Jakarta, Jurnalpublik.com – Bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2020, kita akan sedikit membahas tentang ekofeminisme.

1. Wawasan Ekologis dan Feminis

Dalam menjalani kehidupannya di dunia, manusia tidak dapat terlepas dari alam dan lingkungan sekitarnya. Dari alamlah manusia mendapatkan sumber makanan, bahan sandang, dan bangunan yang dapat digunakan untuk membangun tempat tinggal. Namun, apakah selamanya alam begitu pemurah kepada manusia? Apakan setelah terus menerus dieksplorasi dan dieksploitasi sumber daya alam tidak akan habis?

Sejak sekolah dasar, kita sudah diajarkan bahwa sumber daya alam dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbarui dan yang tidak dapat diperbarui. Pohon-pohon di hutan, tanaman padi, buah-buahan, suyur-sayuran dan hewan ternak merupakan contoh sumber daya alam yang dapat diperbarui. Minyak bumi, emas, perak, batu, dan besi merupakan beberapa contoh sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui.

Karena tidak dapat diperbarui, maka sumber daya alam ini lama kelamaan akan habis apabila dieksplorasi secara besar-besaran.

Akibatnya generasi selanjutnya tidak dapat menikmatinya.

Kualitas dan kesejahteraan hidup manusia tidak dapat dipisahkan dari kondisi alam dan lingkungan tempatnya hidup.

Berbagai masalah alam dan lingkungan hidup yang terjadi akhir-akhir ini, sebagai dampak dari perubahan iklim global telah mempengaruhi kehidupan manusia. Laporan dari Human Development Report (2007) telah menyatakan bahwa akibat pemanasan global pada tahun 2000-2004 sekitar 262 juta orang menjadi korban bencana iklim, dan 98% darinya adalah masyarakat di dunia ketiga. Bencana tersebut terjadi akibat adanya peningkatan suhu antara 3-4 derajat celsius yang menyebabkan 350 juta orang di dunia kehilangan tempat tinggalnya karena banjir. Selain itu, 334 juta orang berpotensi terkena dampak badai tropis akibat peningkatan suhu air laut (Hunga, dalam Candraningrum, 2013:ix).

Indonesia pun tidak terlepas dari bencana tersebut, Banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai daerah di Indonesia, sebagian besar terjadi juga karena perubahan iklim ekstrim yang kurang diantisipasi sebelumnya.

Perubahan iklim global terjadi karena campur tangan manusia yang seringkali tidak menghargai alam. Bahkan program-program pembangunan sering kali juga melanggar aturan Analisis Dampak Lingkungan. Kalau hal ini dibiarkan terus menerus, sudah dapat diduga akibatnya akan sangat membahayakan kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Maka, menjadi tanggung jawab kita semua untuk menghentikan eksploitasi dan perusakan alam yang berlebih-lebihan.

Krisis lingkungan hidup, akan menimbulkan kesengsaraan pada umat manusia, terlebih kaum perempuan. Hal ini karena kaum perempuan pada umumnya memiliki tugas dan peran yang sangat besar dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga, termasuk ketahanan pangan keluarga.

Dalam keluarga perempuanlah yang bertanggung jawab mengolah dan menyajikan makanan, selain merawat keluarga dan anak-anak.

Pencemaran air dan udara, tentu akan sangat mengganggu kaum perempuan untuk menjalanan tugas-tugas domestiknya tersebut.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka kampanye dan penanaman nilai-nilai cinta lingkungan alam harus senantiasa dilaksanakan dan diperjuangkan.

Dengan adanya gerakan cinta lingkungan alam, diharapkan akan lahir generasi yang memiliki ekoliterasi, yaitu generasi yang menyadari betapa pentingnya lingkungan hidup, pentingnya menjaga dan merawat bumi, ekosistem, alam sebagai tempat tinggal dan berkembangnya kehidupan (Keraf, 2011:127).

Dalam paradigma ilmu humaniora, kajian yang memfokuskan keterkaitan antara alam, lingkungan hidup, dengan posisi dan keberadaan kaum perempuan dikenal dengan istilah ekofeminisme.

2. EKOFEMINISME SEBAGAI SALAH SATU RAGAM ALIRAN DAN GERAKAN FEMINISME

2.1 Ekofeminisme, Keterkaitan antara Ekologi dengan Feminisme

Ekofeminisme adalah salah satu pemikiran dan gerakan sosial yang menghubungkan masalah ekologi dengan perempuan.

Ekofeminisme diperkenalkan oleh Francoide d’Eaubonne melalui buku yang berjudul Le Feminisme ou la Mort (Feminisme atau Kematian) yang terbit pertama kali 1974 (Tong, 2006:366).

Dalam bukunya tersebut dikemukakan adanya hubungan antara penindasan terhadap alam dengan penindasan terhadap perempuan (Tong, 2006:366; Gaard, 1993:13).

