Jakarta, Jurnalpublik.com – Dahulu, ketika kita masih bersekolah, juga saat kita sedang asik bermain bersama teman-teman, kita mengolok-olok anak orang kaya yang seharian belajar. Belajar di sekolah, belajar ditempat les, belajar di tempat latihan. Kita berkata, kasihan anak itu, dipaksa belajar terus, jarang main, pantas saja anak itu stres, hingga ingin kabur dari rumah.

Dan dulu, stres pada anak sangat jarang terjadi.

Tapi sekarang, tidak hanya anak orang kaya yang sibuk, anak-anak kita pun sibuk, kita ingin anak-anak kita belajar tanpa henti seperti anak orang-orang kaya dahulu.

Lalu terlintas dalam pikiran, mungkin dulu sedikit anak-anak yang stres, tapi hari ini, entah..

Kita tak punya panduan, tak punya ketetapan yang baku dalam pendidikan, sehingga tak bisa membaca apa yang harus kita pilih dalam memberikan pendidikan yang tepat untuk anak-anak kita.

Tapi kita selalu bersikap seolah-olah kitalah yang terbaik dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak kita, investasi kita menyebutnya. Sangat mencengangkan, hari ini tidak hanya benda tak bernyawa yang diinvestasikan, anakpun harus menghasilkan dimasa depan, itu sebabnya kita berinvestasi hari ini.

Lantas, kita semakin bingung membaca anak.

Kemarin kita menghujat anak STM yang tawuran, kemudian harinya kita memuji mereka yang berpesta di depan DPR. Lalu setelahnya kita menyayangkan kekerasan anak pada guru, tapi hari ini kita ingin anak STM dikirim ke Palestina.

Apa yang kita pikirkan?

Apa yang kita dambakan untuk anak-anak kita kelak dimasa depan?

Menjadikannya kaya? Sukses? Atau kita malah tak mau tahu mereka mau jadi apa kelak?

Yang penting tujuan kita sebagai orangtua tercapai, entah di dunia atau di akhirat, pikir kita..

Lantas, tak akan kita dengar lagi seorang anak berkata bahwa dia bersekolah untuk mencari ilmu. Tak akan kita dengar lagi seorang anak berkata dia ingin mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak akan kita dengar lagi seorang anak bercita-cita ingin memajukan negerinya.

Selamat hari guru, untuk guru-guru yang tanpa lelah menghadapi muridnya yang sekian banyak dengan gaji yang tak sesuai.

Selamat hari guru, kepada guru-guru yang dibebankan mengurus muridnya seharian, padahal guru-guru pendidikan tahu, hanya 20 menit waktu konsentrasi siswa.

Selamat hari guru, untuk guru-guru yang dibebankan untuk mendidik murid-muridnya menjadi anak yang beradab, padahal itu tugas utama orangtuanya dirumah.

Selamat Hari Guru, PGRI, 25 November 2019.

Oleh: Lenny Hamdi (Alumnus Universitas Nasional)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.