakan sesuatu dengan dia karena dia baru mendarat dari Maladewa.

Di banyak pertemuan yang berkaitan dengan Palestina, dia banyak terlibat. Termasuk 2 pertemuan terakhir yang saya ikuti. Forum Parlemen Dunia Untuk Palestina di Turki 2 tahun lalu dan tahun ini di Kuala Lumpur. Dia jadi pengarah kegiatan.

Orang yang punya andil besar dibalik terpilihnya Indonesia sebagai salah satu pimpinan Forum Parlemen Dunia Untuk Palestina ya kawan saya ini. Berawal dari perbincangan berdua di sebuah cafe, lalu mengalirlah semua rencana kami itu.

Koneksinya luas. Terutama dengan anggota dan pimpinan parlemen dunia Islam yang concern dengan isu Palestina. Dia rutin jalin komunikasi dengan banyak orang.

Dia sudah berkunjung 4 kali ke Indonesia. 2 kali saya bersamai saat menemui bang Fahri Hamzah. Tahun ini dia berencana melakukan kunjungan untuk bertemu pimpinan DPR RI dan salah satu menteri kabinet. Tapi Corona membubarkan semua rencana. Padahal surat dan jadwal pertemuan sudah kami bahas beberapa hari.

30 Maret yang lalu, dia kirimi saya gambar kampanye. Peringatan Palestina Land Day. Ini peringatan tahunan bagi warga Palestina. Tentang tewasnya enam warga Palestina di tangan pasukan Israel ketika pecah demonstrasi pada tahun itu. Demo ini menentang rencana pencaplokan tanah Palestina di Galilea seluas 2.000 hektar.

Kejadiannya 30 Maret 1976. Bagi warga Palestina, pencaplokan tanah Galilea itu peristiwa menyakitkan. Kejadian 44 tahun lalu, tapi terus diperingati setiap tahun, menandai begitu terlukanya Palestina pada peristiwa itu.

Pencaplokan tanah seluas itu, luar biasa dampaknya bagi ekonomi warga Palestina. Juga bagi akses hidup dan keseharian. Juga bagi kedaulatan politik. Juga bagi masa depan sejarah.

Di Indonesia, tanah seluas itu hanyalah izin perkebunan skala kecil dan izin tambang yang dulu bupati-bupati gampang kasih ke banyak orang. Termasuk ke perusahaan asing, yang warga sekitar lokasi tak kenal dan tak mendapatkan keuntungan ekonomi.

Lebih cilaka lagi kalau RUU Cipta Karya jadi disahkan. Umur Hak Guna Usaha (HGU) diusulkan sampai 90 tahun. Alias hampir 2 generasi tanah kita dikelola investor yang masuk dan mendapatkan izin. Lalu dimana posisi warga sekitar? Mereka jadi dapat apa?

Dua hari kemudian, Imran kirimi saya lagi video seruan dari Amnesty International untuk pemerintah Israel. Agar warga Palestina diberikan akses untuk obat dan layanan kesehatan.

Obat dan layanan kesehatan itu barang mewah sekali di Palestina. Alias sulit didapat. Jangankan dalam situasi pandemi. Dalam situasi normal saja, mereka sudah kesulitan.

Sepekan lalu, dia ceritakan bagaimana situasi Lockdown Malaysia.

Di Malaysia, Pemerintah Diraja sudah berlakukan Lockdown sejak 16 Maret. 10 hari sebelumnya saya masih di sana. Dan situasi memang terasa sekali akan ada upaya penguncian seluruh wilayah.

Seorang kawan saya di Jakarta yang datang ke Malaysia pada pertengahan Maret, sekarang terjebak di Kuala Lumpur dan terpaksa menginap di Ritz Carlton Bukit Bintang. Sudah sebulan menginap. Beruntung sekali saya keburu pulang sebelum ada Lockdown.

Aturan Lockdown Diraja Malaysia namanya Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) atau Movement Control Order (MCO). Ada 6 larangan; larangan aktivitas massa, larangan keluar negeri, larangan masuk WNA, penutupan sekolah, penutupan kampus, dan penutupan institusi pemerintah.

Banyak warga Malaysia yang hari ini merasa sudah sulit hidup karena MCO itu tadi. Tapi bagi Imran dan 5000 warga diaspora Palestina di Malaysia, yang dilakukan Israel pada warga Palestina, situasinya jauh lebih sulit.

Situasi saat ini tak ada apa-apanya dibandingkan situasi Palestina berpuluh tahun kebelakang hingga hari ini.

Imran bernostalgia.

“Bro, pembatasan pergerakan dan hidup di bawah jam malam adalah teman kami sehari-sehari di Palestina”.

“Ini bukan barang baru bagi kami. Bahkan hari ini, warga Palestina di sepanjang Jalur Gaza dan Tepi Barat hidup kekurangan listrik karena sanksi BBM. Ajaib kalau ada listrik 24 jam nyala di sana”.

Selain soal akses kebutuhan dasar, pasukan Israel juga membatasi peziarah Palestina untuk mengunjungi Masjid Al-Aqsha.Walaupun rumah Imran hanya 30 menit dari Masjidil Aqsha, dia tidak bisa masuk kesana. Diusir. Harus dapat izin dulu baru boleh ibadah.

Akibat Lockdown pemerintah Israel sejak berbelas tahun, warga Palestina hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih dari 50 persen adalah pengangguran.

“Situasi saudara kita di Malaysia sendiri bagaimana?”

“Situasinya sulit juga. Banyak yang tertekan. Tapi kita harus hadapi”.

