Covid-19: Risk Ranking
Covid-19: Risk Ranking

Jakarta, Jurnalpublik.com – Ada satu kata yang kini menjadi favorit di permukaan bumi di hari-hari terakhir. Dari 7,7 milyar manusia yang hidup di muka bumi, lebih dari 1 milyar yang hari ini bertanya; “kapan?”;

“kapan kita akan sekolah lagi?”
“kapan kami bisa berkumpul lagi?”
“kapan bisa kunjungi orangtua lagi?”
“kapan bisa bekerja di luar lagi?”
“kapan aktivitas normal kembali?”
“kapan bisa bepergian lagi?”
“kapan shalat jamaah di masjid lagi?”
“kapan kebaktian di gereja lagi?”
“kapan kita menikah?”

Dan puluhan deret pertanyaan “kapan” lain yang masih mengantri. Semua dimulai dengan kapan. Semua orang diliputi kebingungan. Sebagian besar gusar dan cemas dengan situasi yang serba tidak pasti.

Ini serangan Corona yang sebenarnya lebih dahsyat dari serangan fisik. Hanya 2.4 juta orang yang dirawat fisiknya. Tapi ada potensi 1 milyar orang yang diserang psikisnya. Dan ini menyerang semua lapis masyarakat. Bisa meledak dalam bentuk apapun kapan waktu. Se-stabil apapun sebuah negara, pasti mewaspadai efek “kapan” ini.

Untuk seluruh pertanyaan “kapan” itu, ada 1 jawaban sederhana dan kita tahu semua. “Nanti kalau Corona mereda”.

Iya, kapan?. Kita pasti dicecar lagi. Ada 2 jawaban; 1). Kalau kita semua berhasil mengatasi penyebaran Corona. 2). Kalau vaksin sudah ditemukan, diproduksi massal, dibeli negara kita dan digunakan secara massal.

Untuk jawaban 1, bisa terkait dengan jawaban 2 bisa juga tidak. Kenapa begitu?.

Pertama, karena sifatnya yang terus menerus melakukan transmisi lewat manusia dan manusia yang sifatnya yang selalu bergerak, maka potensi Corona untuk muncul terus itu ada.

Kedua, karena sifatnya yang mampu bertahan dalam berbagai jenis musim, maka tidak ada faktor eksternal yang bisa menghambat penyebaran virus. Yang dilakukan hanya agar penyebaran berjalan lambat.

Ketiga, dengan kemampuan menemukan vaksin, memproduksi dan menyebarkan kepada seluruh titik di dunia, maka batas toleransi yang dihitung oleh para ilmuwan, setidaknya hingga 2021 atau 2022 situasi ini (pembatasan dan lain-lain) baru mereda dan kembali normal.

Alasan yang ketiga ini yang tadi saya katakan ada hubungannya dengan jawaban nomor 2 (kalau vaksin sudah ditemukan).

Salah satu tim peneliti yang bisa menjadi rujukan bahwa dunia akan normal pada 2022, misalnya proyeksi yang dilakukan oleh Stephen M. Kissler, Christine Tedijanto, Edward Goldstein, Yonatan H. Grad, dan Marc Lipsitch dari Department of Immunology and Infectious Diseases dan Department of Epidemiology Harvard School of Public Health Amerika.

Proyeksi tersebut kemudian dibuat dalam sebuah laporan yang berjudul “Projecting the Transmission Dynamics of SARS-CoV-2 through the Postpandemic Period” dan diterbitkan pada 14 April lalu.

Kembali ke jawaban nomer 1. Bagaimana cara kita mengatasi Corona?. Mengatasi di sini yang dimaksud adalah meminimalisir jumlah yang terinfeksi dan memperlambat penyebaran hingga grafiknya melandai.

Cara meminimalisirnya; 1). Masing-masing orang berinisiatif meningkatkan imun. 2). Membatasi pergerakan orang agar potensi sentuhan fisik dan transmisi menjadi berkurang.

