Foto istimewa/Hidayah Sunar

Yogyakarta, Jurnalpublik.com – Puluhan aktivis KAMMI dan IMM memenuhi pelataran masjid Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk menyimak diskusi dan bedah buku “Panggilan Bersatu; Membangunkan Ummat Memajukan Bangsa” mukhtasar (ringkasan) karya-karya Buya Hamka yang ditulis oleh Yusuf Maulana. Diskusi ini diselenggarakan atas kerjasama KAMMI dan IMM UNY. Hari pelaksanaan diskusi ini juga bersamaan dengan Buya Hamka ditangkap oleh aparat yang tidak senang dengan dakwah Buya Hamka (10/1).

Yusuf Maulana dalam paparannya di diskusi tersebut mengatakan, “Tidak hanya sekarang ada ulama yang  berpendapat ‘nyeleneh’, di zaman Buya Hamka sendiri hal itu terjadi. Sebagaimana diungkapkan Hamka, ada salah satu ‘ulama’ dari salah satu Negara bagian tanah Melayu yang menyatakan pengiriman orang ke ruang angkasa atau pengiriman sesuatu ke bulan adalah melanggar ketentuan agama Islam.

Dasar ulama tersebut adalah tafsiran pada nash agama, sebagai berikut: “Sebab, dalam satu kitab disebutkan bahwa manusia baru dapat sampai ke bulan ialah dalam masa 500 tahun. Masih kata ulama tersebut, langit pertama terdiri dari firuz, langit kedua dari zabarjad, langit ketiga dari mutiara yang amat putih, dan seterusnya.”

“Kesenjangan pengetahuan dunia tersebut menggambarkan bagaimana kondisi ummat. Apa yang bisa diharapkan dari seorang ulama  yang tidak jeli melihat persoalan duniawi? Mencegah sana-sini hal-hal yang sebetulnya bukan wilayah agama? Inilah yang dicemaskan Hamka. Ummat sudah berkerak dalam berfikir. Sudah kadung menikmati menjadi pengekor (muqallid).”

Dalam posisi sebagai bagian yang menyokong ide-ide para tokoh “pembaharu”, Hamka tak berarti masuk dalam ta’ashshub golongan. Melalui tulisan-tulisannya yang dibuat sepanjang 1954-1964, akan terlihat bagaimana ia memosisikan diri. Sekalipun mengkritik taqlid dan ashabiyah golongan, Hamka tidak lantas menjadi sosok garang tukang memvonis. Ia justru sebaliknya, menghadirkan ajakan persatuan sembari ‘mengobati’ penyakit ummat. Salah satunya adalah membuka perbincangan masalah khilafiyah.

“Buku ini disusun berangkat dari kesadaran menggali khazanah ulama. Tema persatuan ummat tidak henti digali dan disebarluaskan. Bukan semata untuk dibaca, melainkan juga dihayati dan diamalkan. Tulisan seorang ulama besar di Nusantara seperti Hamka amat sayang apabila terluputkan. Lebih-lebih yang masih jadi titik lemah persoalan ummat saat ini, yakni persatuan. Perpecahan masih mudah ditemui di sana-sini. Kiranya dengan menyimak tuturan bijak, atau kadang teguran menyentuh, dari Hamka, ummat bisa tersadarkan”, ungkap Yusuf Maulana yang juga pemilik Samben Library.

Buku ini menarik karena menghadirkan beberapa redaksi khas Melayu. Yusuf Maulana beralasan, menggunakan teks Melayu karena bahasa Melayu ditakuti oleh penjajah pada masanya.

Rasanya tidak berlebihan jika menilai kehadiran buku ini tepat hadir di tengah-tengah kondisi perpecahan yang disebabkan oleh internal ormas (kelompok) itu sendiri, perpecahan yang disebabkan provokasi ormas dakwah lain dalam hal (khilafiyah) dan perpecahan yang direkayasa oleh ‘oknum’ yang tidak senang dengan kondisi umat Islam bersatu.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar Anda!
Silahkan isi nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.