Jakarta, Jurnalpublik.com – Fahri Hamzah, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, kembali menanggapi pidato Sukmawati Soekarno Putri (11/11/2019) dan juga pembelaannya dalam membandingkan Nabi Muhammad SAW, dengan proklamator bangsa kita Ir, Soekarno. Kali ini Fahri Hamzah menanggapi dari perspektif Pancasila itu sendiri (20/11/2019).

Fahri menerangkan bahwa beliau menanggapi hal ini karena pernyataan oknum-oknum yang agak jauh dari memahami perspektif sejarah dari lahirnya bangsa Indonesia.

“Memang saya dipicu oleh situasi terakhir karena pernyataan oknum-oknum yang agak jauh dari memahami perspektif sejarah dari lahirnya bangsa Indonesia,” kata Fahri.

Fahri menjelaskan bahwa bangsa Indonesia ini sebenarnya mustahil menjadi negara sekuler dan liberal.

“Bahwa Indonesia ini sebenarnya mustahil dia menjadi negara sekuler ya, yang liberal cara berfikirnya seperti yang terjadi di negara-negara di Eropa dan di Amerika, karena Pancasila itu adalah sebenarnya, kalau kita bisa katakan itu kandungan Islamnya itu terlalu kental ya,” tegas Fahri.

Fahri menerangkan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa itu membuat konsepsi ideologis bangsa Indonesia itu sulit menjadi sekuler dan liberal.

“Selain bahwa 4 sila dibelakangnya itu ya, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan, ya tentang permusyawaratan, tentang keadilan sosial juga semua adalah nilai agama sebenarnya, tetapi Ketuhanan Yang Maha Esa itu membuat konsepsi ideologis bangsa Indonesia itu sulit dia menjadi sekuler dan liberal,” kata Fahri.

Sehingga menurut Fahri tidak perlu lagi kita mempersoalkan hal-hal yang sudah dianggap final oleh bangsa kita.

“Sehingga kita bisa dengan tenang begitu mempersoalkan hal-hal yang oleh masyarakat itu dianggap final gitu. Misalnya mempersoalkan kenabian, mempersoalkan Ketuhanan, sebenarnya itu wilayah-wilayah yang seharusnya sudah tidak perlu kita bahas lagi,” jelas Fahri.

Fahri menegaskan bahwa menerima Pancasila berarti menerima semua elemen yang terkandung dalam Pancasila tersebut.

“Apalagi kalau kita sudah menerima Pancasila artinya kita given menerima elemen-elemen yang merupakan unsur permanen sebagai bagian dari falsafah dan ideologi bangsa kita,” tutur Fahri.

Fahri menyebutkan bahwa Islam adalah akar dari semua kelompok, karena yang menolak proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia hanyalah Komunis.

“Jangan lupa akar Islam dari semua kelompok, karena yang tidak Islam itu atau yang tidak relijius itu cuma Komunis yang memang menentang proklamasi, ya bisa dibilang juga menentang Undang-Undang Dasar, karena mereka merasa tidak ikut dalam perumusan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, dan ya PKI telah dinyatakan sebagai partai terlarang sehingga narasi Komunis itu sebetulnya secara akademik itu bisa saja kita diskusikan, tetapi kalau itu disampaikan oleh partai-partai yang suatu hari akan berkuasa, itu tentu menjadi problematik,” beber Fahri.

Fahri menegaskan agar kita semua kembali kepada Pancasila.

“Karena itulah saya mengingatkan agar mereka tidak terlalu jauh ke kiri ya, lebih baik agak geser ke kanan gitu, karena dengan cara itu kita akan menemukan Pancasila. Kita akan menemukan common ground kita ya, kita akan menemukan basis pertemuan pikiran-pikiran dan ide-ide, jembatan dari kehendak bangsa kita, para pendiri bangsa kita, yaitu Pancasila,” ucap Fahri.

Fahri Hamzah menghimbau, demi Pancasila agar kita bersatu bersama di tengah.

“Jadi yang kiri tolong ke tengah, yang kanan juga tolong ke tengah ya, ayo kita merapat ke tengah gituloh,” tutur Fahri.

Fahri menutup dengan mengutarakan bahwa Partai Gelora Indonesia hadir untuk mengajak kita semua kembali ke tengah.

“Jadi panggilan untuk ke tengah inilah yang saya kira kami juga di Partai Gelora sekarang ini sedang mengajak kita agar semua ke tengah mari ke tengah, mari ke tengah,” tutup Fahri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.