Artinya, akan ada serangkaian kerja berulang dari otoritas kesehatan pastinya. Mulai dari melakukan tes terus menerus, memonitor dan membuat data, membatasi pergerakan orang, mengisolasi dan menyembuhkan. Lalu kembali lagi siklus awal.

Dan begitu terus yang kita lakukan sampai vaksin ditemukan. Atau, jumlah pasien benar-benar tinggal sedikit sehingga petugas kesehatan lebih leluasa bergerak.

Contoh nyata, Taiwan dan China. Taiwan yang pada pekan pertama April sudah declare akan membantu 10 juta masker ke berbagai negara di Eropa dan Amerika sebagai bentuk simbolik keberhasilannya menangani Corona, per hari ini masih mendapatkan tambahan pasien baru sebanyak 25 orang.

China juga seperti itu. Otoritas kesehatan Hubei dan Wuhan yang pada pekan ketiga Maret sudah menyatakan menang melawan Corona, per hari ini masih ada tambahan kematian 8 orang karena Corona. Bahkan hingga pekan kedua April ada tambahan pasien 60-100 orang setiap harinya. Katanya dari transmisi luar.

Begitulah. Siklusnya berulang. Berputar-putar. Orang-orang terinfeksi, menular (transmisi), berhasil ditangani, orang-orang yang sakit jadi sembuh, tak lama Corona datang lagi lewat orang sehat lain yang belum terinfeksi. Seperti anjing yang mengejar ekornya sendiri.

Bahkan otoritas kesehatan di Wuhan menyampaikan lewat Life Times bahwa ada sekitar 5-10 persen pasien di fasilitas karantina Wuhan yang dinyatakan sembuh, tak lama kemudian kembali positif Corona.

Tapi, karena jumlah pasien tinggal berapa ribu dan bisa ditangani oleh petugas kesehatan, Wuhan sekarang sudah beraktifitas normal. Masih dilakukan pembatasan tapi tidak lockdown. 90% industri dan kegiatan ekonomi sudah mulai berlari.

Lalu, ada pertanyaan “kapan” lagi. Kapan kita bisa mencapai seperti situasi Wuhan dan Taiwan yang sudah masuk ke siklus setengah normal?.

Kalau perhitungan dari peneliti Indonesia bervariasi. Kita ambil prediksi dan perhitungan Alumni Matematika UI. Mereka buat perhitungan dan prediksi kapan pandemi Corona akan berakhir di Indonesia.

Kalau kita berlakukan ketat kebijakan pergerakan manusia (strick intervention) seperti physical distancing, ada pembatasan lalu lintas manusia, WFH; maka puncak pandemi ada di 16 April dan Corona turun drastis pada akhir Mei-awal Juni.

Tapi, kalau kita setengah ketat (medium intervention), masyarakat dibiarkan setengah bebas, maka puncak pandemi ada di 2 Mei dan kemungkinan berakhir di akhir Juni-awal Juli.

Dan kalau kita longgar intervensinya (small intervention), ada pembatasan di ruang pertemuan misalnya, tapi tidak ada hukuman bagi yang melanggar maka puncak pandemi Corona akan berada di 4 Juni, dan berakhir di akhir Agustus-awal September.

Harusnya yang kita lakukan, pertama, kerja terus. Tak apa bekerja dengan siklus berulang. Yang penting detail dan disiplin. Ada mitigasi kesehatan dan mitigasi ekonomi yang menjadi fokus perhatian. Kedua, mulai memikirkan inovasi terkait mitigasi kesehatan dalam menghadapi Corona bisa efektif dan segera landai.

Ada 405 T dana stimulus yang digelontorkan untuk Corona. Pastikan tepat sasaran. Pastikan untuk meminimalisir akibat dari pertanyaan “kapan”. Pastikan diawasi dan ada kontrol agar tidak menjadi ajang bancakan ditengah bencana.