Istilah ekofeminisme yang diperkenalkan oleh d’Eau-bonne itu sepuluh tahun berikutnya (1987) dipopulerkan oleh Karen J. Warren melalui tulisannya yang berjudul “Feminis and Ecology” yang dipublikasikan melalui Enviromental Review 9, No. 1.

Ekofeminisme berusaha untuk menunjukkan hubungan antara semua bentuk penindasan manusia, khususnya perempuan, dan alam.

Dalam hal ini ekofeminisme memandang bahwa perempuan secara kultural dikaitkan dengan alam. Ada hubungan konseptual, simbolik, dan linguistik antara feminisme dengan isu ekologis (Tong, 2006:350).

2.2 Ekofeminisme sebagai Salah Satu Aliran Feminisme Lainnya

Sebagai salah satu tipe aliran pemikiran dan gerakan feminis, ekofeminisme memiliki karakterstik yang sama yaitu menetang adanya bentuk-bentuk penindasan terhadap perempuan yang disebabkan oleh sistem patriarki.

Namun, berbeda dengan aliran feminisme lainnya, ekofeminisme menawarkan konsepsi yang paling luas dan paling menuntut atas hubungan diri (manusia) dengan yang lain (Tong, 2006:11).

Ekofeminisme memahami hubungan manusia bukan hanya manusia dengan manusia lainnya, tetapi juga dengan dunia bukan manusia, yaitu binatang, bahkan juga tumbuhan (Tong, 2006:11).

Dalam hubungan tersebut, sering kali manusia menghancurkan sumber daya alam dengan mesin, mencemari lingkungan dengan gas beracun.

Akibatnya, menurut ekofeminisme alam juga melakukan perlawanan, sehingga setiap hari manusia pun termiskinkan sejalan dengan penebangan pohon di hutan dan kepunahan binatang spesies demi spesies.

Untuk menghindari terjadinya itu semua, maka menurut ekofeminisme manusia harus memperkuat hubungan satu dengan yang lain dan hubungan dengan dunia bukan manusia (Tong, 2006;11).

Sama halnya dengan feminisme, yang berkembang menjadi berbagai tipe aliran pemikiran, ekofeminisme juga bukan suatu aliran pemikiran dan gerakan yang tunggal. Ada beberapa aliran ekofemisme. Paling tidak menurut Rosemarie Putnam Tong (2006) ada ekofeminisme alam, ekofeminisme spiritualis, dan ekofeminisme sosialis. Tiap aliran ekofeminisme tersebut memiliki kekhasan masing-masing dalam memahami hubungan antara manusia, terutama perempuan, dengan alam.

Berikut ini diuraikan perbedaan dari sejumlah aliran ekofeminisme tersebut.

Ekofeminsme alam dikembangkan oleh Mary Daly melalui bukunya Gyn/Ecology dan Susan Griffit (Woman and Nature).

Ekofeminsme alam menolak inferioritas yang diasumsikan atas perempuan dan alam, serta superioritas yang diasumsikan laki-laki dan kebudayaan. Ekofeminisme alam memandang bahwa alam/perempuan setara terhadap dan barang kali lebih baik daripada kebudayaan/laki-laki. Selain itu, nilai-nilai tradisional perempuan, bukan nilai-nilai tradisional laki-laki, dapat mendorong hubungan sosial yang lebih baik dan cara hidup yang tidak terlalu agresif dan berkelanjutan (Tong, 2006:273).

Ekofeminisme spiritualis dikembangkan oleh Starhawk dan Charles Spretnak.

Dengan mendasarkan pada pandangan antroposentris yang mencoba membenarkan bahaya yang disebabkan oleh manusia terhadap alam, sebagaimana pandangan yang membenarkan bahaya yang disebabkan laki-laki terhadap perempuan, maka ekofeminisme spiritualis berargumen bahwa ada hubungan yang dekat antara degradasi lingkungan dengan keyakinan Yahudi-Kristen bahwa Tuhan memberikan manusia “kekuasaan” atas bumi (Tong, 2006:380).

Dari pendapat tersebut tampak bahwa ekofeminisme spiritual memahami kerusakan lingkungan dengan spiritualitas yang bersifat patriarkis. Memahami kekerasan agama terhadap perempuan dan alam (Arivia, 2014:56).

Oleh karena itu, selanjutnya ekofeminis spiritual menarik kekuatan dari beragam spiritualitas berbasis bumi dan cenderung memfokuskan pada penyembahan terhadap dewi-dewi kuno. Selain itu, ekofeminisme spiritual menarik analogi antara peran perempuan dalam produksi biologis dengan peran arketipal “Ibu Pertiwi” atau “Ibu Kelahiran,” sebagai pemberi kehidupan dan pencipta segala sesuatu yang ada (Tong, 2006:381).

Mitos yang berkembang di Jawa yang menempatkan Dewi Sri sebagai dewi yang menjaga tanaman padi merupakan salah satu contoh perwujudan ekofeminisme spiritual.

Ekofeminisme sosialis berusaha menghilangkan penekanan terhadap hubungan antara perempuan-alam (Tong, 2006:384).

