Konvergensi media 4,0
Konvergensi media 4,0

Jakarta, Jurnalpublik.comRabu kemarin (27/11/2019) saya berkesempatan mengisi acara seminar di IAIN Surakarta terkait literasi. Selain saya, pembicara yang hadir adalah Pak Abdul Rokhim, Pimpinan Redaksi Jawa Pos. Pak Abdul Rokhim datang jauh jauh dari Surabaya langsung, yang kita tahu memang Jawa Pos besar di Surabaya.

Terus terang saya hanya pembicara dadakan, awalnya panitia mengundang pihak Tirto.id untuk bicara soal konten. Karena Pak Rokhim sudah bicara soal jurnalistik, akhirnya saya bicara tentang menulis buku. Agak gak nyambung sebenarnya dengan materi yang diminta ke Tirto.id. Tapi tak apalah, nasib pembicara dadakan. Saya juga udah minta pemakluman peserta seminar.

Sebelum acara dimulai, saya kenalan dengan Pak Rokhim dan salah satu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEBI) IAIN Surakarta, Pak Asep. Saya bertanya Pak Rokhim, Pak bagaimana oplah Jawa Pos (JP)? “Kalau soal oplah, pasti semua turun mas. Mungkin hampir semua usaha media cetak, tapi untuk platform JP yang lain justru naik.”

Menurut saya jawaban yang sangat jujur dari seorang Pimred media besar di Jawa Timur. Sebelum memberikan materi, saya juga bertanya ke seluruh peserta seminar.

“Ada yang masih suka nonton TV pagi ini?” Hanya 3 orang yang mengangkat tangan.

“Ada yang masih dengar radio?” Hanya 5 orang yang mengangkat tangan.

“Ada yang masih baca koran?” Hanya 2 orang yang mengangkat tangan.

“Kalau hari ini yang buka sosmed, Youtube, Facebook, Instagram, media online?” Hampir lebih dari separuh mengangkat tangan.

Apa yang bisa disimpulkan dari pertanyaan-pertanyaan tadi? Kita bisa simpulkan dengan mudah kalau ada pergeseran audiens yang dulu suka menonton TV, mendengar radio, dan membaca koran beralih ke sosial media. Terlalu berlebihan menyimpulkan? Enggak juga, yang hadir di ruangan itu hampir 1.000 orang. Jadi memang itu fakta yang ada saat ini.

Melihat realitas ini memang siapa pun harus berfikir ulang, bahwa industri media jika ingin bertahan harus beralih atau melakukan konvergensi media.

Apa itu konvergensi? Secara umum, konvergensi media didefinisikan sebagai penggabungan media massa dengan teknologi digital yang berkembang saat ini. Media seperti majalah, koran, radio, televisi digabungkan menjadi satu platform yang sama. Konvergensi media sendiri timbul seiring dengan berkembangnya teknologi, khususnya peralihan teknologi analog ke digital. Internet dengan berbagai macam platformnya telah menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat.

Seorang ahli media bernama Flow merumuskan teori tentang konvergensi media. Menurutnya, konvergensi media terdiri dari tiga poin penting, yang terdiri dari computing dan information technology, communication network, dan digital content. Teori ini menerangkan bahwa konvergensi media sangat berkaitan erat dengan perubahan industri, dimana industri menjadi lebih dinamis dan bergantung pada teknologi.

Berdasarkan cerita dari Pak Rokhim dan saya telusuri sendiri Jawa Pos sendiri sudah melakukan konvergensi, akun instagram Jawa Pos (@jawapos) sendiri followernya mencapai 149rb. Jumlah yang cukup besar, apalagi jika konten-kontennya tudak hanya gambar, tapi jika berisi video singkat, karena memang instagram hanya bisa memuat video 60 detik saja.

Di Youtube sendiri, jawa pos punya dua akun. Jawa Pos TV dan Jawa Pos. Subscribernya sendiri cukup banyak, ada 17 ribu. Youtube ini jika dimaksimalkan atau dimonetizing bisa menghasilkan duit yang cukup lumayan.

Di twitter Jawa Pos punya 86 ribu followers. Jumlah yang gak sedikit juga. Fanspage di Facebook juga cukup banyak, ada 180 ribuan orang yang menyukai halaman Jawa Pos di social media besutan Mark Zuckerberg ini. Jawa Pos harus bisa memaksimalkan semua platform tersebut jika mereka ingin tetap bertahan di era 4.0 ini.

Pak Abdul Rokhim sedikit berkelakar, “Cuma susahnya ya mas, karyawan atau pegawai dituntut multitasking, tapi perusahaan tidak bisa mereward semua keahlian tersebut alias one payment. Hehehe.”

Sebagai penutup, saya hanya ingin bilang. Bahwa dunia berubah. Siapa yang saat ini tidak pegang smart phone, hampir tidak ada. Mungkin hanya yang sepuh-sepuh yang gaptek dengan teknologi, tapi kebanyakan mereka juga banyak yang sudah mengikuti. Kalau mau bertahan dan eksis, mau tidak mau Anda harus mengikuti itu semua. Selamat datang di era industri 4.0. _Wallahua’lam_.

Oleh: Edo Segara

(Tulisan sudah terbit di katajogja.id)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.