Foto Kura Kura Leher Ular Milik Oki Hidayat yang digunakan oleh Media Indonesia / Jurnalpublik

Jurnalpublik.com – Petugas Balai Litbang LHK Kupang yang juga merupakan anggota Komunitas Peduli Burung Nusa Tenggara, Oki Hidayat melayangkan aksi protesnya di media sosial Facebook dengan akun Oki Hidayat kepada media daring mediaindonesia.com, protes itu disebabkan oleh satu berita yang menggunakan foto miliknya tanpa izin, pada hari minggu, (30/06). Berita tersebut berjudul Kura – Kura Leher Ular Segera Direpatriasi ke Pulau Rote.

Penulis berita tersebut, Palce Amalo, disebut Oki telah mencuri Hak Cipta foto miliknya yaitu foto Kura – Kura Leher Ular. Oki menjelaskan jika Palce Amalo tidak memiliki hak untuk menampilkan foto tersebut di media daring seperti disebut diatas.

“Foto itu milik saya yang diambil ketika bertugas sebagai petugas Balai Litbang LHK Kupang, Media Indonesia dengan penulis Palce Amalo telah mengambil dan menampilkannya tanpa sepengetahuan saya sebagai pemilik dan Balai Litbang LHK Kupang sebagai lembaga,” ujar Oki.

Dalam pengumuman yang ia tulis di media sosial Facebook, Oki meminta pihak Media Indonesia untuk menuliskan permohonan maaf dan mengganti rugi atas kejadian tersebut.

Diantara warganet yang merespon pengumuman tersebut, terdapat penulis Palce Amalo yang berkilah jika foto tersebut dia dapat dari kantornya (mediaindonesia.com), namun Oki terus bertanya, mengapa dalam foto tersebut ditulis nama penulis sebagai pemilik foto.

Warganet lantas mendukung langkah Oki untuk menggugat mediai Indonesia.com, salah satu dukungan datang dari akun Ragil Satriyo Gumilang. Dalam berita yang dirinya unggah di media sosial Facebook, Ragil menyatakan geram dengan respon jurnalis dan mediaindonesia.com yang jelas telah melakukan kesalahan namun tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan.

Media Indonesia Tidak Serius Meminta Maaf

Setelah ramai protes dari warganet soal foto tersebut, akhirnya mediaindonesia.com meminta maaf kepada pihak Oki Hidayat dan mengganti foto dalam berita yang dimaksud. Hanya, Oki menilai permintaan maaf tersebut tidak serius. Penilaian Oki ini berdasarkan format surat yang hanya dibuat dengan aplikasi Microsoft Word tanpa tanda tangan resmi dari mediaindonesia.com sebagai lembaga.

“Setelah itu ada email dari media indonesia, mereka meminta maaf dan mengganti foto, tapi saya tolak karena permintaan maafnya tidak serius, dikirim dalam file word, seperti membuat konsep surat, tanpa kop jelas, tanda tangan, ya sebagaimana standar surat dinas lah, saya kan harus tembuskan surat tersebut di lembaga tempat saya bekerja, harus resmi dong. Sudah begitu foto revisinya juga salah kura – kura” tukas Oki menambah kekecewaannya.

Dirinya lantas membalas email dari penulis berita dengan 3 poin protes lanjutan,selain permintaan surat resmi dari Media Indonesia, Oki juga kembali meralat foto revisi dari penulis.

Penulis Berita Kembali Salah Melampirkan Foto

Palce Amalo memang mengganti foto di berita tersebut, namun tetap melakukan kesalahan, yaitu foto tidak sesuai dengan keterangan. Hal ini dinilai Oki sebagai hal fatal karena penulis menyampaikan informasi yang salah kepada pembaca.

Screenshoot revisi foto kedua oleh Media Indonesia

“Terkait revisi berita kedua, anda mengganti foto Kura-kura leher ular Rote dengan jenis Tuntong Laut (Batagur borneoensis). Hal tersebut sangatlah fatal karena anda telah menyampaikan scientific miss information,” tulis Oki Hidayat dalam badan email yang diterima oleh redaksi Jurnalpublik.com. Email tersebut sebelumnya ditujukan kepada Palce Amalo.

Tak sampai disitu, setelah Palce Amalo kembali merevisi berita untuk kedua kalinya, Oki kembali menilai foto tersebut tetap melanggar, seperti ditulis Oki dalam keterangan emailnya,

“Terkait revisi berita ketiga, anda mengganti lagi foto ilustrasi dengan caption : Seorang petugas BKSDA memperlihatkan Kura-kura Leher Ular Rote (Chelodina mccordi) sebelum dilepas ke Danau Peto. Saya perlu klarifikasi dari anda, siapakan petugas BKSDA yang dimaksud? kami Balai Litbang LHK Kupang sejak 2010 hingga saat ini melakukan penelitian intensif terkait Kura-kura Leher Ular Rote terkait berbagai aspek secara komprehensif,” kata Oki kepada Palce Amalo.

Screenshoot foto berita revisi ke 3 oleh Media Indonesia

Oki juga mengatakan jika pihaknya selalu berkoordinasi dan bekerja sama dengan lembaga terkait termasuk BBKSDA NTT dan WCS-IP. Oki menjelaskan bahwa keterangan foto pada berita tersebut perlu diklarifikasi, termasuk darimana foto tersebut didapat, karena tidak ada kura-kura yang dilepas ke habitat alaminya di Rote sejak pelepasan tukik (anakan) kura-kura di tahun 2009, apalagi pelepasan kura-kura remaja (usia sekitar 3-4 tahun) seperti yang diilustrasikan dalam foto.

“Saat ini keberadaan individu kura-kura leher ular rote di NTT hanya ada di fasilitas penangkaran kami serta 2 (dua) fasilitas penangkaran di masyarakat binaan Balai Litbang LHK Kupang sebagai bentuk pengembangan penelitian,” ujar Oki.

Di akhir surat, Oki menyebutkan bahwa pihaknya membuka ruang diskusi seluas-luasnya terkait Kura-kura Leher Ular Rote agar tidak terjadi kekeliruan dalam hal penyampaian informasi ilmiah terkait hal tersebut.

Selain itu, Oki tidak berniat untuk memperkarakan persoalan tersebut ke wilayah hukum. Dirinya mengaku sibuk dan belum mengetahui betul langkah apa saja yang harus ditempuh.

“Sejauh ini saya tidak menempuh jalur hukum, tadinya mau saya ajukan ke dewan pers, tapi saya sibuk urusan kerjaan dan belum tahu juga jalurnya bagaimana,” pungkas Oki.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.