Pertemuan AHY dan Sandiaga Uno. Foto : Tribunnews

Jurnalpublik.com – Waktu terus bergulir sementara tahapan pemilu semakin mendekat pada batas pendaftaran yakni agustus 2018. Tren terkini menunjukan kemungkinan besar akan terjadi rematch antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Bedanya Joko Widodo adalah petahana, memiliki segala fasilitas dan sarana. Sementara Prabowo adalah oposisi, masih berada dilingkaran luar pemerintahan. Elektabilitas dan akses terhadap publik tentulah diatas kertas diungguli petahana.

Namun demikian dinamika selama beberapa tahun perjalanan pemerintahan tidak semulus yang dibayangkan. Pencapaian target-target indikator ekonomi yang kurang optimal. Janji kampanye yang banyak terluputkan. Kerenggangan hubungan dengan pemeluk agama Islam. Serta beberapa blunder yang dilakukan anggota kabinet, membuat kepercayaan masyarakat makin berfluktuasi.

Meskipun rilis lembaga survey selalu menempatkan petahana masih unggul dibanding calon kompetitornya. Ditataran masyarakat bawah tetap saja merasakan gelombang kejut ekonomi yang terdampak dari kebijakan ekonomi dan politik yang kurang pro rakyat. Sebut saja kenaikan bertahap BBM padahal sudah dicabut subsidi dan dihilangkan premium, mendorong efek domino kenaikan harga dan penurunan daya beli masyarakat.

Kemungkinan terbentuknya poros ketiga masih jauh panggang dari api. Kemesraan SBY bersama Jokowi ketika Rakernas Partai Demokrat maret 2018 yang lalu mengindikasikan arah kuat Partai Demokrat (PD) bergabung dengan gerbong Jokowi. Puja puji meluncur dari PD yang diwakili Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu PD. Selain itu PD tidak memiliki pengalaman sebagai oposisi, sehingga kecenderungan kuat PD akan berlabuh kepada PDIP dan kawan-kawannya.

Namun kebiasaan petahana menyalahkan pemerintah sebelumnya sering berulang. Sebut saja terkait proyek Hambalang dan Petral. Terkini pasca kemesraan dalam Rakernas PD, Jokowi mengungkit harga BBM di Indonesia timur pada pemerintahan sebelumnya. Sontak SBY bereaksi melalui akun sosial media twitter.

Uniknya netizen Indonesia, cuitan SBY menjadi trending dengan tagar #SBYjelaskan. Mayoritas cuitan netizen bernada sinis dan olok-olok atas statemen SBY tersebut. Tagar ini ternyata merubah total atmosfir SBY dan PD yang tadinya condong kepada petahana.

Tak lama setelah kejadian tersebut. Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu PD yang juga digadang sebagai capres PD diam-diam mengunjungi Sandiaga Uno sebagai Ketua Pemenangan Pilpres Gerindra. Hasil pertemuan ini akan berlanjut kepada pertemuan SBY dan Prabowo.

Meskipun semua parpol memang sedang intens berkomunikasi menjelang Pilpres 2019. Pertemuan AHY dan Sandiaga ini membuka babak baru peluang baru AHY menjadi cawapres Prabowo. Berdasarkan beberapa rilis lembaga survey AHY sering masuk kedalam 5 besar cawapres baik bagi Prabowo maupun Jokowi.

PKS sebagai mitra setia Gerindra bergeming. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera melalui Kompas menyebutkan PKS siap ikut Prabowo jika memang akan menggandeng AHY sebagai cawapres. Jika demikian maka 9 nama yang digadang-gadang sebagai capres 2019 akan layu sebelum berkembang.

Selain itu pernyataan petinggi PKS yang menyebut PKS segajah Gerindra akan kembali pada terminologi awal, sekutu, posisinya hanya sebesar kutu dimata Gerindra. Jika kader PKS tak diambil menjadi cawapres.

Konsekuensi lainnya jika PKS tak mendapat tiket kursi cawapres adalah minimnya posisi menteri yang mungkin didapat. Jika ternyata Prabowo menang, maka seperti biasa partai-partai politik yang manja dan tak bisa hidup diluar pemerintahan seperti Golkar dll akan merubung kepada pemenang layaknya semut mengerubungi gula saat kelaparan.

Dengan alasan perolehan suara parlemen besar pun mereka serta merta akan mendapat jatah kue menteri yang besar. Tanpa berdarah dan berkeringat partai yang tidak berjuang saat pilpres bisa mendapat posisi strategis dan banyak dalam kabinet, sementara lagi-lagi PKS akan dirugikan dan agenda-agenda perjuangannya tentu akan semakin terbatasi.

Strategi menerbitkan sembilan kandidat-pun akan kandas ditengah jalan, bukannya menjadi pengungkit namun menjadi pim-pim pom hip-hip hore permainan saja. Padahal perjuangan saat Pilpres pastilah akan sangat melelahkan.

Meskipun demikian, Mardani melanjutkan dalam kesempatan yang sama, hingga saat ini PKS masih tetap dalam posisi mengajukan sembilan kadernya sebagai cawapres Prabowo. Hal tersebut tidak akan berubah meskipun PD atau partai-partai lain bergabung dalam koalisi. Mardani-pun yakin Gerindra akan tetap memilih satu dari sembilan kader PKS jadi wakilnya.

Sembilan figur yang disodorkan PKS yakni Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan; Wakil Ketua Majelis Syuro, Hidayat Nur Wahid; Mantan Presiden PKS, Anis Matta; Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman; Ketua Majelis Syuro PKS, Salim Segaf Al Jufrie; Mantan Menkominfo Tifatul Sembiring; Ketua DPP PKS, Al Muzammil Yusuf dan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.