Jakarta, Jurnalpublik.com – Kemarin (11/12/2019), Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Agama Badan Litbang dan Diklat kementerian Agama, melaksanakan Peluncuran Indeks Kerukunan Umat Beragama di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kementerian Agama, Jakarta.

Acara dimulai dengan pembacaan doa bersama, pengibaran bendera merah putih, dan pentas tari budaya nasional.

Prof. Azzyumardi Azra, Guru Besar UIN Syarif Hidatullah Jakarta, selaku salah satu narasumber dalam diskusi Refleksi Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, menangggapi perihal konteks jihad di Indonesia.

Menurut Azzyumardi Azra, harus diluruskan pengertian jihad bagi kalangan masyarakat muslim Indonesia.

“Dimana juga jihad itu di kalangan masyarakat muslim juga jihad itu diidentikan dengan perang, jihad itu ya perang. Nah ini yang harus diluruskan. Bahwa jihad itu bukan hanya perang saja, itu hanya salah satu saja dan bahkan istilah perang itu dalam Alquran itu aslinya bukan jihad tapi adalah harbun, qital, itu dia. Nah, kalau di MUI ada 8 makna jihad itu, mulai dari mencari rezeki yang halal, menuntut ilmu, menghajikan orangtua. Itu ada delapan. Nah, yang terakhir itu adalah jihad dalam bentuk perang. Nah ini yang harus dijelaskan,” terang Azzyumardi Azra, di lobi gedung kemenag RI, Jakarta (11/12/2019).

Menurut Azyumardi Azra, tidak ada kewajiban jihad perang bagi masyarakat muslim Indonesia terhadap pemerintahan Indonesia.

“Masih (sesuai konteksnya arti jihad adalah perang-red) bila umat muslimnya diserang, disiksa, atau dipersekusi, maka kemudian wajib jihad membela diri biar tidak tewas tidak dibunuh, misalnya dalam kasus, misalnya katakanlah di Rohigya. Ya kan. Di Rohingya umat Islamnya ditindas terus menerus maka ya kewajiban jihad itu jatuh, kewajiban jihad itu menjadi ada bagi masyarakat muslim Rohingya. Itu dalam konteksnya. Tapi dalam konteks Indonesia jihad dalam pengertian perang tidak bisa terhadap pemerintahnya, kenapa, karena pemerintahnya ini tidak menindas umat Islam. Ya kan,” jelas Azzyumardi Azra.

Azzyurmadi Azra menambahkan bahkan presiden dan wakil presiden Indonesia juga beragama Islam sehingga tidak ada kewajiban jihad perang bagi masyarakat Indonesia.

“Dan bahkan presiden dan wakil presidennya orang Islam juga. Pada sholat, dan lain sebagainya. Jadi oleh karena itu tidak relevan jihad dalam pengertian perang untuk Indonesia. Misalnya jihad naro bom misalnya, di masjid misalnya, di mapolresta, dulu di Cirebon. Tidak benar jihad seperti itu, bukan jihad itu,” tegas Azzyumardi Azra.

Menjelaskan arti jihad, Azzyumardi Azra, menyampaikan bahwa jihad pada dasarnya adalah bekerja dengan sungguh-sungguh.

“Arti jihad, kalau jihad itu jahada yajhadu ya artinya bersungguh-sungguh, kerja keras, itu arti aslinya. Jadi jihad itu adalah kerja sungguh-sungguh. Hasil pekerjaan sungguh-sungguh. Makanya kemudian kalau orang sungguh-sungguh, bekerja sungguh-sungguh menggunakan akal pikirannya maka disebut mujtahid, orang-orang yang berijtihad. Berijtihad itu apa, yaitu berfikir keras untuk menghasilkan pemikiran. Itu dari kata jahada juga. Jihad juga. Jadi jihad itu ya artinya bersungguh-sungguh,” tutur Azzyumardi Azra.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.