Konflik Wamena (Istimewa)

Serikat Jurnalis untuk keberagaman (Sejuk) mengecam keras penggunaan istilah pendatang untuk korban rasisme di Wamena Papua dalam pemberitaan media arus utama maupun sosial media. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Sejuk, Ahmad Junaidi pada rilis pers yang diterima oleh Jurnalpublik.com.

“kami mendorong jurnalis untuk tidak memproduksi pemberitaan yang rasis dan sektarian dengan tidak menggiring atau mengarahkan fakta yang potensial memperluas konflik, juga tidak menggunakan atribusi yang tidak relevan yang berpotensi membuat generalisasi seperti penggunaan kata ‘pendatang’ terhadap jumlah korban di Papua,” kata Ahmad Junaidi.

Dirinya juga meminta jurnalis tidak menampilkan stereotype atau menyebarkan prasangka dalam rangka merendahkan suatu kelompok. disamping itu, Sejuk meminta agar jurnalis tidak menampilkan gambar, audio, visual dan grafis yang sensasional (darah, jenazah, dan bentuk kekejian lainnya).

“Jurnalis harus terus mendasarkan pemberitaan pada prinsip disiplin verifikasi, dengan pemilihan diksi yang adil, dengan tidak menggunakan istilah yang mendorong dan meneruskan ujaran kebencian,” tegas Ahmad Junaidi.

Dalam kesempatan yang sama, Sejuk juga mendesak pemerintah untuk segera menindak tegas pelaku rasisme. Selain itu, Sejuk meminta pemerintah untuk membuka akses informasi yang seluas-luasnya bagi publik dengan memberi jaminan kebebasan berekspresi bagi jurnalis dalam dan luar negeri, dan aktivis HAM dan perdamaian.

“Kami mendorong upaya perdamaian dengan pengutamaan dialog dan penghentian pendekatan keamanan yang berlebihan (excessive use of force), mengingat rasisme adalah sebuah kejahatan serius yang sudah diatur dalam UU 40/2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis,” ungkap Ahmad Junaidi menutup keterangannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.