Kalau dengan 405 T pemerintah tak bisa membuat landai grafik penularan dan tak bisa meredam pertanyaan gusar “kapan” puluhan juta orang; seperti pertanyaan “kapan kami bisa makan” misalnya, maka sudah kebangetan. Infrastruktur ada, sumberdaya ada, dananya ada. Tinggal kerja.

Walaupun banyak dari kita ragu soal itu. Masa iya kita serius. Masa iya pemerintah serius. Masa iya ada ‘strict intervention’. Karena situasi hari ini seperti situasi normal saja. Anggap saja kita sedang dalam situasi ‘small intervention’.

Ya sudah. Apa mau dikata.

Mungkin pemerintah kita sebenarnya berharap-harap soal vaksin. Sambil keluarkan kebijakan sana sini semampunya. Meminimalisir gejolak sosial dengan jor-joran ‘charity’ dan kasih bantuan langsung. Mungkin, lho ya.

Apa buktinya. Mari kita obyektif saja. Kita lihat penilaian berdasarkan seluruh aspek dari berbagai sumber. Salah satu yang detail soal ini, misalnya dari Deep Knowledge Group.

Deep Knowledge Group adalah konsorsium organisasi komersial dan nirlaba yang aktif di banyak bidang di DeepTech dan Teknologi Frontier (AI, FinTech, GovTech, InvestTech). Fokus bergerak dalam penelitian ilmiah, investasi, kewirausahaan, analitik, media, filantropi dan banyak lagi.

Top-40 Covid-19 Safety Ranking
Top-40 Covid-19 Safety Ranking

Dalam 3 bulan terakhir, Deep Knowledge Group mengumpulkan data dari 75 negara terdampak Corona dan data berbagai sumber terpercaya, mulai Organisasi Kesehatan Dunia, Johns Hopkins University, Worldometer, hingga CDC.

Top-15 Most Supportive Governments During The Covid-19 Pandemic
Top-15 Most Supportive Governments During The Covid-19 Pandemic

Deep Knowledge Group juga menggunakan 78 parameter standar internasional dalam penanganan wabah, 12 framework (kerangka kerja) setiap bidang dalam otoritas negara setempat ketika melakukan kerja, dan melibatkan 30 ahli dalam penentuan ranking keberhasilan sebuah negara.

Total ada 6 kategori ranking. Mulai dari Safety Ranking, Treatment Effeciency Ranking hingga Risk Level Ranking.

Hasilnya?

Dalam Top-15 Most Supportive Government, yang terbaik Jerman. Nomor 15 Finlandia. Indonesia tak masuk.

Dalam Asia Pacific Region Safety Ranking, ada 20 negara. Terbaik Korea Selatan. Indonesia urutan ke-19.

Dalam Top 10 Regions Treatment Effeciency Ranking, nomor 1 Jerman. Nomor 10 Uni Emirat Arab.

Dalam 20 Region Risk Ranking, Italia nomor 1 paling beresiko. Indonesia termasuk dalam kategori negara beresiko juga. Urutan 17.

Dalam Top 40 Safety Ranking, nomor 1 dipegang Israel. Nomor 2 Jerman. Nomor 3 Korea Selatan. Indonesia tidak masuk dalam kategori 40 negara yang safety (kerja dan situasinya).

Kriteria aman menurut Deep Knowledge Group, berdasarkan pada; scale of quarantine, quarantine timeline, monitoring system and disaster management, scope of diagnostic methods, dan lain-lain. Ada 4 framework dan 22 tolok ukur. Bisa dipelajari.

Jadi?

Ya… jadi kita kembali ke jawaban nomor 2, penyebaran Corona akan berhenti hampir 100 persen kalau vaksin sudah ditemukan dan diproduksi. Dan itu memang yang bisa kita harapkan.