Ada beberapa pemikir ekofeminisme sosialis, yang ketika mencoba menjelaskan hubungan antara alam secara berbeda-beda, yaitu Dorothy Dinnersaein, Karen J. Warren, Maria Mies & Vandana Shiva.

Menurut Dorothy Dinnersaein, salah seorang tokoh ekofeminis sosial, untuk mengakhiri opresi terhadap setiap orang dan segala sesuatu yang selama ini tidak dihargai harus dihancurkan pemikiran dikotomi Barat, tentang perempuan-laki-laki. (Tong, 2006:384).

Menurutnya, usaha untuk meminggirkan perempuan dan alam dari laki-laki dan kebudayaan telah menyebabkan kita bukan saja mencederai dan mengeksploitasi perempuan, serta membatasi dan mendeformasi laki-laki, tetapi juga mendorong untuk terus berjalan “menuju pembunuhan terhadap ibu yang paripurna, pembunuhan yang penuh amarah dan ketamakan terhadap bumi yang melahirkan kita (Tong, 2006:385).

Untuk mengakhiri hal tersebut, menurutnya perempuan harus membawa alam ke dalam kebudayaan, dengan memasuki dunia publik, dan laki-laki harus membawa kebudayaan ke dalam alam, dengan memasuki dunia pribadi, dengan cara begitu, maka laki laki dan perempuan (kebudayaan dan alam) adalah satu (Tong, 2006:286).

Dalam menjelaskan hubungan antara alam dengan perempuan, Karen J. Warren menyatakan bahwa:
(1) ada keterkaitan penting antara opresi (suatu tindakan dengan kekuatan yang dimilikinya dapat membuat sesuatu yang berada di bawah opresi merasakan kesengsaraan dan penderitaan) terhadap perempuan dengan opresi terhadap alam;
(2) pemahaman terhadap alam dengan keterkaitan ini adalah penting untuk mendapatkan pemahaman yang memadai atas opresi terhadap perempuan dan opresi terhadap alam;
(3) teori dan praktik feminis harus memasukkan perspektif ekologi; dan
(4) pemecahan masalah ekologi harus menyertakan perspektif feminis. (Tong, 2006:366-367).

Selain Dinnersaein dan Warren, pemikir ekofeminis sosialis lainnya yang sangat terkenal dalam konteks Indonesia adalah Maria Mies dan Vandana Shiva. Keduanya mengamati bagaimana orang dalam patriarki kapitalis cenderung teralieniasi dari segala sesuatu, yaitu produk dari kerja mereka. Alam, satu sama lain, bahkan juga dirinya sendiri, sehingga manusia sering kali terlibat dalam perilaku yang aneh (Tong, 2006:392). Menurut keduanya, perempuan hendaknya memotivasi dan bekerja sama melawan patriarki kapitalis dan isme-isme lainnya.

Perempuan harus memimpin perjuangan untuk menyelamatkan dasar-dasar kehidupan di mana pun dan kapan pun kepentingan militer dan atau industrial mengancamnya (Tong, 2006:394).

Untuk menjelaskan bagaimana kaum perempuan saling bekerja sama dalam menyelamatkan dasar-dasar kehidupan, Mies dan Shiva mencontohkan gerakan chipko yang dilakukan oleh dua puluh tujuh perempuan di India Utara pada tahun 1974 sebagai aksi protes untuk menghentikan penebangan pohon-pohon kecil indigenous mereka. Mereka memeluk pohon ketika mesin-mesin pemotong mencoba memotong pohon tersebut yang akan digantikan oleh tumbuhan import (Tong, 2006:394).

Selain itu, Mies dan Shiva sangat kritis terhadap teknologi dan pengetahuan modern, karena keduanya dianggap sebagai agenda tersembunyi kalangan kapitalis, patriarkal, reduksionis, dan bahkan kekerasan. Menurut keduanya, bioteknologi yang baru berupaya untuk mengontrol “alam” dan teknologi reproduksi yang baru berusaha untuk mengontrol kesuburan perempuan, dan ini memiliki dampat sosial yang sangat buruk (Subono, 2014:168-169).

Dari uraian di atas tampak bahwa ekofeminisme berada dalam dua disiplin yang saling berkaitan, yaitu ekologi yang memfokuskan perhatian pada isu-isu alam dan lingkungan, dan feminisme, yang memberikan perhatian secara khusus pada isu-isu gender.

Sebagai aliran pemikiran dan gerakan sosial ekofeminisme mengidealkan adanya sikap dan tindakan manusia yang memberikan perhatian terhadap alam dan perempuan. Alam, seperti halnya dengan perempuan, bukankah benda mati, bukanlah objek yang boleh dan layak didominasi dan dieskploitasi.

Oleh karena itu, dalam berinteraksi dengan alam dan perempuan, kita harus selalu menjaga harmonisasi dan tidak dibenarkan menganggapnya inferior dan subordinatif.

 

Oleh: Lenny Hamdi

Sumber: Ekofeminisme: Kritik Sastra Berwawasan Ekologis dan Feminis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.