Ada sekitar 5.000 warga Palestina yang berada di Malaysia. 3000 di antaranya pelajar dan 1.000 lainnya pengungsi. Sisanya ekspatriat dan profesi lainnya (ada yang jadi dosen dan pekerja asing).

Para pengungsi Palestina, banyak yang datang ke Malaysia setelah perang Irak meletus pada 2003. Itu gelombang besar pertama. Gelombang pengungsi itu lalu kembali berdatangan setelah Perang Suriah meletus pada tahun 2011.

Jumlah 5000 orang itu, sekarang jadi komunitas yang paling besar dibanding komunitas Arab lainnya di Malaysia. Mungkin juga Asia. Mereka adalah kelompok yang beresiko di tengah pandemi.

Selain resiko terinfeksi karena kultur komunal itu tadi, mereka juga kesulitan ekonomi. Ada sekitar seratusan orang pengungsi yang kehilangan pekerjaan mereka.

Mereka rata-rata bekerja di restoran, sekolah, tukang ledeng, tukang listrik dan tukang lainnya. Yang penting kerja halal dan berkah. Sekarang mereka kesulitan.

Pekan-pekan ini, organisasi yang diampu Imran menyalurkan bantuan kepada para pengungsi Palestina agar mereka dapat bertahan di masa MCO.

Sumber bantuannya dari banyak donatur rutin dan lembaga kemanusiaan. Bentuknya kupon makanan dan paket. Itu pun tak banyak. Hanya untuk seratusan keluarga Palestina. Dari Pemerintah Diraja belum memberi paket bantuan. Mungkin karena statusnya yang bukan warga Malaysia.

Pemerintah Diraja sendiri sudah memperpanjang MCO hingga 28 April. Mungkin bisa lebih lama. Karena jumlah penduduk terinfeksi masih sangat banyak.

Pekan lalu, dia bertanya tentang kabar Indonesia.

“Indonesia sulit. Banyak yang kena Corona juga”, kata saya.

“Stay safe brother”.

“Insya Allah.. Bro juga. Semoga Allah jaga kita”

“Semoga pandemi ini segera berlalu” katanya

“Aamiin Yaa Robb”

Tak lama, dia kirim link video dia yang sedang melakukan diskusi online dengan Steven Sim.

Steven Sim ini adalah anggota parlemen dari Democratic Action Party (DAP), salah satu partai rising star anggota koalisi Pakatan Harapan. Banyak anak muda masuk partai ini, karena pandangannya yang lebih terbuka dan progresif. Hasil raihan suara DAP melimpah melebihi ekspektasi banyak pihak.

Steven Sim sendiri pernah menjadi Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga selama 2 tahun terakhir, sebelum lengser karena perubahan kekuasaan dari Mahathir ke Muhyiddin.

Saya komentar singkat: “Cool. Mantap”.

Imran tahu maksudnya. Saya memang pernah bilang saat kami menikmati kopi berdua beberapa waktu lalu. Jaga hubungan dan banyak orang. Gagasan kemanusiaan tak kenal ras.

Sampai saya bilang dengan sangat jelas: “Bro tak punya masalah ‘kan dengan etnis China”. Dia jawab tak masalah.

Imran sebenarnya lebih terbuka dan luas pikirannya. Pada sebuah malam, saya, Imran, Waleed, dan bang Fadli Zon makan durian berempat. Kami berdiskusi tentang tokoh-tokoh gerakan kemanusiaan di Eropa. Termasuk kelompok kiri. Imran mampu mengimbangi cerita bang Fadli yang pengetahuan soal gerakan dan aktivisme-nya, luas.

Di kesempatan obrolan lain, saat kami sedang berdua, dia sempat menyinggung partai-partai di Indonesia. Termasuk informasi rintisan partai yang baru lahir. Radar kawan saya ini tinggi.

Kata dia, kalau partai mau besar, ajak semua orang bergabung. Orang dengan pikiran beragam, bisa mewarnai dan bisa saling mengisi.

“Gimana sekarang. Sudah bisa kerja atau di rumah?”, tanya dia.

“Semua di rumah bro. Masih Work From Home”

“Semoga Allah melindungi bro dari kesusahan”

“Aamiin ya Allah.. Begitu juga dengan bro..”

“🙏🏻🌹”

Beberapa hari tak menghubungi, semalam Imran mengirimi saya video. Setelahnya dia tulis pesan:

“Remembering DR. Fadi Al Batsh, assassinated 2 years ago by Zionist murderers in Kuala Lumpur”.

21 April kemarin memang tepat 2 tahun tewasnya Fadi Mohammad Al Batsh, seorang diaspora, ilmuwan ahli pembuat roket dan pengajar asal Palestina yang menetap di Malaysia. Fadi ditembak di belakang kepalanya saat hendak shalat subuh di masjid.

Lebih tepatnya diberondong. Karena ada 10 tembakan bersarang di tubuhnya. Mungkin juga ditembak kepalanya dan setelah itu diberondong. Atau bisa juga diberondong dan setelahnya ditembak belakang kepalanya.

Fadi tewas di dekat rumahnya di Kuala Lumpur yang damai.

“Yang terbunuh 2 tahun lalu kan..?”, tanya saya sekedar memastikan.

“Iya”, jawabnya

“Bahkan di KL saja ada zionis yang menyusup…”

“Mereka ada dimana-mana”, katanya.

Susah sekali hidup orang Palestina. Di tanah airnya direpresi, di kekang dan diusir. Di tanah harapan terancam penyakit, kehilangan pekerjaan dan diintai intelijen Zionis dari ruang gelap bak kerja pandemi Corona.

22 April 2020

Oleh: Bambang Prayitno (Alumni KAMMI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.