Jakarta, Jurnalpublik.com – Hari itu jenderal Sudirman berteriak Allahuakbar, maka bangkitlah semangat rakyat Indonesia membela tanah air.

Teriakan Allahuakbar, atau apapun itu yang sebenarnya bukanlah original pada pengertiannya, namun jika ditarik ke agama, bagaimanapun tampilannya, tentu akan disambut hangat oleh rakyat Indonesia, pada waktu itu.

Kita patut bersyukur bahwa negeri ini akhirnya merdeka, dengan perjuangan rakyat Indonesia dan sebagian besarnya pahlawan adalah pemicu semangat keagamaan bangsa Indonesia.

Sampai-sampai ada yang berkata bahwa tanpa pahlawan dengan semangat keagamaan tentulah Indonesia tidak akan merdeka.

Saya menyetujui hal tersebut.

Saya juga sepakat dengan pendapat itu.

Kesepakatan saya bukan tanpa alasan.

Kita sangat tahu bahwa rakyat Indonesia saat itu kurang berpendidikan. Pemberantasan buta huruf saja merupakan programnya presiden kedua negara kita.

Saat itu hanya segelintir rakyat Indonesia yang bisa membaca. Saat itu hanya sedikit rakyat Indonesia yang membahas pergerakan bangsa.

Saat itu hanya sedikit rakyat Indonesia yang cerdas dan berpendidikan.

Saat itu yang menjadi hari-hari rakyat Indonesia hanyalah seputar mencari makan dan mencari ketenangan dalam agama, beribadah, tidak lebih.

Saat itu kita belum mempunyai narasi bangsa. Saat itu kita sedang mencari narasi bangsa.

Setelah kemerdekaan, narasi bangsa terus terbentuk, pemuda pemudi bangsa yang terus berdialektika dengan dirinya dan keadaan bangsa terus mengembangkan narasi bangsa, terus mengembangkan pemikiran dan narasi putra putri bangsa.

Seiring berjalan waktu, seputar kehidupan anak bangsa tidak lagi hanya sekedar mencari makan dan beribadah, namun ditambah dengan keinginan untuk memajukan bangsa.

Pendidikan terus berkembang di negara ini, buta huruf semakin diberantas. Membaca bukan lagi barang mahal di negeri ini. Satu langkah kemajuan tercapai.

Setelah membaca, dialektika tentulah mulai terbentuk, sampai ke warung kopi.

Sebagian rakyat Indonesia semakin cerdas.

Pengembangan pemikiran terus terjadi. Seiring waktu semakin banyak orang yang mempunyai pemikiran secara original pada tempatnya. Tidak bias.

Misalnya hari ini, ketika kita berkata bahwa mencuci tangan membuat kita bersih dari kuman. Sekian banyak kajian ilmiah menunjukan kemanfaatan hal mencuci tangan.

Seharusnya tak perlu ditarik lagi ke agama.

Kita bahkan sangat tahu bahwa kita selalu berwudhu adalah untuk mensucikan diri kita, mendekatkan diri kita pada Sang Khaliq.

Tapi mencuci tangan ketika berwudhu untuk bersuci berbeda hal dengan mencuci tangan ketika kita ingin membersihkan tangan kita. Jangan bias. Jangan dicampur adukan.

Saya bukan ingin memisahkan agama dengan bukan agama, saya hanya ingin menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Jadikanlah segala sesuatu itu pada tempatnya, pada originalnya.

Dan saya justru ingin tetap membuat agama itu tetap murni, tetap pada tempatnya.

Mencuci tangan saat berwudhu adalah bersuci, bukan membersihkan kuman.

Saya bukan menafikan manfaat berwudhu dengan sekian kajiannya.

Saya hanya menempatkan pada tempatnya.

Saya berwudhu bukan untuk membersihkan diri dari kuman.

Saya tambahkan. Kenapa setelah kita mandi dengan bersih, kita masih tetap berwudhu? Karena kita menempatkan pada tempatnya, tidak dengan embel-embel mengambil manfaat.

Kita berwudhu adalah bersuci.

Satu lagi saya contohkan tentang bias. Ini bukan tentang agama dengan hal lain, tapi sama-sama tentang agama. Namun menurut saya juga tidak pada tempatnya.

Jika kita beribadah apakah karena mengharap syurga atau karena memang bentuk tunduk kita pada Allah? Jika jawaban kita karena mengharap syurga, maka kita sudah bias. Bukankah ibadah harusnya adalah bentuk tunduk kita padaNya?

Kembali ke perihal agama dan bukan agama tadi.

Yang saya khawatirkan adalah, jika kita membawa semua hal kepada agama maka kita justru membuat dialektika kita terhenti, karena pengetahuan agama kita tidak seberapa. Apalah kita dengan pengetahuan agama kita yang itu-itu saja.

Tapi pikiran kita, akal kita terus berputar, terus berjalan, mencari jalan atas setiap permasalahan yang kita hadapi. Itulah fungsinya akal kita untuk berfikir, bukan untuk dibenturkan dengan agama.

Maka agar tidak terbentur, jangan dibawa ke agama, tempatkan pada tempatnya, pada originalnya.

Jika kemudian ulama menyampaikan dari sisi agama, jadikan itu penguat iman kita.

Satu tauladan yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya adalah Umar bin Khatab.

Kita tahu bahwa dengan beraninya khalifah Umar membantah ayat untuk memotong tangan seorang pencuri, seorang khalifah, sahabat Rosul, seorang khulafaurrasyidin, seorang yang masuk Islam diawal, membantah ayat, karena apa? Karena menggunakan akalnya diatas apapun itu, karena menempatkan segala sesuatu secara original. Tidak bias. Tidak politis.

Maka, mari tempatkan segala sesuatu pada originalnya, pada tempatnya. Dan tahukah, bahwa semakin kita kuat dalam berdialektika maka iman kita justru semakin kuat, karena kita akan beribadah dengan berdasarkan akal kita, bukan hanya sekedar mengikuti.

Bukankah orang yang beribadah dengan ilmu lebih tinggi derajatnya daripada seseorang yang beribadah tanpa ilmu puluhan tahun sekalipun?

Oleh: Lenny Hamdi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.