Jakarta, Jurnalpublik.com – Membaca status teman, yang tentunya mengejutkan, bahwa ada anak SD dari sekolah Islam yang terpapar pornogafi, naudzubillah, padahal seharusnya akhlaknya bisa dijaga karena pendidikan akhlak di sekolah Islam tersebut lebih banyak, katanya.

Kenapa saya bilang katanya. Mari kita urutkan kembali tentang pendidik dan belajar.

Pendidik Utama Anak

Belajar hukumnya wajib bagi setiap orang, bagi setiap muslim, seperti yang kita temui disekian banyak ayat Quran yang kita jadikan doa juga dalam hadist Rosul.

Dan pendidik yang utama adalah ibu, orangtuanya, seperti yang terdapat dalam sekian banyak ayat Quran bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas anak-anak kita.

Jika sebuah keluarga dan seorang ibu mengakui ketidaksanggupannya untuk menjaga iman dan akhlak anak-anak mereka, jika sebuah keluarga dan seorang ibu mengakui ketidaksanggupannya untuk mengajarkan Quran kepada anak-anak mereka, jika sebuah keluarga dan seorang ibu mengakui ketidaksanggupannya untuk menjaga mendidik dan memberikan ilmu kepada anak-anak mereka, jika sebuah keluarga dan seorang ibu mengakui ketidaksanggupannya membentuk anaknya menjadi penurut, pemberani, pembicara, pembelajar, pemimpin, maka negara mencoba mengambil alih peran itu, maka sekolah mencoba mengambil alih peran itu.

Negara menyediakan sekolah untuk mendidik anak-anak kita, mencerdaskan anak-anak kita, mendidik anak-anak kita demi untuk mencerdaskan bangsa.

Namun kesediaaan negara dan sekolah untuk mendidik anak-anak kita bukan lantas menjadikan kita orangtuanya, kita ibunya, lupa akan kewajiban dasarnya, orangtua dan ibu, yang menjadi guru bagi anak-anak kita.

Kita lupa akan kewajiban itu lantas kita menyerahkan semua kewajiban kita sampai akhlak anak kitapun kita serahkan menjadi tanggungjawab sekolah.

Terlepas dari “jualan”nya sekolah apapun itu. Itu tidak menjadikan kewajiban kita hilang, meskipun kita sudah membayar mahal sekalipun.

Kewajiban kita orangtuanya, ibunya, tetaplah mendidik anak-anak kita, terlebih menjaga iman dan akhlak mereka, karena akhlak itu adalah hal yang ditanamkan secara penuh, setiap waktu oleh kita orangtua yang ada didekatnya.

Kita saja yang tidur setiap hari dengan anak-anak kita tidak bisa menjamin iman dan akhlak anak-anak kita apalagi guru yang memegang sejumlah anak lebih banyak daripada jumlah anak-anak kita dirumah.

Memberikan pengertian tentulah guru bisa. Tapi bukankah kita harusnya juga bisa memberikan pengertian kembali dirumah.

Pikiran Yang Terjajah

Kita terlalu lama dijajah, pikiran kita dipenuhi ketakutan setiap waktu, juga ketakutan akan keadaan anak-anak kita.

Takut anak kita bermain dengan sembarang anak, lantas apakah anak yang masuk ke sekolah menjanjikan pendidikan akhlak itu bukannya bisa jadi juga jadi sasaran orangtua yang memang lingkungannya tidak baik, sehingga memasukkan anaknya ke sekolah berbasis akhlak tersebut, karena ingin akhlak anaknya baik, yang akhirnya anak-anak kita temui setiap hari.

Kita merasa dunia luar terlalu menakutkan sehingga kita ingin mengeksklusifkan anak-anak kita sehingga anak-anak menjadi terasing dari zamannya sendiri.

Kita terlalu takut atau mungkin berhasil ditakut-takuti.

Bukankah ada banyak doa untuk kita panjatkan ketika anak-anak kita lepas dari pantauan kita agar Allah selalu menjaganya. Doa agar kita lebih ikhlas, doa agar kita lebih berserah pada-Nya.

Anak adalah Anak Zamannya

Ketidakjaminan memantau anak seharian adalah celah yang harus kita hadapi sebagai orangtua dan ibu. Menghadapinya bukan dengan cara kita menyekolahkannya seharian atau menutup pintu dan jendelanya dari dunia yang terus berkembang.

Menutup anak, membatasi anak, justru membuat anak-anak kita menjadi gagap zamannya. Dia menjadi orang yang berbeda dari lingkungannya dan tergagap-gagap ketika tiba-tiba menghadapi dunia luar.

Kita pada akhirnya malah tidak membantu anak-anak kita, kita malah menjerumuskan anak-anak kita, justru mencerabut anak-anak kita dari zamannya.

Kembali Kepada Orangtua

Mengharapkan guru menjadi pembentuk akhlak anak adalah penyimpangan pendidikan. Tugas utama sekolah adalah mencerdaskan anak. Yang biasanya memang tidak bisa dilakukan orangtuanya.

Sekolah hanyalah membantu, bukan mengambil alih semua tugas orangtua juga ibu. Bahkan sampai kepada tugas menjaga akhlak anak.

Tapi hari ini yang kita dapati justru orangtua dan ibu yang sibuk dan tidak menjalankan tugasnya yang seharusnya menjaga iman dan akhlak anak-anaknya.

Ibu yang sibuk, misalnya, jadwal belajar kembali diluar rumah seperti tahsin, tahfidz, atau parenting, atau ibu yang sibuk bekerja atau ibu yang menyibukan dirinya diluar, atau ibu yang menyibukan dirinya dirumah untuk mencari info di media sosial, dari info yang tidak penting, penting, bermanfaat sampai info yang tidak bermanfaat, atau ibu yang sibuk nonton Korea seperti saya, atau ibu yang sibuk memenuhi silabus anak-anaknya agar anak-anaknya nampak cemerlang dibuku laporan pendidikannya, yang pastinya memakan atau menghanguskan waktu orangtua atau ibu yang harusnya dirumah atau dimana saja bersama anak-anaknya mendidik iman dan akhlak anak-anaknya.

Seharusnya kita menyadari bahwa tugas menjaga iman dan akhlak itu harusnya kembali kepada kita, para ibu, para orangtua.

Oleh: Lenny Hamdi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.