Karena memang, vaksin adalah “power shield” yang efektif untuk menangkal secara massal infeksi dan penyebaran. Ini pengetahuan umum.

Pokoknya dia diharap-harap. Mengobati sakit kepala banyak pihak. Khususnya pemerintah. Menyelesaikan banyak masalah. Dia seperti Messiah yang dirindukan kehadirannya setelah semua orang setengah putus asa.

Pertanyaan “kapan” ada lagi. “Kapan dia -si Messiah, si vaksin, si pelindung atau apapun namanya yang penting bisa jadi solusi- datang?”.

Mari kita bergembira soal tema ini. Karena apa? Karena ada beberapa kabar angin yang menggembirakan.

Pertama, ada 80 lembaga penelitian, lembaga donor, lembaga filantropi perorangan dan kurang lebih 40 laboratorium seluruh dunia yang sedang berlomba membuat formulasi obat pereda dan menemukan vaksin Corona.

Bantuan pendaaan untuk riset datang dari banyak tempat. Mulai dari BARDA, National Institute of Allergy and Pinfectious Siseases (NIAID, sebuah divisi dari National Institutes of Health, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI), hingga perorangan seperti Bill Gates dan lainnya.

Kedua, dari semua itu, ada 67 yang masuk uji praklinis. Ada 3 yang masuk dalam uji klinis.

MIGAL (The Galilee Research Institute) di Israel misalnya. Sudah umumkan akan luncurkan vaksin pada awal Juni. Tapi itu meragukan, karena baru uji praklinis. Atau Heat Biologics, Regeneron Pharmaceuticals, Sanofi and Translate Bio, lab tersebut semua masih uji praklinis.

Ada 3 laboratorium yang sudah masuk fase 1 hingga 2 menuju 3 (akhir) uji klinis vaksin. Seperti Moderna Therapeutics yang bekerjasama dengan National Institutes of Health yang masuk fase 2 dan CanSino yang bekerjasama dengan Academy of Military Medical Sciences Institute of Biotechnology yang masuk fase 2 menuju fase 3.

Di tempat lain, sejumlah peneliti dan ahli vaksin dari Oxford University yang dipimpin Sarah Gilbert yang bekerjasama dengan National Institute for Health Research dan Departemen Research and Innovation Inggris, sudah melakukan ujicoba pada manusia. Entah masuk fase berapa.

Ketiga, dari beberapa itu, ada yang sudah minta direkomendasikan untuk digunakan pada kelompok rentan dalam situasi mendesak. Tapi sepertinya belum ada perkembangan dari WHO dan badan dunia terkait perihal itu.

Keempat, para peneliti memperkirakan bahwa vaksin akan siap dan aman digunakan pada Februari-Maret 2021. Misalnya pendapat Dr. Mike Ryan dari WHO. Sementara seorang ilmuwan Amerika memperkirakan antara Maret hingga September 2021. Yang progresif pernyataannya, Sarah Gilbert dari Oxford. Dia perkirakan, vaksin akan siap pada September 2020.

Artinya, untuk Indonesia, ada harapan bahwa pandemi ini akan segera berakhir beberapa bulan lagi. Mungkin wabah terus merayap dan menyebar. Tapi semoga grafiknya sudah landai di September. Semua orang berharap lebih cepat dari itu.

Boleh dong kita seoptimis Sarah Gilbert. Hitung-hitung, menghibur hati sambil menunggu penyelamat tiba.

Pertanyaan tentang kapan sudah dijawab.

Lalu ada lagi, apa yang harus kita lakukan di rentang waktu penuh ketidakpastian ini?. Berikan masukan dan awasi kerja pemerintah, bertahan semampunya, membantu tetangga dan orang lain sekuatnya dan perbanyak introspeksi dan doa. Jangan putus asa, semoga Allah segera beri kita jalan keluar.

20 April 2020

Oleh: Bambang Prayitno (Alumni KAMMI)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.