Sleman, Jurnalpublik.com – Jumlah politisi perempuan di parlemen Indonesia mencapai titik tertingginya dalam sejarah berkat inisiatif aksi afirmatif untuk mengusulkan sedikitnya 30% kursi DPR dan DPRD untuk perempuan yang dimulai pada tahun 2003.

Tapi harus diakui di banyak daerah, kuota 30% ini belum terpenuhi. Termasuk di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sleman.

Dari 50 anggota DPRD Sleman saat ini, hanya 12 orang diduduki politisi perempuan dari berbagai partai. Meski ada kenaikan dari pemilu ke pemilu, namun jumlah ini belum mewakili 30%.

Banyak juga yang meragukan kalau kenaikan proporsi itu sejalan dengan semakin tingginya perhatian terhadap persoalan yang dihadapi perempuan di Indonesia khususnya Yogyakarta.

Banyak isu persoalan-persoalan perempuan yang belum maksimal digarap oleh politisi perempuan. Hak-hak pekerja perempuan, kesejahteraan perempuan, dll.

Ratna Hadjar Hidayanti, politisi PKS daerah pemilihan 4 (Depok, Berbah) seakan ingin membuktikan bahwa perempuan bisa mengambil peran menjadi politisi dan memperjuangkan kesejahteraan perempuan.

“Perempuan masih dianggap sebagian orang sebagai individu yang lemah sehingga dalam berbagai hal perannya sering dipandang sebelah mata,” ungkap Ratna Hadjar.

“Saya yang saat ini fokus di dunia pendidikan, pendampingan ekonomi desa, dan wirausaha semoga kelak bisa memberi kontribusi untuk mengangkat hak-hak dan kesejahteraan perempuan,” pungkasnya.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.