Jakarta, Jurnalpublik.com – Ketika dakwah mulai terbuka, cara pandang beberapa ikhwah pun mulai terbuka. Bukan karena cara pandang kita tertutup sebelumnya, keadaan lah yang membuat kita harus demikian. Dan pilihan terbuka bukan karena kita tidak paham masa dakwah tertutup, justru karena kita sama-sama mengetahui dan menjalani dakwah tertutuplah yang membuat sebagian kita menerima dakwah terbuka ini. Dan tentu saja karena tahapan dakwahnya memang sudah pada tahap terbuka.

Dahulu, kita memandang lagu adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan, untuk laki-laki terlebih untuk perempuan. Tapi seiring terbukanya dakwah, lagu pun menjadi boleh. Tim nasyid menjamur, hingga band pun tak masalah.

Seperti halnya lagu, puisi pun dulu terlarang, bahkan dianggap syirik. Padahal syair Arab bukan kepalang dalam kata dan maknanya ketika menyampaikan sesuatu hal, entah itu cinta atau apapun.

Padahal lagu dan puisilah yang menjadi penyemangat pejuang kemerdekaan dahulu kala, lagu pula yang menjadi saksi sejarah perjuangan. Bengawan Solo, salah satu lagu yang meski tak menjadi lagu wajib nasional, tapi merupakan saksi perjuangan.

Kita pun punya lagu perjuangan, mulai dari ketika kita masih tertutup menyenandungkan ghuraba, hingga hari ini ketika kita sudah semakin terbuka lalu banyak yang menyanyikan lagu Padi yang sufistik.

Namun, hari ini ternyata tak semua kita terbuka dan berfikiran terbuka. Masih saja ada yang tertutup dalam bersikap dan berfikir, dan terus menyudutkan kita yang lain dengan berbagai macam label atas pilihan keterbukaannya.

Sewaktu dulu kita memulai keterbukaan, banyak sebagian dari kita yang dilabeli dengan bermacam sebutan. Yang paling umum adalah mengaitkan segala sesuatunya selalu kepada haram dan halal, tak ada kata mubah, terlebih pada kata ijtihad, jangan pernah coba keluarkan. Pintu ijtihad sudah tertutup ribuan tahun lalu.

Terlebih lagi segala sesuatu selalu dikaitkan dengan aqidah, dengan syirik. Seperti syirik toge.

Jika kita bicara seperti hal nya menyuruh orang makan toge jika ingin punya anak, pasti akan dibilang syirik toge. Padahal tidak ada niat menyekutukan Allah dengan toge. Itu hanyalah usaha tambahan lain dari usaha-usaha yang dilakukan untuk mempunyai anak. Ketetapan tentu Allah yang atur, tak diragukan lagi pastinya.

Dan kini, setelah keterbukaan berjalan cukup lama, namun kenyataannya masih seperti dahulu, masih banyak yang tertutup dan melabeli yang lain yang memilih terbuka.

Salah satunya jika ada diantara kita yang belanja di mini market akan dilabeli mendukung orang kafir. Astagfirullah.

Dan yang terbaru, tidak menerima kekalahan dalam bola pun dikaitkan dengan pembelaan terhadap umat yang teraniaya.

Saya mulai berfikir, mungkin kita perlu mengkaji ulang tentang Islam rahmatan lil’alamin, tentang ummat pertengahan, tentang adil yang lebih dekat kepada takwa, kecuali jika yang berfikir tertutup diantara kita tersebut ingin menjadi sufi.

Tapi kok kalau dilihat-lihat lagi, tidak nampak seperti sufi, lebih seperti khawarij…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.